Masalah saat menjalani Homeschooling

Perjalanan homeschooling tak hanya cerita bahagia, tetapi juga seringkali berisi kegelisahan dan perjuangan. Seperti yang kami alami beberapa waktu yang lalu.

Tanpa sengaja, malam-malam aku bermain tebak-tebakan dengan Duta.

“Duta, kalau orang yang pekerjaannya menanam padi, sebutannya apa?” tanyaku.
“Nggak tahu,” kata Duta setelah agak lama berfikir.

Hah? Aku kaget sekali mendengar jawaban Duta. Aku mencoba menenangkan diri sambil mengajukan pertanyaan lain.

“Kalau orang yang pekerjaannya memelihara sapi?”
“Nggak tahu,” kata Duta dengan kalem.

Kepalaku langsung pusing dan rasanya berkunang-kunang. “Ya Tuhan, hal-hal sederhana ini ternyata belum diketahui Duta. Ke mana saja aku selama ini sehingga tak mengetahuinya?”

Aku meratap dalam hati.

Dengan menjaga intonasi suara agar tetap tenang, aku mulai bercakap-cakap dengan Duta tentang nama-nama profesi. Beberapa nama sudah diketahuinya seperti guru dan pilot. Tapi banyak nama profesi lain yang tak diketahuinya atau sulit untuk diucapkannya.

problem-solusi

***

Tantangan Setiap Anak Unik & Berbeda

Setiap anak memang memiliki tantangan tersendiri dalam proses pengasuhan dan homeschooling-nya. Proses parenting kami bersama Yudhis, Tata, dan Duta berbeda-beda. Setiap anak punya kekuatan dan kelemahannya. Setiap anak punya pengalaman yang berbeda yang harus disikapi dengan tepat sesuai kebutuhannya.

Dalam pengalaman kami, pengasuhan Duta memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan kakak-kakaknya.

Duta memiliki sedikit masalah dengan kesehatan dan komunikasi verbal. Walaupun tak memiliki diagnosis penyakit bawaan, Duta mudah sesak nafas dan staminanya “tipis”. Kosa katanya masih terbatas dan kemampuan bicaranya agak terlambat. Rentang perhatian dan fokus perhatiannya juga agak pendek. Hal-hal semacam itu sedikit banyak memengaruhi perkembangan psikologisnya, misalnya: kepercayaan diri, keberanian, dan lain-lain.

Fokus pada Sikap dan Solusi

Tapi kami menerima semua yang ada pada Duta apa adanya. Kami menyadari ada beberapa “issues” yang harus kami tangani. Kami tak melabeli Duta dengan sebutan-sebutan negatif apapun, misalnya: penakut, bodoh, lemah, penyakitan, dan sebagainya.

Kesadaran adanya isu yang harus ditangani hanya menjadi pembicaraan berdua antara aku & Lala untuk mencari solusi. Kami tak memperbincangkan dengan orang lain, kecuali dalam rangka mencari inspirasi dan solusi.

Untuk memperbaiki stamina fisik, Duta kami ekspos dengan aneka kegiatan olahraga, mulai berenang, panahan, futsal, basket, gymnastik. Praktis, hampir setiap hari dalam seminggu Duta berolahraga. Secara perlahan, aktivitas fisik ini mulai memperbaiki stamina Duta. Duta semakin jarang sesak nafas dan fisiknya semakin baik. Dia sama sekali tak punya masalah saat mengikuti #OaseTrack, berjalan dan bermain di bawah air terjun Curug Nangka, Bogor.

Untuk memperbaiki kemampuan komunikasi verbalnya, kami memperbanyak kegiatan ngobrol dan membaca bersama. Setiap malam menjelang tidur selalu ada kegiatan membaca buku cerita.

Apakah masalah selesai?

Belum. Perbaikan kualitas ada, tapi masalah belum terselesaikan secara tuntas. Kami tahu bahwa proses perbaikan ini butuh komitmen terus-menerus dalam jangka panjang, dalam orde bulan bahkan tahun. Yang penting bagi kami adalah tidak berhenti, terus berjalan dan berupaya.

***

Masalah adalah bagian melekat kehidupan. Tantangan bagi kita adalah bagaimana menyikapi masalah yang muncul di hadapan kita.

Masalah hanya satu bagian kecil dari kehidupan kita. Lebih banyak hal yang patut disyukuri. Dan masalah tidak mendefinisikan siapa kita.

Kalau buat kami, yang penting selalu bersikap positif dan fokus pada usaha untuk mencari solusi. Demikian pun untuk masalah-masalah yang terjadi dalam proses homeschooling anak-anak.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Semangat!!

  2. neng otha says:

    pagi mas aar…
    saya baru mulai HS untuk putri saya kls 1 SD. kalau mau berlangganan ixl math, caranya gimana ya?

    terima kasih

  3. Aaah Duta, banyak berlian dalam dirimu yg nggak orang ketahui kok. Banyak bangeeet.

  4. Salam kenal mas Ar, saya tertarik sekali dengan hs dan mulai mempelajarinya sebelum menerapkan buat anak2. Hanya setelah membaca sebagian besar artikel rumah inspirasi, kebanyakan kegiatan hs berhubungan dengan komputer dan game. Bagi saya kendala tersendiri karena selama ini saya sangat membatasi anak2 untuk bermain gadget dan game. Mohon pencerahannya. Terimakasih.

    • Homeschooling sangat berkaitan dengan kebiasaan yang ada di keluarga mbak. Yang tertulis di sini adalah kebiasaan yang ada di keluarga kami. Kami akan menjelaskan semuanya dalam Webinar Homeschooling. Prakteknya, Anda perlu bertemu dengan praktisi2 lain yang sejenis dengan Anda.. 🙂

  5. Mas dan keluarga kecilnya

    Mas anakku mau msk usia SD thn 2017 nanti. Tapi aku serem ya mas sama dunia luar yg tdk dijangkau mauat, gara2 sex predator anak. Aku pikir HS itu manggil guru ke rumah kayak les. Tapi sekilas baca2 selewatan (maklum gak ada ART, jd ngerjain apa2 suka kepotong), HS itu ortunya yg ngajarin langsung ya?
    Kalo ayah bekerja gimana mas?
    Ibu sibuk sama rumah?

    Ada ijasahnya gak mas?
    Buta bener2 aku mas.
    Sampe aku rencana mau nunda SD anakku.

    Mohon pencerahannya mas.

    Tks loh

    Echa

  6. lilis mukhlisoh says:

    Siang mas ar..salam kenal dari saya…saya sangat tertarik untuk mulai menghomeschooling kan anak saya…saya punya 2 anak kembar…usia 5 tahun…anak saya gemar seakali lihat video di youtube…ssekarang ini anak saya masuk tk dan sepertinya kurang berminat masuk sekolah formal kaya teman2 seusinya…mau menghome scholingkan anak tetapi masih ragu bagmana memulainya mohon arahannya mas ar

Tinggalkan komentar Anda

*

Close