Matematika di Dapur

Salah satu cara belajar yang menyenangkan dan sekaligus efektif adalah menggunakan kegiatan sehari-hari yang dekat dengan kehidupan anak. Berbagai teori yang rumit dapat diserap anak “tanpa sengaja” karena anak tidak merasakan kerumitannya. Menyederhanakan teori/pelajaran yang rumit, itulah tantangan kita; bukan memperumit hal-hal yang sederhana.

Cerita di bawah ini adalah pengalaman mbak Yanti Herawati Wij (praktisi HS di Bandung) bersama Izzan 7 tahun 10 bulan, Fadhil 6 tahun 2 bulan. Kegiatan yang terlihat sederhana di dapur bisa dijadikan/menjadi pembelajaran yang secara substansi luar biasa secara akademis.

**

Siang ini kami memasak spageti bersama sama. Karena kondisi badan saya sedang tidak sehat, semula saya biarkan saja Bapaknya, Izzan dan Fadhil yang memasak. Bolak-balik Fadhil menanyakan berapa biji bawang putih yang diperlukan. Saya tanya ukuran bawang putihnya, kalau besar – besar cukup 3 biji, namun kalau kecil-kecil perlu 5 biji. Sudah jelas deskripsi saya abstrak tentang “besar dan kecilnya” bawang putih. Sehingga Fadhil datang kembali menunjukkan sebuah bawang putih yang cukup besar.

“Wah, kalau bawang putihnya sebesar itu, maka cuma 3 yang dibutuhkan!” jawab saya. “ Berapa lagi yang Fadhil harus kupas?” Fadhil menjawab dia harus mengupas 2 bawang putih lagi. Akhirnya saya putuskan ikut memasak bersama mereka.

Dari dialog diatas ada 2 konsep matematika yang sudah diperkenalkan pada Fadhil tanpa sadar. Cat:

1. Konsep Himpunan, dimana Fadhil harus mencari bawang putih yang sama besar sebanyak tiga. Disini semestanya adalah “Bawang Putih yang cukup besar”, dengan elemen atau anggotanya ada 3 biji.

2. Konsep perhitungan sederhana dimana dia harus mencari 2 bawang putih lagi, untuk mencukupi 3 bawang putih yang diperlukan.

Ketika saya sampai di dapur, saya liat bapaknya sedang mengiris bawang putih. Kami jelaskan pada anak-anak betapa bawang putih itu dibagi-bagi menjadi ukuran yang lebih kecil berulang-ulang sampai ukuran tertentu. Fadhil mengambil sekantong tomat yang beratnya mencapai 1.2 kg dari kulkas. Saya tunjukkan bahwa kantong yang berisi tomat itu dalam matematika bisa disebut Himpunan tomat yang jumlah anggotanya bisa Fadhil hitung sendiri. Kemudian saya minta Fadhil membelah tomat menjadi dua. Saya katakan bahwa Fadhil membagi tomat menjadi 2, sehingga masing-masing bagiannya menjadi berukuran ½. Karena dalam kantong itu ada 10 tomat, iseng saya tanya Fadhil :

“Kalau Fadhil membagi 1 tomat menjadi 2 dengan ukuran hampir sama, maka berapa banyak tomat dengan ukuran ½ yang bisa Fadhil dapat dari 10 tomat? Nampaknya pertanyaan saya agak terlalu melompat, dan belum mengantarkan dia pada proses berfikir konstruktiv dimulai dari konsep yang paling sederhana. Sehingga saya harus memancing Fadhil dengan cara membimbingnya.

“Fadhil, tadi kalu kita bagi 1 tomat menjadi 2 bagian yang sama besar , kita khan dapet 2 bagian tomat dengan ukuran ½ ya..?” Fadhil mengangguk dan menatap saya.

“Kalau ada 2 tomat dibagi dengan cara yang sama, Fadhil dapat berapa potong tomat dengan ukuran ½ tadi?”

“ Ada 4!” jawab Fadhil  dilakukan dengan abstraksi tanpa melihat ke tomat yang belum dipotong semua.

