Obrolan bersama Prof Yanuar Nugroho

Dapoer Tempo Doeloe

Asyik. Semalam makan malam dan ngobrol bersama mas Yanuar Nugroho di “Dapoer Tempo Doeloe” (was: “Dapoer Mahakam”).

Cukup banyak yang hadir bersama semalam: mas Faizal Kamal & mbak Mella, mbak Wiwiet, mbak Mira dan mas Dodi, mbak Iiek dan mas Rio, serta mbak Ichie dan mas Wangsit. Ada anak-anak yg ikut juga makan dan bermain bersama.

Walaupun kami pernah satu almamater, tetapi aku pertama kali berkenalan dengan mas Yanuar Nugroho justru dari milis Sekolah Rumah, setelah sebelumnya mengenal mbak Ira, isterinya. Aku biasa memanggilnya mas Yan. Tapi di luar sana, beliau biasa dipanggil dengan sebutan Profesor Yanuar karena beliau menjadi pengajar di Manchester Business School, the University of Manchaster. Di usianya yang masih sangat muda, beliau telah meraih prestasi internasional yang luar biasa. Kisah tentang beliau dapat dibaca di sini, sini, dan sini serta juga di blog personalnya.

***

Kami beruntung karena di tengah jadwal yang sangat padat mas Yan dalam kunjungannya ke Indonesia kali ini, kami mendapat kesempatan “nyempil” dari pukul 17.00-21.00. Pukul 21.00, mas Yan harus memberikan kuliah jarak jauh lagi untuk para mahasiswanya di Manchester.

Padahal, acara bersama kami sebenarnya tidak penting. Betul-betul cuma kangenan, makan, dan ngobrol santai, terutama tentang homeschooling yang telah mempertemukan kami. Ya… mas Yanuar dan mbak Ira menjalankan homeschooling atau di Inggris lebih dikenal dengan sebutan home education untuk Aruna dan Nara, putra-putri mereka.

Obrolan di rumah makan “Dapur Tempo Doeloe” yang sangat rumahan di Jl. Lamandau III No. 5 berjalan santai, tapi juga sekaligus padat. Karena tak ada agenda khusus, obrolannya sangat lebar, mulai cerita-cerita tentang pribadi, keluarga, proses homeschooling di Inggris, dan berbagai isu tentang pendidikan & sosial.

Mas Yan bercerita tentang bagaimana keluarga homeschooling di Inggris belajar dan mengorganisir proses pembelajarannya. Selain proses belajar bersama keluarga, mereka mempunyai kegiatan-kegiatan yang secara periodik diorganisir oleh komunitas untuk kegiatan tertentu, seperti sains, gathering dan lain-lain.

Nah, yang disebut komunitas homeschooling di Inggris itu berbeda dengan di Indonesia. Kalau di Inggris, yang disebut komunitas itu kumpulan keluarga, bukan sebuah lembaga yang menyediakan jasa pendidikan tertentu. Konsepnya mirip “arisan” atau “koperasi” di Indonesia. Jadi, dalam komunitas homeschooling itu yang mengajar bergantian diantara orangtua, sesuai dengan keahliannya masing-masing. Biaya kegiatan ditanggung bersama. Jadi, bukan membayar, terus kemudian orangtua titip anak untuk diajari seperti yang sering terjadi di Indonesia.

Mas Yan juga bercerita tentang kegiatan HESFES (Home Educator Festival), ajang kemah bersama para keluarga home education di Inggris. Kegiatan ini non-komersial, tanpa sponsor, dan dikerjakan bersama-sama para keluarga homeschooling. Tahun 2011 ini adalah acara Hesfes yang ke-14 dan  pesertanya ada sekitar 1000 orang yang berkemah dan berkegiatan bersama selama 1 minggu. Betul-betul seru. Cerita lengkap dan seru tentang festival keluarga homeschooling Inggris ini bisa disimak dari penuturan mbak Ira tentang HESFES 2011.

***

Obrolan santai tapi betul-betul seru

Mas Dody menceritakan tentang proses belajar komputer yang lebih banyak didapatkan di Glodok dibanding di kampus.

