<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Inspirasi</title>
	<atom:link href="http://rumahinspirasi.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahinspirasi.com</link>
	<description>Keluarga - Homeschooling - Pendidikan - Parenting</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 22:05:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<image>
<link>http://rumahinspirasi.com</link>
<url>http://rumahinspirasi.com/wp-content/mbp-favicon/Home.ico</url>
<title>Rumah Inspirasi</title>
</image>
		<item>
		<title>Biaya homeschooling itu berapa?</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/berapa-biaya-homeschooling</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/berapa-biaya-homeschooling#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 22:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[biaya homeschooling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6618</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum memasukkan anak ke sekolah, ada pertanyaan yang wajib diajukan orangtua: &#8220;Berapa biaya bersekolah di sana?&#8221; Bagaimana dengan homeschooling. Berapa biaya homeschooling? Apakah biaya homeschooling mahal? Apakah homeschooling murah? Atau homeschooling gratis? Homeschooling itu Bukan Lembaga Hal pertama yang harus difahami, homeschooling itu bukan lembaga seperti sekolah. Homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga. Jadi, homeschooling tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6619" style="margin: 7px;" title="biaya-hs" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/05/biaya-hs.gif" alt="biaya homeschooling" width="200" height="199" />Sebelum memasukkan anak ke sekolah, ada pertanyaan yang wajib diajukan orangtua: &#8220;Berapa biaya bersekolah di sana?&#8221;</p>
<p>Bagaimana dengan homeschooling. Berapa <strong>biaya homeschooling</strong>? Apakah <em>biaya homeschooling</em> mahal? Apakah homeschooling murah? Atau homeschooling gratis?</p>
<p><span id="more-6618"></span><br />
<span style="color: #800000;"><strong>Homeschooling itu Bukan Lembaga</strong></span><br />
Hal pertama yang harus difahami, homeschooling itu bukan lembaga seperti sekolah. Homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga. Jadi, homeschooling tak mendaftar ke mana-mana. Untuk lebih jelasnya, silakan membaca tentang <a href="http://rumahinspirasi.com/school-homeschool-flexi-school" target="_blank">School, Homeschooling, dan Flexi School</a>.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Membayar Sesuai Kebutuhan</strong></span><br />
Karena homeschooling diselenggarakan oleh keluarga, maka <span style="text-decoration: underline;">biaya homeschooling</span> adalah berapapun yang dikeluarkan untuk keperluan pendidikan anak. Kalau anak menggunakan materi gratis di Internet, maka biayanya gratis (baca: hanya biaya koneksi Internet). Kalau mengundang tutor, bayar biaya tutor; ikut kursus, bayar biaya kursus; ikut bimbel, bayar biaya bimbel; ikut kegiatan, bayar biaya kegiatan. Prinsip untuk biaya homeschooling adalah pay-as-you-go, bayar sesuai pemakaian; tak ada biaya gedung dan bangunan.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Antara Gratis dan Berbayar</strong></span><br />
Nah, kalau berbicara tentang biaya homeschooling, pilihannya banyak; bisa menggunakan materi-materi gratis yang ada di Internet, bisa menggunakan materi berbayar. Kalau menggunakan materi gratis, biasanya konsekuensinya adalah butuh waktu lebih banyak utk menyiapkan, menstrukturkan, dan kreativitas. Dengan demikian, biaya homeschooling menjadi murah dan ringan.</p>
<p>Kalau materi belajar yang digunakan adalah materi berbayar/berlangganan, biasanya materinya lebih terstruktur dan ada sistem pendukung, misalnya: laporan kegiatan anak. Jika pilihan ini diambil, berarti biaya homeschooling sesuai materi yang dibeli/langganan.</p>
<p>Pilihan mana yang terbaik dalam hal pembiayaan ini? Tentunya disesuaikan dengan kondisi di setiap keluarga.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Fleksibilitas Pembiayaan</strong></span><br />
