Merefleksikan Bom Bunuh Diri di Solo

Berita bom bunuh diri di Solo, tepatnya di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, benar-benar mengacaukan mood-ku seharian kemarin. Sedih, kecewa, marah, bercampur dengan perasaan tak berdaya. Berbagai komentar pribadi yang berlintasan di Facebook dan Twitter mengaduk-aduk hati dan pikiranku hingga malam hari.

Di dalam kegelisahan yang amat sangat, aku mencoba meredakan semua perasaan yang ada dalam diriku.

Hal pertama yang ingin kukatakan adalah aku bersedih dan berbela sungkawa untuk para korban pemboman. Aku juga bersedih untuk banyaknya analisis tentang peristiwa pemboman itu yang menurutku sering mengabaikan esensi peristiwa tentang terjadinya kejahatan kekerasan akibat pemboman (apapun alasannya).

Menurutku, rasanya tak pantas kalau membuat analisis macam-macam sebelum memberikan perhatian pada korban. Para korban adalah manusia seperti kita, mereka mengalami derita tanpa tahu apa kesalahan yang mereka perbuat. Simpati pertama kita seharusnya tertuju kepada mereka; bukan pada peristiwa, apalagi pada pelakunya.

Jangan sampai hati kita kehilangan empati karena beranggapan peristiwa pemboman semacam ini hanya sebuah peristiwa biasa. Jangan sampai peristiwa kekerasan ini menjadi sekedar statistik di benak kita dan tak menyentuh rasa kemanusiaan kita.

Tidak. Ini adalah tragedi kemanusiaan. Kehilangan satu nyawa adalah berharga, siapapun yang memiliki nyawa itu; apapun agama, suku dan keyakinannya. Manusia adalah manusia, saudara kita dalam kehidupan ini.

Kekerasan, dilakukan oleh siapapun, harus ditentang. Dan tak boleh ada ruang simpati sedikit pun pada pelakunya, siapapun mereka.

***

Aku tak ingin menambahkan berita dan analisis tentang peristiwa pemboman di Solo tersebut. Aku hanya ingin merefleksikan ke dalam diriku, apa yang bisa kulakukan sebagai individu dan orangtua untuk menjaga anak-anakku agar terjauh dari lingkaran kekerasan atas nama apapun.

Ada beberapa yang rasanya bisa kulakukan. Sebagian sudah kulakukan, sebagian sedang berusaha kujadikan sebagai kebiasaan, sebagian lagi harapan dan komitmen diriku untuk anak-anakku:

a. Membangun tradisi damai
Tak ada kekerasan yang boleh terjadi di dalam keluarga. Kemarahan dan suara keras sesekali memang masih kulakukan, tetapi sedapat mungkin aku berusaha mengendalikan diri sehingga hatiku selalu damai dan komunikasiku tak pernah menggunakan intonasi tinggi. Tak boleh ada kekerasan fisik, baik diantara orang dewasa maupun kepada anak-anak; itu prinsip.

b. Membersihkan diri dari kekerasan hati
Aku berusaha mendidik diriku agar tak memiliki kebencian setitik pun pada seseorang, sekelompok masyarakat atau sesuatu. Tak ada yang bersemayam dalam hati selain kebajikan dan kemurnian semata. Aku percaya, jika aku mampu menjaga kejernihan diriku, segala yang keluar dari diriku pun adalah kejernihan. Sikap hati adalah akar dari semua kata-kata dan perbuatan kita.

c. Hidup tanpa prasangka
Aku berusaha menjaga agar tak memiliki stereotype atau prasangka tertentu terhadap siapapun. Sebuah perilaku pribadi adalah mewakili dirinya sendiri, bukan mewakili kelompok dan oleh karenanya tidak boleh dinilai sebagai perilaku keseluruhan kelompok.Aku berusaha mengunci mulutku dari kata-kata buruk mengenai sebuah kelompok tertentu, apalagi menghakiminya. Adagiumnya: semua baik, sampai terbukti buruk.

d. Tak merendahkan orang lain
Kepada anak-anakku, aku mengajarkan untuk menjalani kesetiaannya kepada Tuhan dan keyakinan yang kami imani. Untuk meneguhkan iman dan memuliakan Tuhan, tak perlu dengan cara merendahkan keyakinan orang lain. Iman dan pembelaan kepada Tuhan ditunjukkan dengan cara mewujudkan ajaran-Nya dalam diri kita dan dengan cara memakmurkan semesta-Nya; bukan dengan cara merendahkan keyakinan orang lain.

e. Membuka diri terhadap keragaman
Aku memiliki teman dengan berbagai latar belakang suku, agama, dan keyakinan. Aku nyaman dan menerima mereka dengan lapang hati. Ada Sunni, Syiah, Ahmadiah, Eden, Katolik, Protestan, Yehova, Hindu, Buddha, Aliran Kepercayan, dan lain-lain. Doktrin, keyakinan, dan tatacara ibadah mereka adalah tanggung jawab mereka dengan Tuhan, bukan urusanku. Urusanku adalah berempati dan berbuat baik dengan tulus kepada mereka. Titik.

***

Pelangi dan Mentari

Kutahu kita memanglah berbeda
Adakah itu yang merisaukanmu
Kutahu kita memanglah tak sama
Adakah itu jadi penghalangmu

Lihatlah pelangi di langit biru
Adakah mereka tak indah walaupun berbeda

Lihatlah sangat mentari
Bersinar terangi bumi
Sinarnya tuk semua
Tak ada yang dibedakannya

Kuingin diriku
Bagaikan pelangi dan mentari
Hiasi alam raya
Tebarkan cinta

 

Silakan unduh lagu “Pelangi & Mentari” (MP3) di sini: http://bit.ly/r6McSX

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. setuju 100 % mas
    aku juga masih harus terus belajar agar bisa melaksanakan semua itu dgn tulus hati

Tinggalkan komentar Anda

*

Close