Homeschooling dan Kemampuan Kompetisi

(c) MindspowerSalah satu concern yang sering disampaikan masyarakat umum tentang homeschoooling adalah tentang kemampuan kompetisi. Apakah anak-anak homeschooling bisa berkompetisi di dunia nyata? Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh seorang psikolog saat dimintai tanggapan tentang homeschooling.

Bagaimana kami memandang kemampuan anak-anak homeschooling dalam hal kompetisi? Berikut ini beberapa pandangan personal kami mengenai homeschooling dan kemampuan berkompetisi.

Tak Ada Satu Warna Tunggal
Sebagai prinsip awal, kami selalu memandang bahwa praktek homeschooling itu sangat beragam. Tak ada sebuah warna atau jenis tunggal. Homeschooling tak memiliki sebuah standar umum seperti sekolah karena justru karakteristik yang melekat pada homeschooling adalah keragaman.

Sebagai sebuah warning atau peringatan umum, kemampuan kompetisi itu sah-sah saja dijadikan catatan terhadap homeschooling. Ya, kalau ada keluarga homeschooling yang over protective terhadap anak-anaknya, hal itu mungkin terjadi. Tapi kalau berdasarkan pengalaman pribadi, kami melihat keluarga homeschooling itu ya biasa saja. Anaknya bergaul dan bersosialisai, kalau anaknya tertarik dengan sebuah lomba diikutkan, dll. Jadi tak ada isu yang terlalu serius dengan kemampuan kompetisi.

Memaknai Kompetisi dengan Cara Berbeda
Kami memandang kompetisi dalam pengertian yang umum (mengalahkan orang lain) tak mencukupi sebagai bekal dunia nyata. Kompetisi juga tak selamanya menghasilkan dampak baik. Juara kelas yang diagung-agung dalam model pendidikan tak identik dengan keberhasilan hidup karena sebenarnya anak-anak bisa menjadi beragam juara di bidang dan kekuatannya masing-masing.

Kami tak terlalu suka dengan makna kompetisi yang mengeksklusi orang lain. Oleh karena itu, kami memaknai kompetisi dan kebutuhan bersikap kompetitif dengan cara berbeda. Bagi kami, bersikap kompetitif berarti menang terhadap diri sendiri, sudah berusaha secara maksimal mengalahkan diri sendiri. Kompetisi sesungguhnya adalah dengan diri sendiri, menemukan passion kita dan bekerja keras mengeluarkannya sesuai kapasitas yang diberikan Tuhan kepada kita.

Kompetisi Terlalu Dilebih-lebihkan
Buat kami, kemampuan kompetisi terlalu dilebih-lebihkan (overrated). Kita memang membutuhkan kemampuan kompetisi untuk survive dan berkembang di dunia nyata. Tetapi ada kemampuan lain yang menurut kami lebih penting dan lebih dapat dijadikan pondasi hidup bermasyarakat, yaitu kemampuan bekerjasama/kolaborasi.

Sifat kompetitif yang terlalu berlebihan dapat mengakibatkan kita memandang orang lain sebagai pesaing dan musuh yang harus dikalahkan. Sikap kompetitif dapat membuat seseorang mudah curiga dan merasa terancam (insecure). Cara pandang ini justru akan menghalangi beragam pencapaian, prestasi, dan karya yang dapat diraih.

Kerjasama Membuat Dunia Lebih Baik
Kompetisi adalah sikap mental win-loose, kalah menang. Kolaborasi adalah sikap mental win-win, sama-sama menang.

Mentalitas kerjasama memandang orang lain sebagai calon partner. Kita selalu melihat orang lain sebagai peluang kolaborasi, bukan sebagai ancaman untuk eksistensi kita. Ketika melihat orang yang berhasil dan hebat, mental yang dibangun adalah mendidik diri menjadi lebih hebat sehingga dianggap layak untuk berpartner dengan orang-orang hebat itu.

***

Itulah cara pandang kami tentang kompetisi. Dan itulah yang kami bagikan dan bangun untuk anak-anak kami dalam proses homeschooling yang mereka jalani.

 

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Pak Aar izin copast dengan menyebutkan sumber aslinya. Terimakasih..^_^

Tinggalkan komentar Anda

*