Jadi, biaya homeschooling itu fleksibel; sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. Mau murah atau mahal, bisa disesuaikan. Dengan biaya berapapun yang dimiliki, keluarga bisa memaksimalkan manfaat atas dana yang dimiliki dan mengontrol pemakaiannya untuk sebesar-besar manfaat buat anak.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p> Itulah cara pandang mengenai biaya homeschooling menurut pengalaman kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/berapa-biaya-homeschooling/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harvard dan MIT membuat Sekolah Online</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/harvard-dan-mit-membuat-sekolah-online</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/harvard-dan-mit-membuat-sekolah-online#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 22:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resource]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Harvard]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah online]]></category>
		<category><![CDATA[MIT]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah online]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6612</guid>
		<description><![CDATA[Belajar dengan cara online semakin menemukan momentumnya. Universitas-universitas besar seperti Harvard dan MIT (Massachusetts Institute of Technology) mulai terjun menyelenggarakan sekolah online dengan memberikan komitmen dana sebesar $60 juta untuk mengadakan kursus online gratis yang diberi nama edX. Inisiatif edX bukan satu-satunya. Ada inisiatif pendidikan lain bernama Coursera dengan investasi $16 juta yang dilakukan bersama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6613" style="margin: 7px;" title="coursera" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/05/coursera.jpg" alt="Coursera" width="200" height="128" />Belajar dengan cara online semakin menemukan momentumnya. Universitas-universitas besar seperti Harvard dan MIT (Massachusetts Institute of Technology) mulai terjun menyelenggarakan sekolah online dengan memberikan komitmen dana sebesar $60 juta untuk mengadakan kursus online gratis yang diberi nama <strong><a href="http://www.edxonline.org/" target="_blank">edX</a></strong>.</p>
<p>Inisiatif edX bukan satu-satunya. Ada inisiatif pendidikan lain bernama <a href="https://www.coursera.org/" target="_blank"><strong>Coursera</strong> </a>dengan investasi $16 juta yang dilakukan bersama oleh Stanford, Princeton, the University of Pennsylvania dan the University of Michigan</p>
<p><span id="more-6612"></span>Di luar itu, ada <a href="http://www.udacity.com/" target="_blank"><strong>Udacity</strong> </a>yang dirintis oleh Sebastian Thrun dari Stanford yang salah satu kuliah online-nya, yaitu Artifical Intelligence, diikuti oleh 160 ribu siswa. Udacity menyelenggarakan berbagai kursus dan kuliah online gratis, antara lain: Building a Search Engine, Design of Computer Programs, Web Application Engineering, Programming A Robotic Car, Applied Cryptography. Belajar online di Udacity itu mirip kuliah beneran. Ada video perkuliahan, quizz, pekerjaan rumah, dan tugas.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Perkembangan-perkembangan semacam ini adalah pertanda yang menggembirakan untuk pendidikan yang semakin terjangkau. Teknologi menjadi enablers factor. Teknologi dimanfaatkan untuk memperbesar dan mempermudah akses pendidikan berkualitas bagi banyak orang. Seandainya pun layanan seperti ini nantinya berbayar, biayanya hampir dipastikan bisa lebih murah karena skala ekonomi (economies of scale) membuat biaya produksi/siswa menjadi lebih murah.</p>
<p>Bagaimana dengan di Indonesia? Kapankah ada inisiatif yang semacam ini untuk pendidikan yang semakin murah dan menjangkau orang banyak?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/harvard-dan-mit-membuat-sekolah-online/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerakan Sosial Ibu Profesional</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/gerakan-sosial-ibu-profesional</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/gerakan-sosial-ibu-profesional#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 03:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6605</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu buah dari perjalanan kami ke Salatiga-Boyolali-Yogyakarta beberapa bulan yang lalu adalah kolaborasi dan peluncuran IbuProfesional.com. Ibu