Mengapa sulit melampaui model sekolah?

Posting ini adalah kelanjutan dari artikel “antara belajar dan bersekolah” yang aku tuliskan sebelumnya. Dalam artikel itu, aku membahaskan tentang kecenderungan masyarakat menyamakan antara belajar dengan sekolah, yang membuat belajar menjadi sempit artinya.

Kita perlu menangkap spirit belajar dan mengembalikan pada esensinya, bahwa belajar bisa tentang apa saja (yang diminati), belajar bisa dilakukan di mana saja (yang disukai), belajar bisa terjadi kapan saja (diinginkan), belajar bisa dari siapa saja (yang mencerahkan).

**

Memasuki esensi dan spirit belajar adalah sebuah hal penting. Tetapi bagaimana implementasinya? Mengapa tak mudah untuk mengembangkan model belajar yang berbeda dengan sekolah?

Yang pertama tentu saja adanya tekanan eksternal yang secara natural selalu berpihak pada status quo dan apa-apa yang dianggap sudah berhasil dan terbukti. Dalam hal ini, sekolah adalah salah satu tonggak institusi dunia modern yang sudah dianggap sebagai bagian dari paket keberhasilan.

Status quo adalah sebuah kecenderungan alamiah, walaupun bukan berarti sebuah hal yang benar.

Ketika di hadapan kita ada dinding luas dan rata, kemudian kita melihat ada satu paku yang menonjol; apa yang biasanya kita lakukan? Hampir dipastikan kita menganggap paku itu sebagai pengganggu dan kita kemudian memukul paku itu (supaya rata dengan dinding) atau mencabutnya.

Kalau sudah terbukti berhasil di dalam sistem masyarakat modern seperti saat ini, mengapa harus “mengada-ada” mencari yang lain? Mengapa tidak menyempurnakan saja apa-apa yang sudah ada? Mengapa harus berubah?

**

Tekanan eksternal ini bukan perkara ringan. Tekanan itu bisa berasal dari masyarakat atau lingkungan. Dan yang terberat adalah tekanan dari otoritas (pemerintah) dan keluarga. Tekanan dari otoritas birokrasi yang lembam dan tak suka berubah memang merupakan dinding halangan untuk banyak hal, termasuk inovasi pendidikan. Sementara tekanan keluarga terasa berat karena bersifat psikologis dan memberikan dampak besar secara emosional.

Lalu bagaimana menghadapi semua tekanan itu?

Jika Anda memang menjadi bagian dari perintis, maka tak ada cara menghindari hal itu. Itu adalah bagian ujian yang dialami oleh perintis di bidang apapun. Itu adalah bagian dari pematangan inovasi dan penempaan bagi sang perintis, yang buahnya akan dinikmati generasi-generasi sesudahnya.

Apakah Anda bagian dari para perintis itu? Perintis di dunia pendidikan? Perintis di negeri ini? Perintis di lingkungan Anda? Perintis di dalam keluarga besar Anda? Atau perintis hidup baru untuk Anda sendiri?

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Selama ini kita dididik supaya ‘ojo neko-neko’, ‘hidup ini mengalir saja seperti air’, ‘kamu itu masih kecil, nanti kalau sudah dewasa kamu baru mengerti’, ‘ikut saja apa kata orangtua’… Kalau setiap hari mendengar begini, susah ya mau jadi perintis… Ingin maju memilih HS, tapi lalu mundur sendiri karena dari dalam diri sudah terlanjur percaya pada ketidakmampuan diri. Apalagi ditentang orangtua, ya takut kualat, kasihan orangtua (kakek neneknya anak-anak) yang ingin lihat cucunya sekolah. Keluarga HS jadi keluarga self-selective, keluarga terpilih yang memilih dirinya sendiri untuk jadi perintis.

Tinggalkan komentar Anda

*