Masa depan: portofolio bukan ijazah

Ketika berbicara tentang homeschooling/unschooling, salah satu concern besar dari masyarakat yang muncul adalah mengenai ijazah.

“Kita tak mungkin bekerja tanpa ijazah. Itulah realitas di Indonesia. ” Begitu kurang lebih argumentasinya.

Yah… argumen itu mengandung kebenaran, walau tak sepenuhnya. Kalau bekerja artinya adalah menjadi pegawai di pabrik atau kantor, jawabannya sangat iya.

Tapi bagaimana kalau pekerjaannya adalah penulis, fotografer, penyanyi, musisi, blogger, pedagang, atau pebinis? Masih relevankah ijazah untuk bekerja? Atau, profesi-profesi itu dianggap hanya merupakan hobi atau tak cukup serius untuk dianggap sebagai pekerjaan?

Tak dapat dipungkiri, ijazah memang cara termudah untuk mengukur “credential” seseorang. Dengan menyebutkan sebagai lulusan  tingkat A dari perguruan XYZ, seseorang mungkin dapat dikenali kredibilitasnya. Tapi, semakin lama ijazah saja tak lagi mencukupi.

Dibutuhkan informasi lain yang menunjukkan minat dan kualitas seseorang, yang menentukan kesesuaiannya dengan yang kualifikasi diminta. Dan di sanalah portofolio berada. Portofolio menunjukkan catatan ketertarikan (interest) dan minat (passion) seorang seseorang, yang terwujudkan dalam bentuk aksi dan output. Portofolio bukan hanya tentang yang diketahui, tetapi yang dilakukan.

Portofolio yang baik mengandung beberapa aspek, diantaranya:

  • kumpulan karya/output selama bertahun-tahun yang menunjukkan konsistensi dan perkembangan kualitas/kemampuan.
  • memiliki beragam bentuk multimedia, baik teks, grafik/gambar/foto, film.
  • memasukkan penilaian eksternal untuk mengurangi subjektivitas; misalnya: penghargaan, berita di media, bukti pekerjaan dari klien, dan sebagainya.

**

Jika pekerjaan maknanya adalah melamar ke perusahaan, mungkin jalan yang akan kita lihat dalam waktu dekat (near future) memang masih tentang ijazah. Ijazah memainkan peran penting, tetapi portofolio akan menjadi nilai tambah yang semakin diperhitungkan.

Tapi kalau berbicara tentang profesi-profesi mandiri (yang menjadi ciri era teknologi/informasi) dan profesi masa depan, portofolio dan kemampuan menghasilkan output menjadi sebuah hal yang tak bisa ditawar lagi. Portofolio memiliki nilai yang lebih daripada ijazah; apalagi ijazah yang hanya sekedar formalitas.

Tak diragukan.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Setuju, Pak Aar. Portofolio itu bisa jadi bukti kemampuan pengganti ijazah. Selain itu, sertifikat kemampuan malah lebih sakti daripada ijazah. Kalau penerjemah bahasa Jepang, pasti yang ditanya itu pasti sertifikat JLPT (Japanese Language Proficiency Test), ijazah sekolah ya nggak ada yang nanya.

    Walaupun misalnya nih, ingin jadi pegawai perusahaan, zaman sekarang kita bisa saja mendapatkan pekerjaan dengan mengandalkan reputasi, hubungan, dan jaringan relasi. Jadi bukan kita yang pergi melamar dengan ijazah, melainkan kita membangun personal branding dan jaringan relasi melalui social media. Apalagi 10-20 tahun lagi ketika anak-anak sudah dewasa.

    Tanpa ijazah, bisa saja, selama anak-anak nanti punya kemampuan yang bisa dijualnya dan kreativitasnya tidak mati untuk mencari solusi.

  2. ijasah, memang itu yang dulunya saya pikir jadi satu-satunya alasan saya bersekolah dan kemudian jadi modal untuk bekerja mencari uang. Tapi setelah sekarang saya justru mendapatkan uang dengan bisnis yang tidak ada kontribusi ijasah sama sekali, membuat saya sadar dan bertekad memberi yang terbaik untuk anak2 bukan hanya mengejar selembar ijasah. izin share ya mas?!tks…

  3. tapi syarat jadi presiden dan anggota DPR masih pake ijazah tuh…
    kalau saya pribadi sih lebih setuju pake porto folia aja. jadi bupati atau walikota karena ada portofolio yang menarik untuk dipilih.
    begitu pula jadi presiden, karena ia punya portofolio jadi walikota atau gubernur yang sukses, misalnya, ketimbang syarat formal ijazah yang gak jelas juntrungannya.
    justru syarat formalitas kayak begini yang bikin banyak ijazah palsu beredar dan juga sekolah abal2

Tinggalkan komentar Anda

*