Profesional adalah sebuah gerakan sosial untuk memberdayakan ibu-ibu agar mampu menjalankan fungsi-fungsi yang dimilikinya secara profesional. Gerakan ini diisiatifkan oleh mbak Septi Peni Wulandani. Program awalnya adalah kegiatan seminar dan ceramah-ceramah untuk para Ibu dengan mendatangkan berbagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-6607" style="margin: 7px;" title="Ibu Profesional" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/05/ibuprofesionallogo1.jpg" alt="Ibu Profesional" width="200" height="157" />Salah satu buah dari <a href="http://rumahinspirasi.com/wisata-belajar-8-kolaborasi-ibu-profesional">perjalanan kami ke Salatiga-Boyolali-Yogyakarta</a> beberapa bulan yang lalu adalah kolaborasi dan peluncuran <a title="Ibu Profesional" href="http://ibuprofesional.com/" target="_blank">IbuProfesional.com</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu Profesional adalah sebuah gerakan sosial untuk memberdayakan ibu-ibu agar mampu menjalankan fungsi-fungsi yang dimilikinya secara profesional. Gerakan ini diisiatifkan oleh mbak Septi Peni Wulandani. Program awalnya adalah kegiatan seminar dan ceramah-ceramah untuk para Ibu dengan mendatangkan berbagai narasumber.</p>
<p><span id="more-6605"></span>Dari hasil diskusi di Moo&#8217;s Camp di Boyolali, kami merasa ada titik-titik temu mengenai visi pemberdayaan keluarga dan kemudian sepakat untuk membangun sinergi bersama. Setelah digodok lebih dalam di Salatiga, kami pun sepakat untuk meluncurkan gerakan Ibu Profesional Online agar jangkauan dari gerakan ini bisa lebih luas.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Buah dari kesepakatan itu, <a title="Mira Julia Lala" href="http://mirajulia.com" target="_blank">Lala (Mira Julia)</a> mulai membangun komunitas online IbuProfesional.com. IbuProfesional.com adalah komunitas online, tempat para Ibu belajar bersama dan berbagi mengenai berbagai hal di dunia ibu, mulai pengembangan diri, pendidikan anak, hingga penguatan ekonomi keluarga. Para ibu yang ingin bergabung dan terlibat bisa <a href="http://www.ibuprofesional.com/main/authorization/signUp?" target="_blank">mendaftar langsung di www.ibuprofesional.com</a>.</p>
<p>Beberapa inisiatif kegiatan IbuProfesional.com diluncurkan. Diantaranya adalah webinar Ibu Profesional, yang merupakan terobosan dalam proses edukasi untuk ibu-ibu. Proses webinar ini bukan hanya membuat ibu-ibu semakin akrab dengan teknologi, tetapi juga meningkatkan fleksibilitas dalam proses belajar mengenai apapun.</p>
<p>Dengan webinar, jangkauan peserta webinar pun bisa lintas kota dan lintas negara. Di manapun ibu-ibu berada, selama ada jaringan Internet yang memadai, mereka bisa ikut serta dalam kegiatan webinar Ibu Profesional.</p>
<p>Pada bulan Mei 2012, tema Webinar Ibu Profesional adalah <a href="http://www.ibuprofesional.com/events/webinar-ibu-profesional-2-0-internet-sahabat-keluarga" target="_blank">Internet Sahabat Keluarga</a>. Webinar diselenggarakan setiap hari Minggu malam, pukul 20.00-21.00.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-6606" title="Webinar Ibu Profesional" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/05/webinaribuprofesional2.jpg" alt="Webinar Ibu Profesional" width="400" height="400" /><br />
***</p>
<p>Para ibu-ibu, yuk bersama-sama belajar dan saling menginspirasi di Ibu Profesional Online.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/gerakan-sosial-ibu-profesional/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liputan Homeschooling di TV Trans 7</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/liputan-homeschooling-di-tv-trans-7</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/liputan-homeschooling-di-tv-trans-7#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 03:45:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resource]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Siang]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[liputan]]></category>
		<category><![CDATA[Mivo]]></category>