“Kalau tomatnya ada 3, Fadhil akan dapat berapa banyak potongan yg kecil?”

“Dapat 6,” jawab Fadhil. “

“Kalau tomatnya ada 4?”

“Dapat 8!”

“Kalau tomatnya ada 5?”

“Dapet 10!” jawab Fadhil lagi.

“Kalau tomatnya ada 6?”

“Ada 12!” Jawab Fadhil.

“Kalau tomatnya ada 8?”

“Ada 16!”

Akhirnya Fadhil memotong pertanyaan saya, “Ada 20 potongan tomat semuanya!” Maksudnya ada 20 tomat berukuran ½ yang bisa diperoleh dari membagi 10 tomat masing-masing menjadi 2 bagian.

Cat: Saya telah memperkenalkan konsep pembagian dan perkalian sederhana tanpa Fadhil sadari.

**

Saya minta Fadhil juga mengisi air untuk merebus spageti. Inilah proses mengisi volume panci saya yang berbentuk tabung pendek dengan air. Nampaknya perlu 3 liter air untuk merebus 600 gram spageti. Ke dalam panci sudah diberi garam dan minyak goreng supaya pasta ini tidak saling menempel.

Anak- anak menunggu hingga air mulai mendidih, yang ditandai mulai terbentuknya gelembung-gelembung air yang berbentuk bulat. Gelembung air ini bisa terbentuk karena adanya air yang telah berubah menjadi uap. Karena molekul uap lebih ringan dari molekul air, maka kumpulan molekul uap yang ada di dasar panci, akan berpindah ke bagian atas panci dan air yang diatasnya akan mengisi bagian yang kosong itu. Tentu saja terbentuknya gelembung-gelembung uap dari dasar panci ini, karena dasar pancilah yang lebih dahulu panas. Api memanaskan panci, panci memanaskan air terus menerus. Sehingga tercapailah suhu air 100 derajat celcius, suatu tingkat dimana biasa kita sebut titik didih air. Air yang sudah mencapai suhu 100 derajat dan dipanasi terus akan berubah menjadi uap air. Uap air inilah yang terllihat sebagai gelembung dalam panci yang mendidih. Setelah sampai diatas permukaan air maka gelembung akan nampak seperti uap panas. Anak-anak biasanya selalu senang melihat perubahan wujud Zat Cair seperti ini.

Cat:
1. Konsep konduksi, yaitu perpindahan panas api dari kompor ke dasar wadah panci, terus dari wadah panci ke air. Disebut konduksi karena pertukaran panas terjadi tanpa adanya perpindahan partikel dari panci atau api sebagai perantara ke air. Panas yang terjadi karena adanya tumbukan molekul api dengan panci dan tumbukan antara molekul panci dengan air.

2. Konsep konveksi, atau pemindahan panas dengan cara mengalir yang terjadi pada air didalam panci. Dimana air yang udah panas akan berpindah kebagian air yang lebih dingin, sehingga tempatnya digantikan oleh air yang dingin tersebut. Begitu berulang seterusnya.

Setelah air mendidih, Fadhil memasukkan batang-batang spageti kedalam panci. Saat yang bersamaan saya mulai memanaskan minyak goreng untuk menumis bawang putih dan bawang bombay. Pekerjaan membuat saus spageti ini akhirnya diteruskan Izzan, mulai dari mengaduk daging hingga masak, memasukkan tomat yang sudah diblender, dan menunggu hingga kuah saus mengental.

Setelah semuanya matang, anak-anak ngga sabaran untuk makan siang dengan spageti buatan mereka. Bapaknya menyediakan piring sesuai dengan jumlah penghuni yang 5 orang. Anak-anak makan dengan lahap, saya sempat ketar-ketir karena Fadhil memasukkan begitu banyak merica bubuk kedalam saus. Ternyata 5 sendok teh gula pasir yang saya minta Fadhil masukkan, cukup menetralisir dampak pedas dari merica.

