Dalam kehidupan kita yang berjalan secara otomatis, seringkali kita berjalan tanpa kesadaran penuh. Kita berjalan seperti sebuah gerombolan (herd), mengikuti tren dan arus utama yang berjalan di sekitar kita. Apa yang ada di masyarakat, kita menerimanya sebagai sebuah kebenaran yang kita terima apa adanya (taken for granted).
Seperti sekolah, yang kita terima sebagai realitas kebenaran, bahkan satu-satunya model pendidikan karena kita tidak melihat model pendidikan berbentuk lain di masyarakat. Dan kemudian, sekolah pun kita sederhanakan menjadi ijazah, seragam, raport, rangking, dan sebagainya.
Begitu banyak hal lain yang kita jalani sebagai sebuah keharusan dan kebenaran. Pertanyaannya: apakah memang demikian? Apakah memang harus seperti itu? Siapa yang mengharuskan?
HS memberikan peluang kepada kita untuk merenung dan bertanya; bisakah kita melihat pendidikan dengan sudut pandang berbeda? Bisakah kita memilih arah pendidikan yang berbeda? Bisakah kita menggunakan jalan yang berbeda untuk meraih tujuan pendidikan yang kita harapkan?
Jawabannya mungkin sederhana. Bisa. Sebab, ini adalah hidup kita. Dan yang mempertanggungjawabkan kepada Tuhan mengenai hidup kita adalah kita sendiri; bukan orang lain.
Tags: Cerita, homeschooling, inspirasi