Homeschooling dan Kompetisi

kompetisi2Salah satu pertanyaan yang cukup sering diajukan kepada para praktisi homeschooling adalah mengenai kompetisi. Sebenarnya bukan pertanyaan, tapi “penilaian”. Homeschooling dinilai tidak menumbuhkan kultur kompetitif seperti sekolah yang setiap saat mengajarkan anak-anak untuk bersaing mendapatkan nilai bagus dan menjadi juara kelas.

***

Ada 2 sudut pandang yang biasanya saya gunakan sebagai salah seorang praktisi untuk menjawab pertanyaan tentang kompetisi pada anak homeschooling. Pendapat ini mewakili sudut pandang pribadi keluarga kami, tidak merepresentasikan pandangan seluruh keluarga homeschooling.

 

Kolaborasi lebih penting daripada kompetisi
Yang pertama, dunia ini sudah sangat penuh kompetisi menang-kalah. Mengalahkan orang lain seolah menjadi ideologi yang merasuk pada seluruh sendi-sendi kehidupan. Anak dididik untuk menang dan mengalahkan orang lain. Kebahagiaan seolah-olah terjadi kalau bisa menang melawan orang lain.

Kami tak sepakat dengan pandangan yang seperti itu. Buat kami, pondasi pertumbuhan dan kebahagiaan anak bukan dari kemampuannya mengalahkan orang lain. Pondasi yang lebih tepat adalah kemampuan berkolaborasi. Dengan menyiapkan diri agar menjadi berkualitas dan memiliki kemampuan bekerjasama dengan orang lain, banyak hal yang akan lebih mungkin untuk tercipta. Spirit menang-menang dapat membuat dunia yang lebih ramah untuk semua.

 

Kompetisi adalah mengalahkan diri sendiri
Yang kedua, adalah memaknai ulang kompetisi. Kompetisi bukan mengalahkan orang lain, tetapi mengalahkan diri sendiri. Kompetisi adalah proses meningkatkan standar dan kualitas diri untuk menjadi lebih baik. Dengan sudut pandang ini, proses belajar pada anak dapat lebih ditekankan pada upaya untuk bekerja keras dan cerdas, gunan memaksimalkan keluarnya potensi diri yang diberikan Tuhan. Proses ini tak ada hubungannya dengan mengalahkan orang lain.

 

Ekspose kompetisi seperlunya
Yang ketiga, anak-anak homeschooling sebenarnya tidak steril dari kompetisi (pertandingan/lomba). Banyak kesempatan lomba yang bisa diikuti anak homeschooling. Tinggal orangtua yang memilih kompetisi yang sesuai dengan anak. Kompetisi tak hanya untuk menjadi juara kelas. Kompetisi bisa berlangsung di berbagai arena yang lebih luas dari urusan akademis.

Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu Yudhis ikut lomba renang. Prosesnya tak melalui sekolah, tetapi melalui klub renang yang diikutinya. Minggu lalu, Yudhis dan Tata juga mengikuti lomba literacy, math, dan science secara online dalam World Education Game. Lomba yang diikuti oleh anak-anak dari berbagai penjuru dunia itu seru dan sekaligus menyenangkan.

***

Jadi, buat kami kompetisi itu biasa-biasa saja. Kami tak melebih-lebihkan kompetisi. Sesuai kebutuhan, kami mengekspos anak-anak pada kompetisi agar mereka mengenal dan tak merasa asing dengannya.

In search of excellence iya, tapi excellence tak selalu bermakna mengalahkan orang lain. Sekali lagi, buat kami lebih penting membangun kompetensi dan spirit kolaborasi daripada kompetisi.

 

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close