Menjalani Kehidupan yang Lebih Intuitif

Kehidupan seringkali membawa kita ke arah yang tak pernah kita duga. Entah untuk rencana apa. Terkadang kita bisa memilih dan merencanakan. Terkadang keadaan memaksa kita mengambil jalan tertentu. Walaupun sudah berusaha menghindar dan mencari alternatif lain, semesta seolah terus mendorong kita menempuh jalan tersebut.

Aku tahu itu. Tapi tahu tak berarti menjalani.

Ada orang yang tahu tapi tak menjalani. Ada orang yang merasa tahu, tapi tak menjalani. Ada orang yang tak tahu tapi menjalani. Ada orang yang ingin tahu dulu sebelum menjalani.

intuisi

***

Mengetahui dan Menjalani

Aku dulu (dan sekarang) termasuk tipe ketiga, selalu ingin tahu dulu sebelum menjalani. Orang mengatakan itu sebagai pengetahuan. Betul.

Kita membutuhkan pengetahuan agar kita bisa memilih yang benar dan bertindak dengan benar. Itulah fungsi pengetahuan dan mengapa kita perlu belajar untuk mengetahui.

Tapi, ada kalanya aku berlindung di balik pengetahuan untuk tidak melakukan sebuah hal tertentu. Aku merasa belum tahu. Tapi sebenarnya yang terjadi adalah aku belum siap, tepatnya hatiku belum siap. Aku belum siap keluar dari zona nyamanku, aku belum siap terkejut, aku tidak ingin gagal, aku ingin melindungi egoku, dan sejenisnya.

Mana yang benar-benar terjadi pada diri kita? Hati kitalah yang paling tahu.

***

Pikiran dan Suara Hati

Problemnya, pikiran dan hati terkadang berselisih jalan. Pikiran kita mengatakan belok ke kanan, suara hati kita mengatakan belok ke kiri. Lalu kita memilih arah ke mana?

Kalau dulu, hampir dipastikan aku memilih belok ke kanan, mengikuti pikiran dan logika yang aku mengerti. Tapi kalau sekarang, aku mungkin memilih arah ke kanan mengikuti suara hati yang lebih intuitif.

It’s a matter of choice, tentang bagaimana kita menjalani kehidupan kita. Kehidupan rasional memberikan kepastian dan rasa “aman”. Dia membantu kita menjalani kehidupan dengan cara yang efektif dan efisien. Kehidupan intuitif memberikan kehidupan yang lebih kaya nuansa dan peristiwa. Kita tak pernah tahu apa yang akan kita hadapi di balik pintu yang kita buka. Di dalam ketidakpastian, kehidupan intuitif memperkaya hati, merperjalinkan diri kita dengan dunia sekitar dan semesta.

Di balik rasionalitas dan intuisi, ada pondasi yang menggerakkan arah kehidupan kita yaitu niat/spirit. Dalam kehidupan rasional, niat atau spirit akan terefleksi dalam visi, cita-cita, tujuan, dan rencana yang akan kita jalani. Dalam dunia intusi, niat dan spirit akan menjadi energi yang menggerakkan peristiwa sekaligus pemandu pergerakan kehidupan kita.

***

Belajar Mengikuti Intuisi

Mengikuti intuisi dan suara hati adalah ibarat menjadikan diri kita seperti jendela kaca. Kita membutuhkan kejernihan agar suara nurani dari Ilahi bisa kita rasakan dengan baik.

Untuk menjadikan jendela kaca hati lebih jernih, kita perlu membersihkan debu-debu keegoan, ketakutan, rasa bersalah, kerakusan yang kita miliki. Membersihkan kaca hati dilakukan melalui proses menjalani kehidupan yang baik (suci), baik hati, sikap, ucapan maupun tindakan.

Menjalani kehidupan yang intuitif adalah menjadikan nurani sebagai panglima kehidupan. Itu berarti, memilih yang sesuai kata hati daripada ketakutan kita, daripada keengganan dan kemalasan, daripada dorongan-dorongan kualitas diri yang lebih rendah yang sering memerankan diri sebagai rem dan penghambat nurani.

Dan begitu kita memilih nurani, kita akan merasakan hati yang lega dan bahagia, selaksa menemui pintu baru yang lapang dan terbuka.

***

Ah, tadinya aku mau menulis iseng. Kok jadinya materi yang berat begini ya? 🙂

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Mas Indrawadi says:

    Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap mendapatkan pemahaman dan kebijaksanaan hidup melalui hal-hal yang sederhana. Kadang-kadang Tuhan menyampaikan pengertian kepada kita melalui jalan yang tak terduga-duga. Perjumpaan kita dengan seorang kawan lama yang sudah menghilang bertahun-tahun, bisa menjadi wasilah atau instrumen melalui mana Tuhan hendak menyampaikan pengertian tentang kebijaksanaan hidup kepada kita.
    Kadang-kadang, kita menjumpai dan merasakan kehadiran Kebenaran, “divine presence”, melalui kegiatan-kegiatan yang dari luar tak tampak sebagai kegiatan yang biasa diberikan label ibadah. Kadang-kadang kita malah tak merasakan kehadiran-Nya saat salat. Ini memang pengalaman yang aneh. Sebab Tuhan adalah Dia yang kehadirannya tak bisa diduga-duga. Tak ada sesuatu apapun di dunia ini yang bisa menutup jalan kehadiran-Nya jika Dia menghendaki untuk hadir dan menampakkan Diri kepada hamba-Nya.Sesungguhnya mengikuti intuisi dan suara hati mengisyaratkan Tuhan hadir ditengah-tengah kita.

  2. Puri Megawati says:

    Saya suka sekali tulisannya, Pak. Terima kasih. 🙂

Tinggalkan komentar Anda

*