		<category><![CDATA[Trans 7]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6589</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, ada wartawan dari stasiun TV Trans 7 menghubungi kami untuk membuat liputan tentang homeschooling yang dijalani keluarga kami. Menurut rencana awal, hasil liputan tentang homeschooling ini akan ditayangkan pada Hari Pendidikan Nasional (2 Mei 2012). Rencana itu ternyata berubah. Tayangan tentang homeschooling baru diputar satu minggu kemudian, dalam Berita Siang Trans [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_6602" class="wp-caption alignleft" style="width: 253px"><img class="size-full wp-image-6602" title="Liputan-Homeschooling-di-TV-Trans7" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/05/Liputan-Homeschooling-di-TV-Trans7.png" alt="Liputan Homeschooling di TV Trans 7" width="243" height="150" /><p class="wp-caption-text">Liputan Homeschooling di TV Trans 7</p></div>
<p>Beberapa waktu yang lalu, ada wartawan dari stasiun TV Trans 7 menghubungi kami untuk membuat liputan tentang homeschooling yang dijalani keluarga kami.</p>
<p>Menurut rencana awal, hasil liputan tentang homeschooling ini akan ditayangkan pada Hari Pendidikan Nasional (2 Mei 2012). Rencana itu ternyata berubah. Tayangan tentang homeschooling baru diputar satu minggu kemudian, dalam Berita Siang Trans 7 hari Rabu, 9 Mei 2012.</p>
<p><span id="more-6589"></span>Berikut ini hasil rekamannya yang diperoleh dari streaming saluran <strong><a href="http://mivo.tv/home.php" target="_blank">TV Online Mivo</a></strong>. Pada bagian depan rekaman ini terpotong beberapa detik karena kami tak mengira bahwa tayangan tentang homeschooling ini masuk sebagai berita pertama dan langsung ditayangkan (biasanya tayangan feature semacam ini ada di bagian akhir berita).</p>
<p><object width="560" height="315" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/wfX9U46XqSU?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="560" height="315" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/wfX9U46XqSU?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
<p>Sedikit koreksi tentang narasi yang ada dalam tayangan ini, keluarga kami menggunakan sistem menu dalam proses belajar, bukan menggunakan jadwal seperti sekolah. Ada beberapa materi belajar yang &#8220;wajib&#8221; alias cukup sering dilakukan anak-anak, seperti Matematika &amp; Bahasa Inggris, tetapi waktu belajarnya sangat fleksibel, bukan 2 jam. Koreksi yang lain, Lala memang berlatar belakang pendidikan Teknik Arsitektur UI, tetapi Lala tidak menyelesaikannya hingga akhir program.</p>
<p>Semoga tayangan ini bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi bagi keluarga. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/liputan-homeschooling-di-tv-trans-7/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liputan Homeschooling di DAAI TV &#8211; 2 Mei 2012</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/liputan-homeschooling-di-daai-tv-2-mei-2012</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/liputan-homeschooling-di-daai-tv-2-mei-2012#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 03:22:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resource]]></category>
		<category><![CDATA[DAAI TV]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[liputan]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Mivo]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6587</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu ada wartawan DAAI TV datang ke rumah untuk meliput tentang kegiatan homeschooling yang kami jalani. Hasil liputan tentang homeschooling itu ditayangkan dalam program &#8220;Mata Hati&#8221; DAAI TV edisi Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 2012. Berikut ini hasil rekaman tayangan tentang homeschooling di DAAI TV. Rekaman dibuat melalui streaming saluran TV [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_6599" class="wp-caption alignleft" style="width: 254px"><img class="size-full wp-image-6599" title="Liputan-Homeschooling-di-DAAI-TV-2-Mei-2012" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/05/Liputan-Homeschooling-di-DAAI-TV-2-Mei-2012.png" alt="Liputan Homeschooling di DAAI TV - 2 Mei 2012" width="244" height="150" /><p class="wp-caption-text">Liputan Homeschooling di DAAI TV - 2 Mei 2012</p></div>
<p>Beberapa waktu yang lalu ada wartawan DAAI TV datang ke rumah untuk meliput tentang kegiatan homeschooling yang kami jalani.</p>
