Pelajaran Beres-beres Rumah

Kemarin, saat sarapan pagi bersama Eyang Putri bertanya,”Apa jadwal belajar anak-anak hari ini?”
“Seperti biasa, bu,” jawab kami.

“Bisakah jadwal belajar anak-anak hari ini adalah membantu Eyang Putri membereskan lemari dan barang-barang?”

“Bisa, bu. Tak masalah.”

Lalu, Yudhis dan Tata pun mengubah jadwal kegiatannya. Yang biasanya kegiatan dimulai dengan IXL Math dan kegiatan lain, hari ini berubah menjadi kegiatan belajar menjadi asisten Eyang Putri. Abby yang baru turun dari kamarnya dengan membawa laptop pun kemudian bergabung bersama Yudhis dan Tata.

Yudhis, Tata, dan Abby membantu Eyang Putri menggeser meja dan TV, merapikan benda-benda yang ada di dalam lemari, mengambil keramik dan membersihkanya, dan lain-lain. Diselingi makan siang, mereka melakukannya pekerjaan itu hingga sore.

***

Inilah salah satu contoh keseharian homeschooling yang kami jalani. Melakukan pekerjaan rumah termasuk dalam materi belajar yang penting bagi kami. Kegiatan ini tak kalah penting dibandingkan belajar mata pelajaran.

Kalau dalam model belajar yang umum di masyarakat, anak dibebaskan dari pekerjaan rumah agar bisa belajar mata pelajaran. Kelihatannya bagus dan masuk akal. Tapi efek samping yang sering muncul adalah anak-anak yang cerdas, tetapi saat dewasa tidak terampil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah.

Kami tidak menginginkan hal yang semacam itu. Oleh karenanya, pekerjaan rumah menjadi bagian penting dalam proses pendidikan anak-anak. Bahkan, jika diperlukan, ada saat-saat di mana materi pelajaran dikalahkan oleh kegiatan melakukan pekerjaan rumah sebagaimana kegiatan membantu Eyang Putri.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Bagus sekali ada pelajaran ini ! Boleh tanya bgmn cr menghadapi kakek nenek yg tdk setuju cucunya homeschooling ? Kalau eyang putri langsung setuju kah ? Terimakasih

    • Eyang dari Lala setuju dan mendukung. Ibu saya tidak setuju. Pendekatan yg kami gunakan lebih banyak mendengarkan dan menerima saja komentar beliau (tapi tetap HS jalan terus). Sesekali menjelaskan tentang concern2 beliau (biasanya tentang ijazah dan sosialisasi). Ketika melihat cucunya tumbuh wajar dan tak beda dg anak2 sekolah, keberatan itu semakin turun seiring bersama waktu. 🙂

  2. wah, aku suka sekali beres2 😀 selain belajar di rumah, aku juga berkerja di rumah, lho 🙂 dari tempat kecil aku bisa dapat banyak hal. nice blog :))

Tinggalkan komentar Anda

*