Mengenal Pola Makan Ketofastosis

Belajar Ketofastosis bersama Nur Agus Prasetyo

“Aku sudah sampe mbak. Kamu di mana?” tulis Isty, adik sepupuku di Whatsapp.
“Aku juga sudah sampai, lagi cari parkir.”

Baru saja aku mengklik tombol sent, aku mendengar namaku dipanggil. Seorang perempuan cantik melambai di kejauhan. Ternyata benar kalau sepupuku sudah sampai lebih dahulu di Viky Sianipar Music Center.

Hari ini (Sabtu, 4 Maret 2017), kami janjian untuk mengikuti Seminar Ketofastosis dengan pembicara Nur Agus Prasetyo, biasa dikenal dengan nama mas Tyo, founder komunitas Ketogenic Indonesia (KETOFASTOSIS). Tema seminar ini adalah “A Closer Look at Cancer”.

***

Manahan Diri dari Godaan

“Aku duluan ya Ndit, Isty udah nyampe tuh,” kataku kepada Andito, adikku yang masih mencari parkir.

“Ok mbok,” jawabnya. Aku & Andito hanya dua bersaudara. Sejak kecil nyaris tidak pernah berantem bahkan untuk hal-hal sepele. Saat ini kami tinggal di rumah yang sama, kedua anaknya pun tidak pergi ke sekolah seperti anak-anakku.

“Sudah lama Is?” tanyaku pada Isty sambil mencium kedua pipinya. Aku bahagia karena hari ini akan menghabiskan waktu seharian bersamanya, sebuah hal yang dulu sangat sering kami lakukan tapi kini durasinya menipis sejalan dengan bertumbuhnya usia kami.

“Belum lama. Tapi aku udah beli ini dong,” katanya sambil memperlihatkan belanjaannya. “Cuma setetes tapi udah bisa bikin manis segelas air, aku tadi sudah coba. Mau lihat-lihat dulu atau mau langsung daftar ulang?”.
Pandanganku bergerak ke jejeran stand aneka produk keto-friendly yang ada di depan ruang pendaftaran.

“Tapi aku nggak pegang cash nih. Tadi berhenti di atm, eeh rusak atmnya. Di sini aku lihat nggak ada atm BCA,” kataku sambil berjalan mendatangi meja demi meja.

Aku jadi galau apakah perlu mengambil uang ke ATM atau tidak. Ketika melihat aneka produk keto-friendly yang menarik dan dijejerkan di meja, rasanya tidak bawa cash malah jadi keputusan yang tepat untuk mengurangi nafsu belanja, hahahahaha….

Bayangkan, dari mulai aneka bahan baku seperti tepung keto, tepung almond, vco, alpukat ndut-ndut sampai produk jadi seperti beragam kue, kripik, abon dan aneka makanan nikmat yang selama ini hanya bisa dilihat via online sekarang ada di depan mata.

“Kayaknya aku gak jadi ambil uang Is Kamu bawa duit nggak? Kalau sampai aku pengen sesuatu, aku pinjem uangmu aja ya?”

“Takut susah nahan diri ya mbak?” tanya Isty sambil cekikikan.

***

Seminar Pola Hidup Ketofastosis

“Masih adakah pendaftar dengan nomer urut 1-100?” teriak seorang wanita dari meja pendaftaran.

“Waah itu kita!” kami pun lalu mendekat ke meja pendaftaran.

Setelah daftar ulang, kami diberi name tag, satu tas berisi buku tentang ketofast, booklet titik self healing, notes, bolpen, butter anchor unsalted, air mineral dan kupon yang bisa ditukar sekotak gula Diabetasol berisi 50 saset.

Waah mantap nih goodiebagnya. Belum apa-apa aku sudah senang, apalagi tasnya adalah tas kain yang bisa dilipat dengan jahitan yang kelihatannya cukup kuat.

Ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti seminar yang diadakan komunitas Ketogenic Indonesia (KETOFASTOSIS).

Selama ini bisa dibilang aku menjalankan pola makan ala ketofast hanya bermodalkan informasi yang aku baca di grup FB dan beragam sumber internet. Aku bahkan tidak menimbang & tidak mengukur lingkar tubuh sebagaimana yang biasa aku lakukan ketika melakukan aneka pola makan sebelumnya.

