Mengajak Bayi Berkomunikasi

Salah satu stimulus besar dan gampang sekaligus murah untuk bayi adalah mengajak berkomunikasi. Berkomunikasi bukanlah sekedar mengobrol. Berkomunikasi adalah membangun hubungan. Ada energi perhatian dan cinta, ada kontak verbal melalui suara dan intonasi, ada juga kontak non non verbal melalui bahasa mata, gerakan, dan senyum, dan sebagainya.

Duta kerenKomunikasi ini bisa dilakukan kapan pun, bahkan sejak bayi belum mengerti. Ketika bayi sudah “mengerti” (baca: memberikan reaksi), komunikasi menjadi hal yang lebih penting lagi.

Di rumah, aku senang dengan apa yang selalu dilakukan Lala dan Ibu. Mereka memperlakukan bayi sebagai seorang individu (bukan “sesuatu” bayi yang dianggap tak mengerti apapun). Anak-anak sejak baru lahir selalu diajak mengobrol, menyanyi. Mereka juga aktif merespon hal-hal yang dilakukan bayi, mulai senyum, tertawa, dan juga ucapan-ucapan yang keluar melalui mulutnya. Proses komunikasi aktif ini menjadi sebuah spiral sekaligus stimulus positif bagi perkembangannya.

Katanya, bayi-bayi yang diajak berkomunikasi aktif merasa nyaman dan bagus perkembangan emosinya. Dan tentu saja, kemampuan berkomunikasinya juga berkembang. Itu pasti.

Kelihatannya hal seperti ini sepele. Tapi aku perhatikan, tidak semua ibu-ibu (dan bapak-bapak) rajin melakukan komunikasi dengan anak-anaknya. Mungkin karena dianggap bayinya belum mengerti, kali ya?

Padahal komunikasi dengan bayi adalah stimulus yang murah, meriah dan berdampak besar. Sayang kalau terlewatkan… ^_^

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close