Sambil makan bersama saya suka bertanya,” Fadhil, di ruangan ini ada berapa perempuan dan berapa laki-laki?”

“Ada 2 perempuan dan 3 laki-laki!” jawab Fadhil.

“Sama ngga dengan kalau ibu bilang ada 3 laki-laki dengan 2 perempuan di ruangan ini?” tanya saya kembali pada Fadhil. Fadhil terdiam sebentar, nampaknya pertanyaan saya secara lisan terlalu cepat sehingga dia kesulitan menangkap secara utuh.

“ Nggak sama!” jawab Fadhil.

“ Wah, nggak sama ya?” Maka saya ulang pertanyaan saya, “2 perempuan dan 3 laki-laki sama ngga dengan kalau Ibu nyebutnya 3 laki-laki dan 2 perempuan?“

(Idenya saya mau mengenalkan konsep komutatif yg sudah ada di kelas 1 pada kurikulum diknas. Kalau dengan simbol “2 + 3 = 3 + 2” ).

Kali ini Fadhil sudah menyimak maksud pertanyaan saya sehingga dia menjawab:

“Ya sama bu, ada 2 perempuan dan 3 laki sama dengan 3 laki-laki dan 2 perempuan, cuma beda cara nyebutnya aja.!”

“Ya, betul!” kata saya, sambil menjelaskan rinci hukum komutatif namanya. Namun tiba-tiba Izzan nyeletuk!

“Ya bisa keduanya. Kalau Fadhil bilang 2 + 3 itu ‘ngga sama’ dengan 3 + 2, itu Fadhil pake mirip konsep ‘Permutasi’. Tetapi kalo Fadhil bilang 2 + 3 itu ‘sama dengan’ 3 + 2 itu Fadhil pake konsep ‘kombinasi’!” ujar Izzan dengan muka rada serius. Saya butuh waktu untuk menyimak celetukan Izzan. Akhirnya saya tersenyum, He..he…, mungkin Izzan juga bisa ngomong gitu.

“Permutasi “ adalah konsep dalam statistika dimana urutan benda–benda sangat dipentingkan atau akan membuat perbedaan terhadap susunan yang satu dengan yang lainnya.

Sedangkan pada “Kombinasi” urutan dari suatu kelompok benda tidak dipentingkan. Sehingga susunan suatu benda yang terdiri dari elemen yang anggotanya sama dianggap sama walaupun urutannya berlainan.

Akhirnya saya hanya tertawa mendengar penjelasan Izzan. Ada-ada saja dia, mengkaitkan antara komutatif dan salah persepsi Fadhil, ke dalam konsep matematika lain, sehingga pernyataan Fadhil tidak dianggap menjawab salah.

**

Setelah makan  siang  hampir  selesai, Fadhil mengajukan  diri  untuk membawa  semua  piring kotor  kami dan membawanya  ke dapur.

“Tetapi  aku  cuma  nyimpen  ya,  ke dapur, ngga  nyuci lho.  Nanti  aku juga  yang bawain minum untuk semuanya, tunggu  aja  disini.” Kata Fadhil.

Kemudian, balik  dari  dapur  fadhil membawa  5 gelas  air  diatas  sebuah  nampan  tanah liat. Saya  sempat  heran tumben-tumbennya  Fadhil  mau  mengerjakan  hal  ini. Saya  menawarkan  pada  Izzan  untuk mencuci  piring, ternyata  dia  mau juga mengerjakannya.  Fadhil  dan Izzan  akhirnya  mencuci  piring  berdua  di  dapur. Walaupun  nanti  nampaknya  saya  atau  bapaknya harus mengerjakan  ulang  hasil  cucian mereka.

(Dikutip dari notes mbak Yanti Herawati Wij di Facebook atas izin penulis)

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Ih… Keren ih.
    Tanpasadar sudqh mengajarkan anak cinta Matematika, pelajaran yg oleh sebagiqn besar orang dibilang menakutkqn

  2. Wahh, keren juga ya. Membaca saja seperti terbawa suasana aslinya.. good.

Tinggalkan komentar Anda

*