Goalku sesederhana berusaha menekan asupan gula seminimum mungkin seumur hidup. Jadi aku tidak lagi melihat prosesku ini sebagai diet, tapi lebih ke lifestyle.

Nah, hari ini aku mencoba belajar secara langsung dari mas Tyo agar bisa memahami Ketofastosis dengan lebih baik. Walaupun tema khususnya adalah tentang kanker yang tak ada hubungannya denganku, aku berharap bisa mendapatkan ilmu tentang Ketofastosis yang sudah aku jalani beberapa bulan terakhir ini.

***

Ketofastosis & Kanker

Dalam seminar ‘A Closer Look at Cancer’ yang aku datangi kemarin, mas Tyo memberikanku amunisi ilmu dan perspektif baru dalam menjalankan pola makan ini.

Mas Tyo menjelaskan bahwa banyaknya penyakit yang diderita manusia modern itu disebabkan karena berkurangnya kemampuan survival manusia. Di zaman modern ini, tubuh manusia malah semakin primitif karena tidak bisa jauh dari makanan. Lewat waktu makan sedikit saja kepala sudah pusing & badan gemetaran.

Padahal, menurut mas Tyo, manusia zaman dahulu memiliki kemampuan fisik yang luar biasa. Tidak makan adalah hal biasa. Bayangkan, nggak mungkin kan manusia zaman dulu bangun tidur trus cari tukang bubur ayam atau nasi uduk? Yang ada mereka harus berburu dahulu hewan yang akan mereka makan dengan perut lapar, baru menjelang sore atau malam mereka duduk untuk menikmati hasil buruannya.

Bayangkan kita hidup di zaman purba, bukan di alam tropis, di mana tidak ada kulkas, tidak ada ekspor impor, kita hanya hidup dari apa yang disediakan oleh alam di sekitar kita. Apa yang kita makan? Di zaman itu belum ada pertanian, manusia hidup dari berburu binatang.

Bayangkan suku Inuit (eskimo) kuno yang tidak bisa mengkonsumsi apapun yang tumbuh di tanah karena datarannya selalu dilapisi salju. Makanan utama mereka adalah daging merah dan ikan, tapi ternyata hidupnya justru sangat sehat, bahkan termasuk suku yang paling sehat di antara suku-suku kuno lainnya. Ada artikel menarik tentang suku Inuit Eskimo yang bisa Anda baca di sini.

Pada tahun 1920, Otto Warburg mengamati jaringan kanker ketika diberi glukosa menghasilkan asam laktat dalam kondisi ada oksigen (aerob) atau tanpa oksigen (anaerob). Hal ini berbeda dengan jaringan normal, di mana proses terbentuknya laktat hanya terjadi jika dalam kondisi tanpa oksigen (anaerob). Perbedaan metabolisme inilah yang kemudian disebut sebagai Warburg effect yaitu sel kanker mengubah glukosa menjadi laktat dalam kondisi ada oksigen (disebut glikolisis aerob).

Mas Tyo menyatakan bahwa sel kanker itu adalah sel normal yang bermutasi akibat defisiensi (kekurangan) mitokondria. Defisiensi inilah yang membuat sel kanker bergantung pada gula sebagai bahan bakar utamanya untuk memperbanyak diri. Jadi sederhananya, untuk menghentikan sel kanker dari berkembang adalah dengan menghentikan makanan utamanya, yaitu glukosa.

Sayangnya pola makan manusia modern saat ini sangat berlimpah gula. Coba aja, kalau kita jalan ke mall atau masuk supermarket, maka sejauh mata memandang makanan dan minuman yang ditawarkan sebagian besar pasti mengandung gula, dalam jumlah banyak pula. Jumlahnya jauh lebih banyak dari kebutuhan harian manusia. Di mana menurut rekomendasi dari American Heart Association, rata-rata kebutuhan gula pria dewasa HANYA 150 kalori per hari (37,5 gram atau 9 sendok teh) sedangkan wanita adalah 100 kalori per hari (25 gram atau 6 sendok teh).