<p>Hasil liputan tentang homeschooling itu ditayangkan dalam program &#8220;Mata Hati&#8221; DAAI TV edisi Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei 2012.</p>
<p>Berikut ini hasil rekaman tayangan tentang homeschooling di DAAI TV. Rekaman dibuat melalui streaming saluran <strong><a href="http://mivo.tv/home.php" target="_blank">TV Online Mivo</a></strong>. Semoga bermanfaat dan bisa memberikan inspirasi bagi keluarga-keluarga Indonesia tentang pendidikan alternatif selain sekolah.</p>
<p><span id="more-6587"></span><object width="560" height="315" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/H40hfQRLPAk?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="560" height="315" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/H40hfQRLPAk?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/liputan-homeschooling-di-daai-tv-2-mei-2012/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Homeschooling: Sebuah Inisiatif Warga Negara</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/homeschooling-sebuah-inisiatif-warga-negara</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/homeschooling-sebuah-inisiatif-warga-negara#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 00:02:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aar & Lala]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6580</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini 2 Mei 2012, Hari Pendidikan Nasional. Kami ingin berbagi sedikit tentang proses homeschooling yang kami jalani. Di awal pernikahan kami, 11 tahun yang lalu, diantara obrolan kami adalah tentang &#8220;visi tentang keluarga&#8221; adalah tentang pendidikan. Bentuknya tentu saja tidak formal. Kami sendiri sudah lupa bagaimana prosesnya, yang kami ingat kami kemudian sepakat tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-298" style="margin: 7px;" title="belajar" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2009/08/belajar.jpg" alt="" width="172" height="150" />Hari ini 2 Mei 2012, Hari Pendidikan Nasional. Kami ingin berbagi sedikit tentang proses homeschooling yang kami jalani.</p>
<p>Di awal pernikahan kami, 11 tahun yang lalu, diantara obrolan kami adalah tentang &#8220;visi tentang keluarga&#8221; adalah tentang pendidikan. Bentuknya tentu saja tidak formal. Kami sendiri sudah lupa bagaimana prosesnya, yang kami ingat kami kemudian sepakat tentang perlunya model pendidikan alternatif untuk anak-anak.</p>
<p><span id="more-6580"></span><br />
<span style="color: #800000;"><strong>Alasan Memilih Homeschooling</strong></span><br />
Kami berangkat dari dua titik berbeda, tetapi ujungnya sama. Lala yang &#8220;anak gaul&#8221; mengharapkan anak-anak yang punya kesempatan sosialisasi yang luas. Aku mengharapkan proses pendidikan yang cutomized, memberikan kesempatan yang lebar untuk pertumbuhan anak. Mungkin aku terpengaruh oleh buku &#8220;Totto Chan&#8221; yang pernah kubaca saat kuliah, sebuah model pendidikan dengan model &#8220;menu belajar&#8221;.</p>
<p>Proses diskusi itu membawa kami ke istilah &#8220;homeschooling&#8221; saat kami melakukan riset pribadi di Internet. Dan itulah awal perjalanan kami menjalani homeschooling hingga saat ini.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Anak Kami Normal dan Biasa</strong></span><br />
O iya, anak-anak kami bukan termasuk anak jenius yang &#8220;unik&#8221;. Anak kami juga tak berkebutuhan khusus. Tiga anak kami (Yudhis, Tata, dan Duta) semuanya normal-normal saja. Kami pun tak mempunyai pengalaman buruk yang traumatis dengan sekolah. Lala &#8220;anak gaul&#8221; yang bersekolah dengan baik. Aku menikmati proses sekolahku yang berjalan hingga S2.</p>
<p>Jadi, kami memilih homeschooling karena memang kami suka dengan gagasannya; bukan karena kami atau anak-anak kami tak cocok dengan sekolah. Dan pilihan ini adalah legal, tak melanggar hukum apapun di negeri ini.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Kami bukan Artis atau Orang Kaya Raya</strong></span><br />
Homeschooling biasanya diidentikkan dengan artis atau orang kaya raya. Sebab orang membayangkan homeschooling sebagai model pendidikan berbiaya mahal.</p>
