Internet Mati: Kerentanan Diri

Internet mati ditambah sakit gigi adalah kombinasi yang mematikan. Itulah yang kualami seharian kemarin.

Pagi-pagi membuka handphone, wifi tersambung tapi tak ada update perkembangan di grup Whatsapp dan status Facebook. Perubahan terakhir tertulis malam.

Curiga ada masalah koneksi, aku cek modem. Ternyata benar. Ada satu tombol LOS yang berwarna merah dan berkedip, pertanda koneksi Internet mati. Setelah mencoba berkali-kali telepon, akhirnya berhasil meraih Customer Service My Republic (ISP) untuk mendapat kabar bahwa ada kabel yang rusak di wilayah Jatinegara.

“Teknisi kami sudah ada di lapangan, silakan ditunggu ya pak. Ada hal lain yang bisa kami bantu?”

Hanya itu penjelasan yang kami terima.

Dan hari pun terasa sangat panjang. Apalagi, obat dokter yang diberikan untuk sakit gigiku ternyata tak bekerja baik. Jadilah rasa nyut-nyutan itu menjalar ke mana-mana dan menguras kesabaran.

Ditambah Duta yang terus gelisah karena jatah main Minecraft-nya sirna gegara Internet mati & luka sunatnya belum sembuh, suasana menjadi semakin tidak oke.

Untunglah masih ada koneksi Internet via Bolt. Walaupun koneksinya tak terlalu mulus, tapi lumayan menjaga beberapa pekerjaan dasar terselesaikan.

(c) Alijoy.com

(c) Alijoy.com

***

Suasana Hati yang Rentan

Matinya Internet dan kegelisahan yang kurasakan ternyata memberikan momen pembelajaran berbeda. Aku mengamati kegelisahanku dan ketidakproduktifan yang kualami.

Semakin aku mengamati, semakin aku sadar tentang kerentanan hati dan diriku. Betapa mudahnya sebuah hal bisa mengganggu suasana hatiku. Hal yang demikian sederhana (internet mati & sakit gigi) ternyata begitu memengaruhi diriku.

Aku juga menyadari, kehendak untuk melampaui ketergantungan pada fasilitas (Internet lancar) ternyata tak mudah dilakukan. Kegalauan karena rencana kegiatan berantakan ternyata tak mudah dipulihkan. Belum lagi sakit gigi yang tak seberapa itu ternyata benar-benar menjadi distraksi.

Akhirnya, aku belajar lagi untuk bahagia dengan kondisi apapun, seperti yang sering kunasihatkan kepada anak-anakku: bahagia kalau ada fasilitas maupun tak ada fasilitas, bahagia tanpa tergantung apapun. Semua itu adalah ilmu praktik, bukan sekedar teori saja.

Yah, spiritualitas adalah perihal menjalani kehidupan dengan baik, dalam kondisi apapun. Spritualitas adalah perjalanan menyelami diri.

Dan aku masih harus lebih banyak lagi belajar.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. zaman sekarang segala sesuatu berketergantungan dengan internet ya mba, dengannya beberapa jenis pekerjaan menjadi mudah, bisa belajar banyak hal dari berbagai macam tutorial, cuma harus pinter juga mengelolanya, thanks infonya mba

Tinggalkan komentar Anda

*

Close