***

Kesaksian Penyintas Kanker (Cancer Survivor)

Sebelum mas Tyo menjelaskan tentang Ketofastosis, di panggung hadir 4 narasumber, yaitu mas Andrew Saputra, mas M. Jaya, bapak Sahat Hutabarat dan ibu Kristina Rambey yang merupakan penyintas (survivor) kanker.

Ibu Tina (Kristina Rambey) – 51 tahun, divonis kanker Payudara stadium 3, awalnya shock tapi kemudian bisa menerima sakitnya sebagai anugerah dari Tuhan. Sejak Februari 2016 mulai menerapkan pola makan Ketofastosis sambil tetap menjalani proses medis 6 kali kemo & 30 kali penyinaran. Dokter bu Tina di Penang bingung mengapa kankernya tidak menjalar bahkan melunak tidak lagi ganas.

Bu Tina pun menyatakan, sepertinya pola ketofastosis jugalah yang menyebabkan dirinya tidak mengalami mual dan efek-efek kemo seperti yang dialami penderita kanker pada umumnya ketika menjalani kemoterapi.

Lain lagi cerita mas Muslim Jaya, seorang olahragawan, adventurer yang hampir tidak pernah sakit tapi mendadak tubuhnya drop tanpa diketahui penyebab pastinya. Dari yang 1 tahun 2 kali sakit, menjadi 6 bulan 3 kali sakit hingga akhirnya 1 bulan 3 kali sakit. Padahal mas Jaya merasa menerapkan pola hidup sehat. Diagnosa awal adalah virus & bakteri, tapi virus apa? Bakteri apa?

Tahun 2012 mas Jaya bolak balik masuk rumah sakit 4-5 hari. Ukuran tumornya yang tadinya hanya satu kuku membesar menjadi 1 kepalan tangan hanya dalam waktu 3 bulan hingga akhirnya diangkat dan harus mengalami 53 kali kemoterapi & 28 kali sinar.

Namun apa yang terjadi? Penyakitnya ternyata menyebar ke paru-paru dan perut. Sampai akhirnya beliau tidak bisa dikemo lagi karena ginjal sudah 80% rusak dan sejak Juli 2016 memilih pola makan Ketofastosis. Sekarang diameter tumornya mengecil dan tidak lagi menyebar.

Ada juga kisah pak Sahat Hutabarat yang terdeteksi kanker di tahun 2007 setelah sebelumnya kehilangan sang istri di tahun 2006 yang juga menderita kanker sejak tahun 2001. Mungkin karena stress dan keletihan menemani proses menemani istri di rumah sakit, kesehatan pak Sahat menurun dan dokter menyatakan dirinya menderita kanker pita suara stadium insitu (belum menyebar). Pak Sahat kemudian melakukan pengobatan di Singapura (28 kali penyinaran) dan sakitnya membaik.

Tahun 2016, pak Sahat mengalami pembengkakan yang kemudian divonis lebih tinggi lagi yaitu pita suara harus diambil. Pak Sahat kemudian mendengar tentang pola makan Ketofastosis dan memulai pola makan Ketofastosis sejak Februari 2016 sambil menunggu proses biopsi pita suara selama 3 bulan. Ternyata begitu dibiopsi, hasilnya tidak ditemukan tanda kanker ganas sehingga pak Sahat tidak perlu diambil pita suaranya.

“Awalnya pola makan ini saya anggap alternatif, ternyata benar-benar menjadi manfaat,” ujar pak Sahat dengan suaranya yang lantang, tidak terlihat tanda-tanda orang yang harus diambil pita suaranya.

Penyintas terakhir yang berbagi di panggung adalah mas Andrew Saputra yang baru saja divonis mengalami limfosa hidung atau Extranodal Nasal NK/T-Cell Lymphoma yang membuatnya harus menjalani kemoterapi selama 20 hari per cycle sebanyak 6 cycle. Itu berarti jika mengikuti saran dokter, mas Andrew minimal harus tinggal 6 bulan di rumah sakit.

Setelah berfikir panjang, di bulan Januari 2017 mas Andrew meminta seluruh pengobatannya ditahan dahulu dan serius menjalankan pola makan Ketofastosis mulai Februari 2017. “Pokoknya buat saya lebih baik KETO daripada KEMO, makanya saya sekarang jadi KEPO” seru mas Andrew sambil tertawa.

