Minggu #1 Tantangan Klub Oase

Tanpa terasa, sudah 1 minggu perjalanan tantangan yang dibuat Klub Oase kepada para orangtua untuk membuat dokumentasi/foto kegiatan anak selama 30 hari berturut-turut. Aku melihat, banyak hal-hal menarik dari perjalanan satu minggu pertama ini. Berikut ini beberapa catatan hasil pengamatanku dari Facebook Klub Oase.Β 

Hari#9 Tantangan Klub Oase

a. Respon yang Luar Biasa
Tenyata kegiatan ini mendapat respon luar biasa. Teman-teman yang sudah mengenal Klub Oase dengan antusias mengikuti. Mereka mengajak teman-temannya yang lain untuk ikut tantangan ini. Terjadilah lingkaran baru pertemanan yang terus membesar.

Hingga hari ini, masih ada terus peserta yang baru memulai walaupun resminya tantangan ini dimulai tanggal 1 Agustus. Tapi tak apa, yang penting bagi peserta baru adalah langsung dimulai saja. Daftar peserta yang tercatat oleh tim Oase ada di sini.

Peserta kegiatan ini sangat beragam, baik posisi geografis tempat tinggalnya, usia anaknya, serta latar belakang sosialnya. Dari sisi pendidikan anak, ada yang homeschooling, ada yang sekolah. Tak ada masalah. Semua boleh ikut. Karena benang merah tantangan ini adalah tentang pendidikan, anak, dan keluarga.

b. Berkegiatan dan Bersama
Bahagia melihat semua peserta menikmati dan bersemangat menjalani tantangan ini. Mereka bercerita tentang proses belajar yang mereka jalani. Proses belajar ini menyenangkan karena dilakukan bersama-sama sehingga semangat belajar terus terjaga.

Dari tantangan 30 hari Klub Oase ini, banyak yang bercerita bahwa yang belajar bukan hanya orangtua, tetapiΒ  anaknya pun tak mau kalah. Seperti mbak Devi Yudhistira yang sulit belajar scrapbooking karena komputernya digunakan terus oleh putrinya -Rahma- untuk belajar membuat scrapbook.

Yang terlibat dalam tantangan ini pun bukan hanya Ibu-ibu, ada juga bapak-bapak yang terlibat aktif seperti mas Seno. Di luar itu, banyak bapak-bapak yang kelihatannya menjadi supporter di balik layar kegiatan ini.

c. Belajar dan Bertumbuh
Dari tantangan ini, banyak hal yang dipelajari, mulai belajar konsistensi hingga belajar teknis memotret, mengolah foto, membuat scrapbook, dan lain-lain. Peserta yang awal mulanya tak percaya diri lama-lama semangat untuk belajar dan mengunggah foto. Peserta yang sudah bisa scrapbook langsung berkarya tanpa merendahkan peserta yang baru belajar. Tak ada persaingan dan menang-kalah karena kegiatan ini bukan kompetisi.

Dengan dukungan resource yang dibagi secara gratis oleh mbak Ekawati dan teman-teman yang lain serta tutorial yg dibuat Lala, juga proses saling-mengajar diantara pesera; membuat berbagai pengetahuan dan ketrampilan baru bisa diperoleh.

Seiring berjalannya waktu, para peserta terlihat semakin menguasai tools untuk berkarya. Karya-karya mereka semakin bagus.

d. Berbagi dan Menginspirasi
Salah satu kekayaan dari Tantangan 30 hari ini adalah kumpulan “harta karun” jenis-jenis kegiatan anak. Setiap orang melakukan kegiatan dan mengunggah foto kegiatannya. Setiap hari ada lebih dari 100 foto kegiatan berbeda-beda yang diunggah. Variasi kegiatannya sangat lebar sekali.

Ini adalah kesempatan untuk saling belajar dan menginspirasi. Setiap keluarga memiliki kesempatan untuk belajar dan mengadaptasi kegiatan keluarga lain. Setiap keluarga juga memiliki kesempatan untuk menginspirasi keluarga lain melalui apa yang dilakukannya.