<p>Nah, kami ini hanya orang biasa, bukan artis atau orang kaya raya. Kami harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga. Kami harus mencari cara menyeimbangkan kegiatan mencari uang dan menjalani homeschooling, dan itu tak mudah. Sampai sekarang kami terus berjuang untuk membuat keseimbangan keduanya menjadi lebih baik.</p>
<p>Tentang biaya pendidikan, bagi kami homeschooling justru menjadi berkah besar karena fleksibilitasnya. Kami tak harus membayar guru dan gedung yang mahal, kami bisa menggunakan materi apapun untuk proses belajar. Bagi kami, biaya pendidikan justru menjadi lebih berkualitas dan murah karena homeschooling karena kami banyak menggunakan materi berbasis Internet.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Homeschooling Asyik tapi Repot</strong></span><br />
Kami menikmati proses homeschooling yang sudah berjalan sekitar 10 tahun ini. Dengan segala ketidaksempurnaannya, kami merasa puas. Tapi harus kami akui, homeschooling itu repot karena kita harus mengurus mengurusi sendiri pendidikan anak-anak. Beda dengan sekolah di mana kita hanya tinggal cari uang yang banyak dan titip anak kita kepada para guru &amp; sistem yang sudah baku.</p>
<p>Untunglah kami tak bermasalah dengan kerepotan itu. Kami melihat kerepotan itu sebagai harga yang harus kami bayar dengan pilihan homeschooling. Dan ternyata, seiring berjalannya waktu kerepotan mengurusi pendidikan anak semakin berkurang karena anak-anak makin mandiri.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Homeschooling Membuat Lebih Berdaya</strong></span><br />
Karena homeschooling, kami relatif tak terpengaruh dengan berbagai isu dan guncangan tentang pendidikan. UNAS, contekan massal, tawuran, dan kebijakan pemerintah dan praktek pendidikan yang dianggap bermasalah di masyarakat.</p>
<p>Berkat homeschooling, kami menjadi lebih berfokus pada hal-hal yang bisa kami lakukan. Kami tak khawatir dengan hal-hal eksternal di luar kontrol kami. Dan itu membuat suasana hati dan kebahagiaan seluruh anggota keluarga menjadi lebih baik.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Masih banyak lagi hal tentang homeschooling yang bisa dituliskan. Tapi waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Saatnya mulai bekerja dan berkegiatan lain.</p>
<p>Selamat Hardiknas bagi para pendidik, pecinta dan aktivis pendidikan, serta keluarga-keluarga yang peduli pendidikan di manapun berada. Berkat Anda semua, kita selalu memiliki harapan yang lebih baik untuk Indonesia kita tercinta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/homeschooling-sebuah-inisiatif-warga-negara/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Homeschooling dan Kemampuan Kompetisi</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/homeschooling-dan-kemampuan-kompetisi</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/homeschooling-dan-kemampuan-kompetisi#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Apr 2012 21:54:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[kompetisi]]></category>
		<category><![CDATA[kompetitif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6569</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu concern yang sering disampaikan masyarakat umum tentang homeschoooling adalah tentang kemampuan kompetisi. Apakah anak-anak homeschooling bisa berkompetisi di dunia nyata? Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh seorang psikolog saat dimintai tanggapan tentang homeschooling. Bagaimana kami memandang kemampuan anak-anak homeschooling dalam hal kompetisi? Berikut ini beberapa pandangan personal kami mengenai homeschooling dan kemampuan berkompetisi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6573" style="margin: 7px;" title="kompetisi" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/04/kompetisi.jpg" alt="(c) Mindspower" width="200" height="150" />Salah satu concern yang sering disampaikan masyarakat umum tentang homeschoooling adalah tentang kemampuan kompetisi. Apakah anak-anak homeschooling bisa berkompetisi di dunia nyata? Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh seorang psikolog saat dimintai tanggapan tentang homeschooling.</p>
<p>Bagaimana kami memandang kemampuan anak-anak homeschooling dalam hal kompetisi? Berikut ini beberapa pandangan personal kami mengenai homeschooling dan kemampuan berkompetisi.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong><span id="more-6569"></span>Tak Ada Satu Warna Tunggal</strong></span><br />
