Kamar baru Yudhis dan Tata

Sudah dua hari ini Yudhis dan Tata pindah tidur ke kamar depan. Walaupun kami sudah cukup lama berfikir tentang hal ini, tapi peristiwanya baru terjadi dua hari lalu. Kejadiannya pun relatif mendadak.

Pemicunya adalah pengiriman AC bekas kamar Tanti yang tak dipakai lagi. Setelah diperbaiki, AC itu diminta Tanti untuk dipasang di kamar depan yang kosong. Dan hari Senin kemarin (19/7), AC-nya langsung terpasang di kamar depan rumah keluarga yang sekarang kami tempati.

Jadilah hari Senin itu juga kamar depan langsung dirapikan. Kamar dibersihkan dan tempat tidur dibongkar sehingga kasur langsung menempel ke lantai.  Senin malam menjadi malam pertama Yudhis dan Tata tidur berpisah secara resmi dari kami.

**

Ini adalah pertama kalinya anak-anak tidur terpisah dengan kami. Karena kondisi yang sering berpindah-pindah dan biasanya selalu menempati satu kamar, biasanya kami selalu tidur bersama. Beberapa kali mereka tidur berpisah dengan kami, tetapi frekuensinya sangat jarang. Sebagian besar waktu mereka tidur bersama-sama kami dalam satu kamar, bahkan tak jarang di satu tempat tidur yang sama.

Pada awalnya aku sempat khawatir akan ada resistensi dari mereka. Sebab, ada kejadian ketika aku meminta Yudhis dan Tata untuk tidur bersama temannya (ketika menginap), mereka menolak dan memilih untuk tidur bersama kami.

Tapi resistensi itu ternyata tak ada sama sekali. Yudhis senang sekali mendapat kamar baru. Tata pun demikian. Apalagi, Yudhis baru saja mendapatkan MP3 player (barang lamaku) yang ditemukan secara tidak sengaja oleh Lala saat membersihkan kamar. Dia langsung merasa seperti anak remaja: mengisi MP3 dengan lagu-lagu pilihannya sendiri, menempelkan earphone sambil berkegiatan, dan membaca komik-komiknya di kamar baru sebagai pengisi waktu menjelang tidur.

Semalam aku menengok tempat tidur baru mereka, keduanya tampak sedang tidur pulas. Ternyata aku yang justru kangen karena kamar jadi terasa sepi karena hanya berisi aku, Lala, dan Duta. Aku kehilangan suara berisik Yudhis dan Tata yang biasanya berceloteh sambil nonton TV atau saling meledek dan bertengkar. Kamar jadi terasa dingin dan sepi, hehehe

Kami sadar bahwa fase ini memang tak terhindarkan dalam perkembangan mereka. Usia 9 tahun adalah saat awal anak-anak mulai tumbuh dan membentuk identitas diri mereka sendiri. Kami harus siap untuk memberikan “ruang eksplorasi” yang lebih besar kepada mereka.

Tapi kok cepat sekali ya datangnya? Ternyata yang harus belajar tegar justru kami, bukan anak-anak, hehehe…

**

Peristiwa yang datang tiba-tiba ini terasa seperti karunia yang datang dari-Nya. Tak ada kontribusi kami sedikit pun dalam memprasaranai kamar ini. Rasanya seperti mendapat kiriman hadiah dari langit, hehehe

Melihat kamar baru Yudhis dan tata, kami memandangnya dengan penuh rasa syukur, memuji nama-Nya yang selalu memberikan berkah karunia dalam kehidupan kami sehari-hari sambil bermohon kekuatan dari-Nya.

Terima kasih Tuhan atas karunia-Mu. Engkau adalah sebaik-baik pendidik dan penjaga kami. Kami serahkan diri kami dan anak-anak kami di dalam penjagaan dan didikan-Mu. Kiranya Engkau senantiasa memberkati hidup kami; hari ini, esok, dan selamanya. Amin.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Mas Aar,
    Diusia berapa anak harusnya sudah tidur terpisah dari orangtuanya, anak saya saat ini usia 6th 9bln masih tidur dalam satu kamar dan satu tempat tidur dengan orangtuanya… thanks

  2. Kami sebenarnya juga tidak memiliki target umur mas, mengalir saja. Kalau tidak ada pemicu “hadiah AC” ini, mungkin anak-anak masih tidur satu kamar bersama kami.

    Kalau dalam pandangan saya pribadi, yang penting adalah menyiapkan proses pada anak-anak melalui berbagai bentuk pengalaman: misalnya tidur bersama saudara (saat menginap), pergi dengan bapak (tanpa ibu), pergi bersama saudara, menginap bersama teman, dan sejenisnya. Kalau semua proses itu bisa dilalui dengan baik, pisah kamar tinggal masalah waktu dan kondisi.. 🙂

  3. So far kalau anak saya sedang berkunjung ke rumah neneknya dan berkumpul dengan sepupunya, dia mau tidur bersama dengan sepupunya malam hari. Tapi kalau sudah dirumah, dia masih belum mau untuk pergi tidur sendiri, masih suka mengajak saya untuk menemaninya tidur sambil terkadang membacakan buku-buku cerita untuknya…

    Dalam berbagai hal, kemandirian dia belum bisa dia kerjakan dirumah, tapi jika sedang berkumpul dengan sepupunya yang sudah mulai mandiri, dia akan ikut dengan sendirinya..

  4. Mas Aar dan Mbak Lala,
    Ini artikelnya menguatkan saya. Awalnya sempat gamang mau mendorong anak mandiri tidur terpisah kamarnya. Tapi sayanya masih ragu2. Apalagi beberapa teman dengan anak umur sama sudah pisah kamar dari orangtua. Semua ada waktunya. Saat anak siap. Dan orangtua siap. Better late that early. Terimakasih ya Mas dan Mbak.

    Salam,
    Ade

  5. Mas Aar dan Mba Lala,
    Wah,, membaca artikel ini membuat saya cukup tersenyum sendiri. Karena benar kata Mas Aar,, yang harusnya belajar untuk cukup tegar adalah kami, terlebih saya, karena saat anak2 mencoba untuk tidak tidur bersama kami, saya kok rasanya sepiiiii banget….bahkan malah saya jadi tidak bisa tidur.. karena biasanya anak2 sebelum tidur saling bercerita dulu,, ribut dulu, baru setelah itu berdoa dan saling berpelukan. so sweet…Tapi,, syukurnya hal itu tidak berlangsung lama. karena mereka pun tidak bisa tidur tanpa kami, ternyata.. Aah,, senangnyaaaa…..jadi datangnya saat itu masih lama.. hehehe

Tinggalkan komentar Anda

*

Close