Ternyata, tak sulit untuk belajar sekaligus berbagi dan menginspirasi. Kita semua bisa melakukannya.

e. Menumbuhkan dan Menghidupi
Terkadang aku kasihan melihat Lala yang terus di depan komputer hampir sepanjang hari. Dia memaksa dirinya untuk memberikan feedback yang jumlahnya bisa ratusan kepada para peserta dan juga membuat tutorial untuk membantu peserta yang baru belajar tentang scrapbook & mengolah foto. Itu semua menyita waktu yang tak sedikit, menambah beban pekerjaan harian yang tetap harus diselesaikannya.

Tapi aku tahu, semua benih memang butuh dipelihara agar bisa bertumbuh. Apalagi kalau benihnya baru ditanam. Tak cukup sebuah kegiatan/lembaga sekedar dibuat, tetapi dibutuhkan hati dan stamina yang terus dicurahkan untuk menumbuhkan dan memeliharanya. Ini juga adalah proses belajar bagi Lala untuk menjalankan sebuah “gerakan sosial”, walaupun skalanya masih kecil dan sederhana.

Bersyukur, pekerjaan ini bukan hanya dilakukannya sendiri. Banyak teman-teman lain yang terlibat, berbagi, dan saling membantu. Ada teman-teman seperti mbak Mira Kurniasari, mbak Ekawati, mbak Ratna, mbak Raken, mbak Dinar, mbak Metta, mbak Devi Sutarsi dan teman-teman lain yang saling menguatkan. Juga, antusiasme dan komentar para peserta yang menunjukkan bahwa kegiatan ini memang bermanfaat bagi mereka.

f. Tantangan Tambahan: Interaksi

Masih ada 3 minggu lagi yang harus dijalani. Mudah-mudahan semangat yang sangat terasa di minggu pertama tetap bertahan, bahkan bisa lebih besar lagi. Makin semangat belajar dan berkegiatan, makin bagus berkarya, makin inovatif idenya.

Satu hal yang mungkin perlu ditambahkan dalam tantangan minggu ke-2 bagi para peserta Tantangan 30 hari Klub Oase adalah berinteraksi dengan peserta lain. Kunjungi setidaknya 5 karya peserta lain setiap hari. Apresiasi (dg menekan Like) dan komentari karyanya. Ini akan menciptakan spiral apresiasi dan energi positif yang lebih besar.

Tapi ini cuma ideku saja. Berani menerima tantangan ini? hehehehehe….

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Wah,,,kalo ngintip punya peserta lain, hampir tiap hari mbak πŸ™‚

    sekalian nyari ide kegiatan 😳

    Mbak, sekarang malah anak2 juga yg mulai sibuk motret kegiatannya sendiri…piye iki???

    mamahnya ga dikasih kesempatan πŸ™‚

    • Wuaaah.. makin pinter blass anak2nya. Tugas ibunya? memberikan kelapangan fasilitas buat mereka serta menuliskan perkembangan yang dialami anak2. Sebenarnya, mbak Devi itu sudah berada di level berikutnya. Level pertama, orangtua mendokumentasikan kegiatan anak. Level berikutnya, anak mendokumentasikan sendiri kegiatan mereka.

      Jadi, orangtua yang berhasil membuat anak-anaknya mandiri dalam mendokumentasikan kegiatan mereka sendiri adalah orangtua yang sukses menjadi saluran ilmu bagi anak2 mereka. Selamat ya mbak Devi. Semoga kelak, anak2ku bisa mandiri seperti anak2 mbak πŸ˜‰

  2. waaah…ternyata banyak jg yaa pesertanyaa…saking banyaknya namaku sampe lupa tercantum ya mba Lala…h πŸ™‚

    • Hehehe… sebenernya bukan lupa mbak. Tapi karena tidak ada pendaftaran & peserta dilihat dari siapa yang membuat album khusus, sepertinya teman dari tim Klub Oase kesulitan menyisir semua peserta. Makanya dibuat daftar sehingga teman-teman yang namanya belum tercantum akan bisa segera dimasukkan πŸ˜€

  3. Salut untuk semangat & komitmen mbak Lala!

    Dari hari ke-1 saya takjub dgn mbak Lala yang responsif kasih komentar di postingan peserta. Kemarin2 kepikiran berapa banyak waktu yang dicurahkan. Barusan baca tulisan mas Aar, ternyata bener mbak Lala hampir selalu di depan komputer. Jgn lupa mandi mbak πŸ˜€

    Saya ngaku nih, termasuk yang jarang yang FB walking ke peserta lain, pencet tombol like & komentar 😳

Tinggalkan komentar Anda

*

Close