Sebagai prinsip awal, kami selalu memandang bahwa praktek homeschooling itu sangat beragam. Tak ada sebuah warna atau jenis tunggal. Homeschooling tak memiliki sebuah standar umum seperti sekolah karena justru karakteristik yang melekat pada homeschooling adalah keragaman.</p>
<p>Sebagai sebuah warning atau peringatan umum, kemampuan kompetisi itu sah-sah saja dijadikan catatan terhadap homeschooling. Ya, kalau ada keluarga homeschooling yang over protective terhadap anak-anaknya, hal itu mungkin terjadi. Tapi kalau berdasarkan pengalaman pribadi, kami melihat keluarga homeschooling itu ya biasa saja. Anaknya bergaul dan bersosialisai, kalau anaknya tertarik dengan sebuah lomba diikutkan, dll. Jadi tak ada isu yang terlalu serius dengan kemampuan kompetisi.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Memaknai Kompetisi dengan Cara Berbeda</strong></span><br />
Kami memandang kompetisi dalam pengertian yang umum (mengalahkan orang lain) tak mencukupi sebagai bekal dunia nyata. Kompetisi juga tak selamanya menghasilkan dampak baik. Juara kelas yang diagung-agung dalam model pendidikan tak identik dengan keberhasilan hidup karena sebenarnya anak-anak bisa menjadi beragam juara di bidang dan kekuatannya masing-masing.</p>
<p>Kami tak terlalu suka dengan makna kompetisi yang mengeksklusi orang lain. Oleh karena itu, kami memaknai kompetisi dan kebutuhan bersikap kompetitif dengan cara berbeda. Bagi kami, bersikap kompetitif berarti menang terhadap diri sendiri, sudah berusaha secara maksimal mengalahkan diri sendiri. Kompetisi sesungguhnya adalah dengan diri sendiri, menemukan passion kita dan bekerja keras mengeluarkannya sesuai kapasitas yang diberikan Tuhan kepada kita.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Kompetisi Terlalu Dilebih-lebihkan</strong></span><br />
Buat kami, kemampuan kompetisi terlalu dilebih-lebihkan (overrated). Kita memang membutuhkan kemampuan kompetisi untuk survive dan berkembang di dunia nyata. Tetapi ada kemampuan lain yang menurut kami lebih penting dan lebih dapat dijadikan pondasi hidup bermasyarakat, yaitu kemampuan bekerjasama/kolaborasi.</p>
<p>Sifat kompetitif yang terlalu berlebihan dapat mengakibatkan kita memandang orang lain sebagai pesaing dan musuh yang harus dikalahkan. Sikap kompetitif dapat membuat seseorang mudah curiga dan merasa terancam (insecure). Cara pandang ini justru akan menghalangi beragam pencapaian, prestasi, dan karya yang dapat diraih.</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>Kerjasama Membuat Dunia Lebih Baik</strong></span><br />
Kompetisi adalah sikap mental win-loose, kalah menang. Kolaborasi adalah sikap mental win-win, sama-sama menang.</p>
<p>Mentalitas kerjasama memandang orang lain sebagai calon partner. Kita selalu melihat orang lain sebagai peluang kolaborasi, bukan sebagai ancaman untuk eksistensi kita. Ketika melihat orang yang berhasil dan hebat, mental yang dibangun adalah mendidik diri menjadi lebih hebat sehingga dianggap layak untuk berpartner dengan orang-orang hebat itu.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Itulah cara pandang kami tentang kompetisi. Dan itulah yang kami bagikan dan bangun untuk anak-anak kami dalam proses homeschooling yang mereka jalani.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/homeschooling-dan-kemampuan-kompetisi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rantai Gajah  &#8211; Pengalaman dan Tips Membuangnya</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/rantai-gajah-pengalaman-dan-tips</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/rantai-gajah-pengalaman-dan-tips#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 11:26:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aar & Lala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6531</guid>
		<description><![CDATA[Rantai Gajah itu apa sih La? Pertanyaan itu sering muncul akhir-akhir ini akibat dari seringnya aku nyetatus tentang perjalanan meniti hari melepas Rantai Gajah yang aku punya. YA, sejak mengikuti pelatihan &#8220;Wanna be Trainer&#8221; 2 minggu lalu  aku bertekad untuk perlahan tapi pasti akan melepaskan Rantai Gajah yang aku miliki. Kisah rantai gajah itu begini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_6534" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-6534" title="rantai-gajah" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/04/rantai-gajah-150x150.jpg" alt="rantai gajah" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Rantai Gajah</p></div>