Duo Y = Yudhis & om Yanuar

Serasa ikut kuliah privat ^_^

Diantara obrolan tentang homeschooling yang dijalani mas Yan dan mbak Ira, beliau menceritakan tentang bagaimana mereka menjalani pendidikan untuk anak-anaknya. Di rumah, mbak Ira yang sangat peduli dengan materi-materi organik sangat mengedepankan proses pendidikan yang berbasis alam dan fisik, hands-on activities.

“Saya sepakat dengan Ira tentang hal itu,” kata mas Yan. “Menurut saya, teknologi itu bisa diajarkan dengan cepat kepada anak-anak. Yang lebih penting adalah membuat anak tidak tercerabut dari akar realitas keseharian dan sosialnya.”

Suasana Dapoer Tempo Doeloe yang seperti rumah membuat anak-anak asik bermain

Kebetulan, salah satu bidang riset mas Yan adalah mengenai keterkaitan antara teknologi (Internet & telekomunikasi) dengan realitas sosial di masyarakat. Menurut mas Yan, anak-anak tidak boleh lepas dari akarnya ketika mereka belajar dengan berbasis teknologi. Sebab, terkadang anak-anak yang belajar berbasis teknologi itu sudah merasa lengkap, padahal pengetahuannya belum tentu lengkap karena ada jarak antara teknologi dengan realita.

Mas Yan memberikan contoh mengenai anak-anak yang belajar menanam pohon di dunia virtual. Ketika mereka menguasai simulasi tentang menanam pohon, bukan berarti mereka bisa menanam pohon. Sebab, pengalaman menanam pohon di dunia virtual berbeda dengan realitas ketika mereka diberikan sekop, tanah, dan bibit yang harus mereka tanam dan pelihara.

Dalam tataran yang lebih filosofi, mas Yan bercerita tentang ketercerabutan antara para pelajar dengan realitas sosialnya. Materi yang dipelajari hanya bersifat abstrak/teoritis dan tak dirasakan keterkaitannya dengan dunia nyata sehari-hari. Akibatnya, ketika mereka menjadi penguasa atau profesional, mereka mengambil keputusan-keputusan yang tidak menjejak ke realitas masyarakatnya.

Untuk membangun hubungan antara pengetahuan dan realitas,dalam pelatihan terhadap para dosen peneliti di Yogyakarta, mas Yan meminta para peserta pelatihannya untuk live-in, tinggal bersama masyarakat yang ditelitinya. Jadi, para peserta diminta menginap selama semalam di pinggiran Kali Code, di lingkungan pekerja seks, di kalangan para pemulung, dan lain-lain. Pengalaman hidup bersama -walaupun hanya selama satu malam- ternyata memberikan “pengalaman” sangat berharga yang mempengaruhi para peneliti tersebut. Mereka tak hanya berbicara tentang data statistik dan konsep yang kering, tetapi hatinya menjadi lebih “basah” dan lebih tajam karena terasah oleh realitas yang pernah menyentuh hatinya.

***

Banyak lagi sebenarnya obrolan dan inspirasi dari pertemuan tadi malam. Kalau dituliskan pasti jadi panjang lebar. Yang aku tahu pasti, semua yang hadir di sana mendapatkan sesuatu dari pertemuan tadi malam.

mas Yanuar dengan keluarga Kamal

Ngobrol yang asik, menyenangkan, santai tapi sangat padat.

Sampai jumpa lagi mas Yan. Terima kasih atas waktunya.

Terima kasih mas Yan. Mudah-mudahan bisa segera ketemu di lain waktu, juga dengan mbak Ira bersama Aruna dan Nara.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. ikut senang dengar cerita mbak lala, kapan ya mas yan mampir ke Surabaya 🙂

  2. Wah aku wawancara via email eh ini bisa ngobrol sama Mas Yanuar
    Sungguh beruntung

  3. Senangnya…!!!
    Banyak Inspirasi dan pandangan kedepan untuk beberapa Program belajar n berlatinya duo ali, terimakasih banyak liputannya dan Hasil foto keluarga kami mas< semoga semakin SUKSES

Tinggalkan komentar Anda

*

Close