Kami (makin) cinta homeschooling

CintaTiga tahun yang lalu, aku menulis sebuah artikel kecintaan kami pada homeschooling. Judulnya, aku cinta homeschooling. Kini, kami tetap homeschooling. Yudhis sudah berumur 8 tahun, Tata hampir 5 tahun, dan sekarang ada tambahan Duta 1 tahun. Dan kami sangat menikmati homeschooling kami: belajar dengan menyenangkan, efektivitas dan fleksibilitas belajar, kedekatan keluarga, dsb.

Inilah artikel tiga tahun yang lalu itu:

Karena Yudhis (5) sudah mulai memasuki umur sekolah (school age), pencatatan proses belajar Yudhis memang menjadi semakin penting. Dan kami bersyukur, keberadaan website membuat kami terpicu untuk mendokumentasikan proses belajar Yudhis sekaligus menjadi sarana sharing tentang homeschooling. Mudah-mudahan ada manfaatnya buat peminat homeschooling dan komunitas homeschooling di Indonesia.

Ya… kami adalah keluarga homeschooler. Homeschooling menjadi pilihan pendidikan buat anak-anak kami, Yudhis (5) dan Tata (2). Pemilihan homeschooling sendiri sudah menempuh proses yang panjang. Sejak awal menikah, kami sudah banyak berdiskusi tentang pendidikan anak-anak hingga akhirnya merencanakan homeschooling buat pendidikan anak-anak kami. Dan setelah menjalani selama kurang lebih 5 tahun proses awal homeschooling, kami semakin mantap bahwa kami berada di jalur yang tepat buat pendidikan anak-anak kami.

Proses homeschooling kami memang belum jauh. Tapi walaupun begitu, kami mulai dapat merasakan buah homeschooling yang selama ini berusaha kami tumbuhkan. Hubungan yang kuat dengan anak-anak menjadi hadiah besar bagi kami yang tak tergantikan oleh uang seberapapun. Sebagai orang tua, kami merasa lega karena merasa telah mencurahkan usaha maksimal pada masa 5 tahun pertama pertumbuhan anak-anak yang sangat penting dan sering disebut masa emas (golden age).

Selain kepuasan yang bersifat personal, kami melihat Yudhis tumbuh dengan sikap (attitude) yang siap untuk melangkah ke jenjang pendidikan selanjutnya. Keingintahuan, keberanian bertanya, menyatakan pendapat, mencoba hal baru, bersosialisasi adalah bekal yang bagus untuk memulai proses belajar. Sementara itu, kemampuan membaca yang dikuasai Yudhis sejak umur 4 tahun adalah bonus homeschooling yang akan membuat proses pembelajarannya dapat lebih cepat.

Homeschooling memang mengasyikkan. Ketika kami melibatkan diri secara aktif dalam pendidikan anak-anak (tak hanya menyerahkan pada guru dan sistem sekolah), proses belajar itu menjadi sangat menyenangkan buat anak-anak. Homeschooling membuat kami dapat mengamati proses pertumbuhan anak-anak sehingga mereka dapat belajar sesuai kecepatannya masing-masing dan dengan gaya belajar (learning style) yang paling sesuai.

Yang lebih asyik, eksistensi homeschooling telah diakui secara legal dalam Sistem Pendidikan Indonesia (UU Sisdiknas No. 20/2003). Ini adalah sebuah kabar gembira buat orang tua homeschooling yang tetap ingin agar anak-anaknya mendapatkan ijazah kesetaraan untuk berpindah ke pendidikan formal (SD, SMP, SMU) atau melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Homeschooling memang benar-benar asyik…

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. maksudnya, ada ujian penyetaraan dengan sekolah reguler kemudian bisa dapat ijazah, begitukah? salah satunya yg mengkhawatirkan ya perihal ijazah ini… *masih ragu* terima kasih ya sebelumnya πŸ™‚

    • Apa yang dikhawatirkan JQ? Dari sisi legalitas, ijazah ini bisa untuk melanjutkan perguruan tinggi. Kalau utk mencari kerja menggunakan ijazah ini, mungkin memang terkadang dianggap remeh. Tapi kualitas kan kembali kepada kita.
      Alternatif untuk ujian kesetaraan ini juga ada, yaitu ujian Cambridge IGCSE. Ujiannya bahasa Inggris dan diakui internasional. Anak-anak HS bisa juga mengikutinya seperti anak sekolah..
      Banyak alternatif… tinggal pilih yang sesuai.. ^_^

  2. ibu anne says:

    kalau orangtuanya -misalnya- sakit parah atau meninggal, bagaimana? 😐

    • tergantung anaknya. Kalau anaknya sudah mandiri belajar (biasanya anak2 HS cenderung mandiri), mereka mungkin pengin tetap HS. Kalau anaknya masih kecil-kecil ya terserah orangtua yang mengasuhnya. Pindah ke sekolah juga tidak apa-apa kok dan perpindahan dari HS ke sekolah bukan sebuah masalah besar.. ^_^

  3. ibu anne says:

    saya ada bisnis kecil-kecilan yg saya niatkan diwariskan nanti ke anak saya, dia skrg masih 2 thn. jd saya sgt tertarik HS. biar dia ditempa pendidikan bisnis dari magang sendiri dan baca buku manajemen keuangan. Tp ada saja keluarga yg tdk setuju. alasan mereka, gimana anak saya ada jiwa tepa selira sama teman, kl biasa tidak berteman? gmn anak saya tau rasanya kalah atau menang dlm kompetisi (takut dia manja), malah ada yg bilang gmn anak saya nanti apa gak sedih gak punya foto di buku tahunan atau foto pawai 17an sama teman sekolahnya…….? duhh bgm Bpk. Aar? Jgn ketawain yah. saya emang terlalu naif ya?

  4. Ibu Anne,
    Penjelasannya agak panjang. Lengkapnya ada di buku “Homeschooling Lompatan Cara Belajar” dan “Warna-warni Homeschooling” yang diterbitkan penerbit Elex Media Komputindo.
    Kalau singkatnya dapat dibaca di ebook “7 FAQ Homeschooling” berisi jawaban terhadap 7 pertanyaan mengenai homeschooling yang sering ditanyakan.
    Ebooknya dapat didownload gratis di situs http://www.bentangilmu.com
    Mudah-mudahan membantu menjawab pertanyaan Anda.. πŸ˜›

Tinggalkan komentar Anda

*

Close