Musikalisasi Puisi Helvy Tiana Rosa – Sajak Februari

mata-ketiga-cintaWalau tampang nggak romantis gini tapi aku termasuk penyuka puisi, terutama puisi yang disenandungkan.  Beberapa minggu yang lalu tante Ari Peach menyarankanku untuk ikut lomba #musikalisasipuisihelvy yang diadakan oleh bunda Helvy Tiana Rosa. Tapi berhubung piano midi sudah duduk manis di rak, jadinya kok ya hari berlalu begitu saja (bilang aja males bongkar-bongkar kabel.. hehe).

Siapa Helvy Tiana Rosa?

Bagi yang belum tahu, Helvy Tiana Rosa adalah seorang penulis produktif yang juga dosen di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Lebih dari 50 buku sudah ditulis oleh Helvy, beberapa diantaranya sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing seperti Inggris, Arab, Perancis, Jerman, Jepang dan Swedia.

Helvy adalah pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) yang ia dirikan 1997 dan telah melahirkan banyak penulis muda.

Berbagai liputan media massa telah banyak menulis tentang Helvy. The Straits Times menyebutnya Pionir (2002), Republika menyebutnya Pelopor Sastra Islam Kontemporer Indonesia (2002) dan Koran Tempo menjulukinya sebagai Lokomotif Penulis Muda Indonesia (2003).

Mencipta Lagu dari Puisi

Karena kesibukan berbagai hal, aku sudah melupakan urusan mencipta lagu dari puisi alias musikalisasi puisi bunda Helvy Tana Rosa seperti yang disarankan tante Ari Peach sekitar sebulan yang lalu.

Tapi siang ini tante Ari kembali mengingatkan aku via inbox FB kalau hari ini adalah hari terakhir untuk memasukkan musikalisasi puisi. Waaa, kekejar nggak ya? Soalnya sampai tadi siang sama sekali belum kebayang  mau menyanyikan puisi yang mana. Aku juga sudah lama tidak merekam lagu baru untuk Pelangi Nada.

Tapi puisi karya bunda Helvy memang mengalir, baru dibaca sebait langsung “tring” kebayang nadanya. Setelah pilih-pilih akhirnya aku memutuskan untuk memusikalisasikan “Sajak Februari”, salah satu puisi dalam buku “Mata Ketiga Cinta“.  Puisinya memang panjang, tapi rasanya nadanya paling mengalir deras di kepala, jadi kupikir aku coba saja.

Nggak disangka ternyata prosesnya lumayan cepat. Baru mulai setelah urusan makan siang beres dan menjelang maghrib sudah siap diunggah ke Youtube (sebagai salah satu syarat lomba).

Kejutan dalam Proses

Proses pembuatan lagu berjalan mulus. Tapi proses selanjutnya ternyata tak seperti yang kubayangkan.

Salahnya orang seperti aku itu adalah nggak teliti membaca peraturan. Menjelang proses unggah video baru ke Youtube, aku baru baca-baca Facebooknya bunda Helvy. Eh, ternyata salah satu syarat mengikuti lomba adalah “BERKELOMPOK”.

Lhaaaa, padahal lagu ini aku buat sendirian dari awal sampai akhir. Sudah last minute begini, mau berkelompok sama siapa coba? hehehe..

Ya, sudah mungkin memang belum jodoh untuk mengikuti lomba musikalisasi puisi bunda Helvy Tiana Rosa. Jadi, anggap saja ini latihan untuk membuka diri terhadap nada dan menyegarkan kembali proses pembuatan lagu.

