Merayakan keunikan anak di Festival Bakat Anak

Festival Bakat Anak yang pertama telah usai. Ditutup dengan acara “Suara Anak” di gedung Jakarta Design Center (JDC) Jakarta pada Minggu (16/02/2014), festival yang diinisiasi oleh mas Bukik dan tim Takita telah memulai sebuah perguliran baru untuk dunia pendidikan Indonesia.

Festival ini diselenggarakan dengan spirit penghargaan terhadap keunikan setiap anak, dorongan kepada orangtua untuk memperhatikan minat/bakat anak dan kesediaan mendengarkan suara anak. Kegiatan ini adalah ruang apresiasi, bukan kompetisi yang memperebutkan tropi kejuaraan.

Oleh karena itu, tak ada juara dalam acara presentasi suara anak yang menampilkan 5 anak dengan bakat/hobi yang ditekuninya masing-masing. Kelima anak ini maju dan bercerita tentang bakat/minat yang ditekuninya.

Mereka adalah: Zaky Ilham Nasution (Zaky), Ayashadanica Aldea Khusna (Ayasha), Ayunda Damai Fatmarani (Damai), Elysa Ng (Elysa), Yudhistira GS (Yudhis).

Zaky (11 tahun), dari Bandung, menceritakan tentang kegiatan menggambar manga yang menjadi kesukaannya. Ayasha (7), dari Tegal, menceritakan tentang kesukaannya pada biola dan bercerita. Damai (8 tahun) tinggal di Sidoarjo dan menekuni hobi menulis di blognya: http://ayundadamai.com/. Akibat letusan gunung Kelud yang mengakibatkan bandar Juanda Surabaya ditutup, Damai tidak bisa berangkat ke Jakarta dan melakukan presentasi melalui rekaman video.

Zaky (11 tahun)

Zaky (11 tahun)

Ayasha (7 tahun)

Ayasha (7 tahun)

Damai (7 tahun)

Damai (7 tahun)

Presentan keempat adalah Yudhis (12 tahun) yang menekuni dunia grafis dan bercerita tentang proses belajar Blender yang dilakukannya hingga membuat video-video tutorial online di Akademi Visual (http://akademivisual.com). Presentasi anak terakhir dilakukan oleh Elysa (12 tahun) yang menceritakan passion-nya pada kucing. Elysa yang bercita-cita menjadi dokter hewan ini juga rajin menulis di blognya di: http://elysafaithng.wordpress.com/

Yudhis (12 tahun)

Yudhis (12 tahun)

Alysa (12 tahun)

Alysa (12 tahun)

Selain presentasi anak, acara Festival Bakat Anak juga dimeriahkan oleh bintang tamu yang berbagi cerita dan inspirasi untuk para orangtua. Ada Rene Suhardono (Pembicara Publik, Penulis Buku Career Coach dan Ultimate U), Mira Julia (Aktivis homeschooling dan penggagas DigitalMommie), dan Bukik Setiawan (Pengembang Takita, media sosial untuk pengembangan bakat anak).

Acara dipandu dengan meriah oleh kak Nina Rose dan kak Ariyo.

06FBA

***

Kami senang bisa ikut terlibat dan mendukung acara Festival Bakat Anak ini. Acara ini menarik karena non-kompetisi & mengapresiasi keragaman anak, mengajari anak utk bercerita tentang passion/proyek karya (bukan narsis & pamer). Melalui forum semacam ini, anak bisa belajar public speaking, tetap dengan sisi anak-anak yang melekat pada mereka.

Aku punya harapan, acara Suara Anak ini bisa berjalan kontinu, bahkan berkembang menjadi gerakan menghargai anak & mendengarkan suara anak. Keren kalau inisiatif ini bisa berkembang seperti TED, tapi dalam format suara anak.

Tantangannya adalah proses kurasi/seleksi memilih minat/bakat anak yang ditampilkan agar tetap terjaga kualitas dan keragamannya. Dan tentu saja, stamina penyelenggara juga sangat penting diperhatikan agar gagasan ini bisa berjalan maraton dan jangka panjang.
***

Video liputan acara “Suara Anak” & “Festival Bakat Anak”

Kredit photo Yudhis & Elisa: (c) Takita
Dokumentasi foto: pribadi

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. kak mira, video presentasi dari kakak di share donk, kak bukik, kak mira dan kak rene

Trackbacks

  1. […] Sementara salah satu pengunjung mengungkapkan harapannya, “Aku punya harapan, acara Suara Anak ini bisa berjalan kontinu, bahkan berkembang menjadi gerakan menghargai anak & mendengarkan suara anak. Keren kalau inisiatif ini bisa berkembang seperti TED, tapi dalam format suara anak” ungkap Sumardiono sebagaimana ditulis di blognya. […]

Tinggalkan komentar Anda

*

Close