Pelajaran PPKN itu

Hari ini Yudhis kalah dan terkapar. Bukan oleh mata pelajaran matematika, IPA, IPS, atau bahasa Inggris. Tapi oleh pelajaran PPKN, hehehe

Ceritanya, hari ini Yudhis mau belajar matematika dan PPKN. Pelajaran matematika sudah berhasil dia selesaikan mengenai FPB dan KPK. Menjelang makan siang, aku bertanya kepadanya.

“Kapan rencana belajar PPKN-nya, Dhis?” Aku lihat Yudhis hanya mondar-mandir sambil main setelah belajar matematika.
“Iya pak, nanti,” jawab Yudhis ogah-ogahan. Tapi dia kemudian ngeloyor ke kamar.

Tak berapa lama, dia keluar. Rupanya dia baru saja membaca buku PPKN-nya.

“Susah pak. Aku nggak ngerti,” keluh Yudhis.
“Kamu sudah baca?” aku bertanya.

“Sudah. Tapi aku nggak ngerti maksudnya apa. Banyak kata-kata yang aku nggak ngerti.”

Saat makan siang, Yudhis mengajak kami untuk main mencari jejak. Tapi Lala menantang Yudhis dan Tata untuk ganti membuat soal mencari jejak.
“Minimal lima petunjuk, ya?” kataku.

Usai makan siang, Yudhis langsung lari ke kamar. Kelihatannya dia sudah siap mau membuat soal mencari jejak. Tapi aku meneriakinya.

“Jangan lupa PPKN-nya ya, Dhis?!” teriakku.
“Oke pak,” jawab Yudhis dari dalam kamar.

Lama tak keluar dari kamar, aku bertanya kepada Tata. “Kakak Yudhis lagi ngapain, Ta?”
“Tidur,” jawab Tata.

Hehehe… ternyata Yudhis tumbang. Biasanya dia jarang sekali tidur siang. Tapi begitu kena buku PPKN, dia langsung mengantuk dan tidur siang…

**

Mengapa ya materi buku PPKN tidak menarik dan sulit dicerna anak-anak? Apa sih yang mau dituju oleh kurikulum PPKN itu? Membuat anak-anak cinta dengan negerinya, bukan? Atau sekedar hafal seluruh nama, hari, dan peristiwa-peristiwa penting di zaman kemerdekaan yang lalu saja?

Duh.. inginnya aku mengajarkan cinta negeri ini dengan cara yang menyenangkan untuk anak-anakku…

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. setuju Mas Aar…
    gimana ya membuat pelajaran PPKN jadi bermakna, bukan hanya hapal mati lalu dilupakan?

  2. gita lovusa says:

    yudhis belajar dari buku teks PPKn gitu, mas aar?
    belajar mencintai negeri ini mungkin bisa dari kunjungan ke berbagai museum dan obyek wisata kali ya (bisa ngorek sejarah juga dgn ngobrol dengan guide di sana). kalo ttg sejarahnya, dari novel mungkin ๐Ÿ™‚ saya jadi tertarik sama sejarah dan obyek wisata di jakarta setelah baca novel Adriana; Labirin Cinta di Kilometer Nol. reviewnya bisa dibaca di: http://lovusa.multiply.com/reviews/item/41

  3. Ratna: iya mbak… kami sedang mencari cara utk memenuhi kebutuhan akademisnya. Sekarang saya meluangkan waktu dengan Yudhis untuk mengobrol tentang sistem kenegaraan. Tapi rasanya memang masih ada yg ngganjel melihat textbook yang susah dicerna itu. Mungkin asyik kalau ada film/video ttg ini. Ada nggak ya? ๐Ÿ˜ณ

    Gita: terima kasih mbak Gita atas idenya. Novelnya kayaknya menarik ya mbak.. kalau membaca resensi mbak Gita, mirip novel Da Vinci Code-nya Dan Brown yg membuat kita terbayang2 kota Paris dan Vatican dan lokasi-lokasi yag disebutkannya? ๐Ÿ™‚