Di sesi sharing, ternyata ada banyak juga peserta yang menjadi penyintas kanker akibat pola makan Ketofastosis ini, seperti mbak Devi yang divonis kanker payudara, tapi setelah menjalani 6 bulan ketofastosis ukuran kankernya menyusut dari 20mm menjadi 1mm.

***

Puasa sebagai Jalan Menuju Sehat

Kembali pada penjelasan mas Tyo yang telah menjalankan pola makan ini selama 8 tahun, “Mari kita hentikan devolusi manusia modern dengan melakukan revolusi metabolik melalui puasa dalam kondisi ketosis.”

Mengapa puasa? Karena pada saat kita puasa sel mitokondria dalam tubuh kita berkembang.

Jadi, yang penting itu adalah PUASAnya. Nah, supaya kuat puasa, maka pada saat jam makan kita perlu menghindari gula dan karbo (yang akan diolah menjadi glukosa).

“Itu berarti kita perlu menghindari masuknya karbo ke dalam tubuh kita, karena sesungguhnya karbo adalah makronutrisi yang tidak esensial. Tubuh bisa membentuk gula sendiri di liver (proses glikolisis). Jadi nggak perlu laah kita tambahin gula dari asupan,” ujar mas Tyo.

Sesungguhnya yaaah, mas Tyo itu menjelaskan tentang hubungan antara kanker & gula itu puanjang lebar lengkap dengan istilah biomolekular yang ajib, membuat seminar ini berasa kuliah 4 sks, huehehehehe…. anehnya aku nggak ngantuk bahkan sangat bersemangat mengikuti seminar ini dari jam 9 hingga jam 5. Tapi kalau menceritakan kembali dalam bentuk tulisan secara lengkap sepertinya masih belum berani, takut salah istilah trus jadi sotoy gitu deh. Hehe..

***

Kesimpulannya, bagi penderita kanker yang perlu disehatkan adalah kondisi mitokondria dalam sel. Untuk multiplikasi mitokondria maka yang perlu dilakukan adalah PUASA, STOP KARBO & OLAHRAGA (banyak bergerak/aktif).

  • Lebih lengkap tentang Ketofastosis bisa dibaca di web ini.
  • Jangan lupa untuk membaca dulu protokolnya (Baca di sini) sebelum memulai.
  • Pastikan Anda untuk bergabung di grup Ketofastosis supaya lebih semangat menjalaninya karena di sana ada aneka sharing dari mulai testimoni keberhasilan, resep, dan aneka tips dari para senior.

Menarik juga, grup yang baru terbentuk Januari 2016 lalu, saat ini sudah menembus angka 80.000 member dengan banyak sekali cerita keberhasilan. Seperti yang sering dipesankan mbak Eva Badru di grup, “Nggak perlu lah kita berkoar-koar tentang ketofastosis. Buktikan saja dengan tubuh kita.”

Sepakat mbak, karena actions speak louder than words. Siapa yang paling beruntung kalau diri kita sehat? Ya kita sendiri laah. Jadi sehatkan diri kita sendiri dulu, baru deh cerita kalau sudah berhasil, hehehe..

Dan kalau tidak setuju dengan pola makan Ketofastosis? Ya nggak papa juga, setiap dari kita kan memang diciptakan unik. Mari kita cari jalan menuju sehat yang paling cocok dengan tubuh kita masing-masing.

Peace.

makan siang ala ketofastosis – “nasi goreng shirataki” + sate kikil

snack sore – somay genit + potongan keju rempah

berbagi cerita hasil seminar kepada sahabat di rumah sakit. Semoga cepat mendapat jalan kesembuhan.

**sebagian besar foto dalam post ini adalah kiriman dari Isty. Ty ya Is… 🙂

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. Semangat Lalaaa…aku lagi mulai less carbo lagi nih. Berat, karena serasa pemula lagi. Padahal sebelumnya pernah berhasil.

  2. terimakasih, sungguh share nya benar benar menginspirasi

Tinggalkan komentar Anda

*