Tapi karena sudah terlanjur aku buat, aku tetap mengunggah #musikalisasipuisi ini ke Youtube. Yaaaa… siapa tahu bunda Helvy punya waktu untuk lihat video #musikalisasipuisi ini trus suatu hari ngajak aku kolaborasi atau manggung bareng gitu #hayaash. Hehehehehe 😀

Sajak Februari
Oleh: Helvy Tiana Rosa

1
cinta adalah rasa
yang kuucap dalam setiap desah
dan cuaca
tak sampai-sampai getarnya padamu

2
setiap hari embun meneteskan kesetiaannya pada pagi
seperti aku yang tak pernah berhenti menari
dalam mimpi tentangmu
dan jatuh

3
maka kutanyakan pada mungkin
ia memandangku dengan mata kaca
mengecup luka dan berkata
pergi dan pakailah kerudung airmatamu
sebab tak ada tempat untuk cinta di sini

4
Engkaukah itu yang berkata?
Semua pejalan di bumi, semua pencinta
pasti akan menderita
tapi bagaimana agar tiap gerak berarti
hingga malaikat pun sudi mengecup
semua luka kita yang mawar

engkaukah itu yang berkata, cinta?
sementara diam-diam kita berikan
keping luka dan risau kita
pada angin yang tak desau

5
Di dalam bis yang membawa banyak orang,
Kau cari aku hari itu.
Tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu sejak pertemuan pertama kita
Mengapa kau sisakan peta buram yang sama
hingga aku tak pernah bisa menatap punggungmu

Di antara dinding dingin di sekitar kita
kau cari aku hari itu
tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu bermusim-musim
dan selalu hanya pilu
yang memeluk dan membujukku
Pulanglah, kau sudah begitu lelah

6
Begitulah
kata telah lama berhenti
pada napas dan airmata
Di manakah kau, di manakah aku?
Labirin ini begitu sunyi
dan cinta terus sembunyi

7
Seperti gelombang yang setia pada lautan
aku telah lama kau campakkan
ke pantai paling rindu itu
tapi sebagai ombak aku memang harus kembali
meski dengan luka yang paling badai

8
Begitulah perempuanmu
memintal lalu menguraikan kembali
kenangan di sepanjang jalan kaca yang retak itu
Kau mungkin lupa pernah
menitipkan kilat asa di mataku
yang menjelma beliung
namun tak perlu bulan, lilin atau kunang-kunang
selalu kutemukan jejak juga napasmu
di jalan raya kehidupanku

Membayangkan wajahmu aku pun bermimpi
tentang matahari lain yang menyala suatu masa
Mungkin kita bisa saling memandang lama
melepas beliung abai yang menyiksa selama ini

9
Aku telah berjuang untuk melupakanmu

Seperti baru kemarin kau datang dan kita bicara
sambil menatap ubin, dinding dan pohon jambu itu
Kau bilang tak mungkin, sebab
ada yang lebih penting kau selesaikan

Seperti angin yang tak sadar disapa waktu
aku berpura tak mendengar
Dia akan datang, kataku.
Tapi katamu, kau akan datang setelah urusan selesai.
Bagaimana kalau dia yang tiba lebih dahulu?
Siapakah yang harus kuabaikan?
Siapa yang perlu kulupakan?

Kita terdiam mengamini ubin, dinding dan pohon jambu
suara sapu ibu kos di ruang tamu, kendaraan lalu lalang
beberapa mahasiswa dengan jaket kuning melintas
mungkin sebentar lagi gerimis

Dalam sepi itu tiba-tiba kita pun teringat
perkataan seorang sahabat
Katanya kita punya sesuatu, semacam hubungan indah,
yang tak bisa dirumuskan

Ketika kau pulang senja itu
aku tahu mungkin kita tak akan berjumpa lagi
untuk waktu yang lebih dari lama
Menyakitkan, tapi bukankah
tak semua kebersamaan
harus jadi monumen
kadang lebih baik dibuang
biar usang dalam tong sampah

10
Dan akhir adalah permulaan
kau aku tak pernah menapaki mula
juga mungkin tak pernah sampai
pada selesai
seperti puisi yang kutanam
di kuntum hatimu

11
Hai
katamu aku tetap perempuan itu
tak henti menyelami lautan huruf
demi yang Maha Cinta

dan kau sangat tahu
atas nama cinta pula
telah kuputuskan berhenti
menuliskan kenangan tersisa
titik tanpa koma
pada Februari ke lima

Depok, 1995

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. Linda Octaviana says:

    Prok prok proook….. kereeen Mba Lala!

Tinggalkan komentar Anda

*

Close