Merefleksikan Tsunami Jepang

Bencana tsunami di Jepang yang terjadi beberapa hari yang lalu masih terasa menyesakkan. Kekuatan bencana yang mencapai 9 skala Richter membuka sebuah “standar baru” tentang kedahsyatan bencana yang mungkin kita alami.

Gempa yang kekuatannya setara dengan 30 kali bom Hiroshima itu telah mengakibatkan pergeseran sumbu bumi sebesar 25 cm. Pantai dan kota-kota di Jepang pun bergeser ke Timur. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa tanah (pulau) yang kita pijak ini memang benar-benar fragile, berada di atas lempeng-lempeng yang bergerak.

Gempa ini juga mengakibatkan rotasi bumi lebih cepat dengan efek lanjutannya berdampak pada percepatan hari.  Walaupun skalanya hanya dalam mikro detik, tetapi “fakta baru” ini sudah dapat menunjukkan kepada kita bahwa rotasi bumi yang biasanya kita sebut 24 jam itu bukan sebuah angka yang absolut. Angka 24 jam itu ternyata bisa berubah, diantaranya dipengaruhi oleh gempa di Aceh, Chile, dan Jepang.

Buatku, pengetahuan-pengetahuan ini menghadirkan sebuah kesadaran baru mengenai apa yang kita ketahui dan seringkali kita perlakukan sebagai apa adanya (taken for granted). Ternyata, banyak hal yang kita ketahui dan kita anggap pasti, sebenarnya hanya merupakan penyederhanaan/pembulatan terhadap realitas yang kompleks, dan bisa berubah karena berbagai faktor.

Oleh karenanya, kita (baca: aku) harus membuka diri (baik hati maupun pikiran) seluas-luasnya tentang semua hal sehingga tak memperlakukan pengetahuan yang kita ketahui sebagai doktrin/ideologi. Demikian juga ketika mendidik anak, yang lebih penting kita ajarkan bukanlah produk akhir yang harus dihafalkan mati, tetapi jauh lebih berharga jika anak mengetahui proses berfikirnya.

**

Dalam konteks personal juga, tsunami dan gempa itu membawa pada sebuah refleksi: kalau aku yang mengalami gempa/bencana, bagaimana aku menjalaninya? Dapatkah aku hidup dengan sukacita di dalam segala keterbatasan dan kekurangan? Dapatkah aku berlapang hati dan berbahagia dalam keadaan apapun? Dapatkah aku terlepas dari segala ketergantungan/kelekatan dengan apapun sebagaimana keadaan itu harus dijalani pada saat terjadi bencana?

Juga untuk anak-anak, dapatkah mereka survive menjalani hari-hari mereka dengan kelapangan dan kebahagiaan: bisakah mereka makan apa saja yang dihidangkan di hadapan mereka, bisakah mereka tak tergantung pada mainan/benda2 lain, bisakah mereka tidur nyenyak di manapun, bisakah mereka menikmati hari-hari mereka tanpa tergantung pada sebuah syarat apapun?

Aku merasa, semua ini harus dididik sehingga hingga menyatu dengan diri. Bukan hanya kepada anak-anak kita, tetapi yang pertama dan utama adalah pada diri kita: hidup yang penuh kelapangan dan syukur di dalam keadaan apapun juga.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close