Obrolan tentang kemacetan Jakarta

Percakapan yang terjadi pada suatu malam di meja makan.

“Nggak deh belanja hari kerja,” kata Lala mengeluhkan beratnya berangkat ke pasar pagi bersamaan dengan jadwal masyarakat pergi ke kantor.

“Macetnya nggak tahan. Kita belanjanya weekend saja ya, Dhis,” kata Lala di meja makan saat kami makan malam bersama. Lala memang biasa mengajak Yudhis untuk ke pasar. Di pasar, Yudhis bertugas membawa belanjaan dan sesekali mendapat tugas belanja di suatu tempat. Kegiatan seperti ini sudah berbulan-bulan dijalani Yudhis.

“Iya, bu,” Yudhis menimpali. “Masak ke pasar yang dekat saja hampir 1 jam.”

Lalu, mulailah percakapan antara Yudhis dan Lala yang terjadi sambil makan malam.

“Bayangkan kalau orang ngantor setiap hari, Dhis. Berapa waktu yang habis di jalan.”

“Aku pernah baca, sekitar 2 bulan dalam setahun waktu orang Indonesia habis di jalan,” kata Yudhis menambahkan cerita dari pengetahuan yang dibacanya.

“Jakarta barangkali, Dhis?”

“Iya kali ya, bu…”

***

(c) aminfadillah.blogspot.com

(c) aminfadillah.blogspot.com

Dalam suasana santai dan diselingi berbagai obrolan lain, percakapan itu masih terus berlanjut.

“Nah, coba kamu hitung sendiri,” kata Lala kepada Yudhis. “Eyang Noce itu berangkat ke kantor jam 05.30 dari rumahnya di Cibubur. Kalau sampai kantor jam 08.00. Berapa jam waktunya yang habis di jalan? Belum lagi kalau pulang.”

“Wah, berangkat saja sudah habis 2.5 jam ya, bu. Kalau pulangnya segitu juga, berarti 5 jam waktu sehari yang dipakai jalan pulang-pergi ke kantor.”

“Coba kita hitung. Misalnya 3 jam saja habis di jalan, berapa hari yang habis di jalan selama setahun?”

Yudhis berfikir,”3 jam x 365 hari… Terus dibagi 12…”

“Gini aja yang gampang, Dhis,” kata Lala. “3 jam/24 jam x 30 hari.”

“Oh iya ya, lebih gampang. Berarti 1/8 x 30. Hasilnya 3.5 hari dalam sebulan waktu habis di jalan.”

“Nah, kalau satu tahun?”

“3.5 hari x 12 bulan = 36 ditambah 6 = 42 hari. Wah… hampir satu setengah bulan ya…”

“Itu tadi kalau tiga jam sehari pulang pergi ke kantor. Kalau empat jam?”

“4/8 x 30 …..” Yudhis mencoba menghitung ulang dari awal.

“Jangan begitu. Tadi kan sudah ketemu hasilnya untuk 3 jam, yaitu 42 hari. Kalau 4 jam, berarti 4/3 x 42. Berapa hasilnya?”

“3 sama 42 bisa dicoret jadi 14. Berarti 4 x 14 = 56 hari. Hampir 2 bulan.”

“Kalau 5 jam waktu perjalanan pulang-pergi kantor plus makan siang dan lain-lain?”

“Berarti 5 x 14 = 70 hari. Wah.. lebih dari 2 bulan ya waktu dalam setahun yang hilang di perjalanan.”

***

Percakapan di atas adalah contoh proses homeschooling yang kami jalani di rumah yang salah satu tiangnya adalah belajar melalui keseharian. Materi percakapan itu masih terus berlanjut dengan diskusi tentang kemacetan, tantangan para pekerja Jakarta, pilihan bekerja ke kantor vs bekerja di rumah, dan lain-lain.

Model belajar semacam ini bersifat informal, tak terencana, sangat tergantung pada “learning opportunity” yang muncul pada saat kita bercengkerama bersama anak-anak. Waktunya pendek, mungkin tak sampai 15 menit, tapi intens dan sangat sering terjadi.

Proses belajar semacam ini bisa dilakukan siapapun.

Mau mencoba?

 

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close