  4. Mas Aar,

    Anda memiliki parental right unt.menentukan kurikulum anak. Apa ya perlu belajar PKn? Bila Anda tidak akan mengirim anak kembali ke sekolah, PKn bisa ditunda. memupuk anak cinta bangsa tidak hrs lwt textbook yg spesifik itu. Anda pasti sdh tahu hal ini. Take it easy. Anak kita tidak akan kehilangan keselamatan kekal hanya krn tidak belajar PKn. Mungkin lbh seru bila Yudhis dperkenalkan dan diijinkan mewawancarai orang2 spt Franz Magnis Suseno, ibu Karlina, atau Ester Jusuf (ada di FB saya, bisa langsung add). Atau ke rumah Pak RT, RW, Kantor Lurah, Camat, Polsek.

    Saya tidak memberikan PKn bukan krn saya di sini ttp krn perlu rekonsiliasi dg diri
    sendiri dulu . Juga tidak US History sekrg ini. Nanti aja kalo anak sdh SMA dan worlviewnya sdh lbh terbentuk.
    Hope this helps. Tuhan memberkati Anda sekeluarga.

  5. Mbak Loy,
    Terima kasih mbak untuk sharingnya yang membantu..

    Yup, we’ve decided to exercise our parental right. Kami sudah memutuskan untuk mengajarkan kecintaan anak-anak pada negerinya dengan cara yang lebih menyenangkan. Itu hal yang lebih penting daripada segala macam teori di textbook. Mengenai pengetahuan ketatanegaraan, kami memilih berjalan dengan lebih natural, melalui pengalaman sosial yang kami alami sehari-hari.

    Thanks mbak. Semoga Tuhan memberkati mbak Loy dan keluarga. Amin. ๐Ÿ™‚

  6. gita lovusa says:

    iya, mas aar. mirip2 seperti itu. tapi di novel ini dikemas dalam bungkus tiga remaja yang saling naksir ๐Ÿ™‚
    yang saya kagumi dari novel ini. selain dari isinya yang sarat akan kebudayaan dan sejarah jakarta, terus teka-teki cerdasnya, juga kedua penulis mudanya yang memang hobi sekali mengunjungi tempat2 bersejarah di jakarta dan mempelajarinya. bahkan mereka membentuk semacam kelompok cinta budaya jakarta bernama Hermesian.

  7. Wow,,, menarik sekali. Jadi pengin baca novelnya…
    Terima kasih mbak Gita untuk informasinya.. ๐Ÿ˜ฎ โžก

  8. pendidikan sekarang harusnya jangan menjurus kepada pengkotak-kotakan atau membatasi anak untuk bisa saling memahami, menghargai dan peduli satu sama lain.
    misalkan gini, satu genk, akan merasa saling memahami dan peduli hanya satu genk saja. ketika salah satu teman genknya diejek oleh orang lain, teman yang lain akan tidak terima setengah mati. begitu yang diejek bukan teman satu genknya dia ga peduli. tentunya lingkup ini akan sangat sempit.sama halnya dengan pelajaran patriotisme dan nasionalisme. kita diajarkan untuk membela mati-matian negara kita. nah ketika negara lain mau mati, kita tidak bisa berbuat apa2 bahkan tidak peduli. yang penting negra sendiri aman. ini juga lingkupnya masih kecil.nah lalu apa yang bisa mencakup atau mengajarkan kepedulian sedunia? yaitu ukhuwah islamiah. tak peduli dimana sukunya, dimana negranya, apa rasnya apa bahasanya, ketika ada penghinaan terhadap 1 orang saja, maka orang lain sedunia akan bisa membelanya.imbas tidak diterapkannya ukhuwah islamiah adalah, kita mudah diadu domba. misal indonesia malaysia diadu domba dengan perebutan kebudayaan, bahkan ada yang niat sekali menantang perang. tidak tahukah mereka kalau malaysia adalah negara islam, sama seperti indonesia yang mayoritas islam, kalo terjadi perang, perang saudara namanya. 1 lagi, andai saja ukhuwah islamiyah diterapkan di dunia, maka tidak akan ada alasan bantuan dari luar negri dilarang masuk ke negara palestina ketika perang.

Tinggalkan komentar Anda

*

Close