Panen Buah Ceri

Pohon cerry atau biasa disebut kersen atau talok yang ditanam setahun yang lalu sudah mulai berbuah. Pohon cerry itu ada di tanah kosong sebelah rumah yang dipinjamkan oleh pemiliknya untuk kegiatan Klub Oase.

Untuk menjangkau pohon cerry, kami tinggal masuk melalui pintu darurat yang ada di depan rumah. Begitu masuk tanah kosong, pohon cerry yang rindang langsung kelihatan di hadapan. Dan jika pohon itu sedang banyak berbuah, warna merah cerah buah cerry langsung kelihatan bersembulan dari dahannya yang menjulang rindang ke bawah.

Alkisah, cerry berbuah sepanjang tahun. Kalau hujan dan diikuti panas terik, biasanya banyak sekali buah cerry yang matang dan kemerahan di pohon.

***

Duta-ceri02

Duta tak mau menyebut buah itu cerry, kersen, atau talok. Dia menyebutnya “merah”. Betapapun kami mengajarnya untuk menyebut nama buah itu dengan benar, Duta tetap bersikukuh dengan sebutannya sendiri.

“Aku mau petik merah,” kata Duta, biasanya usai sarapan pagi.

Sementara Duta membawa kotak untuk tempat buah cerry hasil panen, aku membawa tangga untuk memudahkan Duta mengambil buah cerry. Tak lupa, Tata biasanya ikut memetik cerry bersama Duta. Keduanya berlarian dan tertawa gembira melihat buah-buah ceri merah yang bergelantungan di pohon.

“Itu merah!” seru Duta setiap kali melihat buah ceri yang matang di dahan. “Aku mau ambil. Bapak bawa sini tangganya.”

Hal-hal seperti ini kelihatannya sederhana. Tapi kami sungguh menikmatinya. Ini adalah momen kebersamaan bersama anak-anak dan juga tawa lepas mereka menikmati rebutan memetik pohon ceri.

Bahagia itu murah dan sederhana.

ceri-tata02

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close