<p><strong>Rantai Gajah</strong> itu apa sih La? Pertanyaan itu sering muncul akhir-akhir ini akibat dari seringnya aku nyetatus tentang perjalanan meniti hari melepas <em>Rantai Gajah</em> yang aku punya. YA, sejak mengikuti pelatihan <a href="http://rumahinspirasi.com/wanna-be-trainer-pengalaman-mengikuti-training-jamil-azzaini-hari-pertama" target="_blank">&#8220;Wanna be Trainer&#8221;</a> 2 minggu lalu  aku bertekad untuk perlahan tapi pasti akan melepaskan <span style="text-decoration: underline;">Rantai Gajah</span> yang aku miliki.</p>
<p>Kisah rantai gajah itu begini, konon ada seekor gajah yang kakinya diikat dengan rantai baja kuat. Selama berhari-hari dia berusaha kabur tapi kemudian terjerembab karena rantai di kakinya. Awalnya dia masih meronta dan terus ingin kabur, tapi karena berkali-kali terjerembab dan jatuh, akhirnya ketika suatu hari sang pemilik gajah mengganti rantai gajah itu dengan seutas tali longgar pun si gajah yang malang itu tak mau kabur. Karena dalam pikirannya sudah melekat sebuah persepsi &#8220;kalau dia mencoba kabur, dia akan terjerembab lagi&#8221;.<span id="more-6531"></span></p>
<p>Nah, dalam kehidupan kita pun terkadang ada persepsi/pola pikir yang terbentuk dari kebiasaan kita yang sudah terbentuk lama yang membuat kita susah untuk berubah atau menemukan pola pikir baru. Rantai gajah inilah yang biasanya menghalangi kita untuk maju.</p>
<p>Lalu bagaimana caranya melepas rantai gajah ini? Tahap awal adalah menggali &amp; mengenali rantai gajah yang kita miliki. Caranya adalah dengan menuliskannya. Cari waktu yang cukup lapang untuk duduk bersantai, kemudian tuliskan maksimal 5 hal yang membuat Anda sulit untuk maju. Hal ini adalah persepsi (apa yang Anda rasa/pikir) bukan semata-mata fisik. Tapi jika fisik tersebut ternyata betul-betul yang membelenggu kita, maka kita bisa tuliskan.</p>
<p>Dalam kasusku, aku punya 4 rantai gajah utama yaitu: selalu merasa kurang waktu, nggak PD karena terlalu gemuk, pelupa, dan takut sok tahu.</p>
<p>Kemudian mintalah seseorang untuk membantu Anda menggali apa akibat jika Anda tidak mau melepas Rantai Gajah yang Anda punya.</p>
<p>Dalam pelatihan kemarin, aku berpasangan dengan Weni. Weni kemudian menggaliku dengan pertanyaan &#8220;lalu apa yang terjadi? Jadi misalnya seperti ini:</p>
<p>Weni: Apa rantai gajahmu?<br />
Lala: Selalu merasa kurang waktu<br />
Weni: Apa yang terjadi kalau kurang waktu?<br />
Lala: Banyak pekerjaan yang tidak selesai<br />
Weni: Apa yang terjadi kalau banyak pekerjaan yang tidak selesai?<br />
Lala: Hidupku bisa berantakan<br />
Weni: Apa yang terjadi kalau hidupmu berantakan?<br />
Lala: Aku kehilangan prioritas<br />
Weni: Apa yang terjadi kalau kamu kehilangan prioritas?<br />
Lala: Hidupku tidak optimal<br />
Weni: Apa yang terjadi kalau hidupmu tidak optimal?<br />
Lala: Hidupku berantakan</p>
<p>*hayaaah mbunded&#8230; hahaha. Tapi ya memang itu tujuannya. Begitu kita tak sanggup lagi menjawab pertanyaan, atau jawabannya sudah muter-muter di situ-situ saja berarti itulah yang akan terjadi. =&gt; Kejadian buruk inilah yang jadi pemicu/motivasi kita untuk melepas rantai gajah yang kita punya. Dalam kasusku, aku TAK MAU hidupku berantakan karena aku tak pandai mengatur waktu. Maka berarti aku harus bisa melepaskan rantai gajah &#8220;tak pandai mengatur waktu&#8221;.</p>
<p>Caranya bagaimana? Tentu saja dengan efisiensi waktu yang aku punya. Dari pak Jamil aku tiba-tiba seperti tersadar bahwa ternyata porsi tidur kita itu 1/3 hari (8 jam). Jadi kalau kita bisa mengambil separo saja dari porsi tidur itu dan menggantinya dengan tidur Teta, maka kita akan punya tambahan 4 jam sehari.</p>
<p>Dari proses ini, muncullah muncul komitmen pribadiku untuk membuang satu rantai gajahku alias membuat waktuku lebih efektif. Komitmen itu adalah membuat kebiasaan-kebiasaan baru.</p>
<p>Nah, kebiasaan baru yang ingin aku buat untuk diriku adalah tidur cepat maksimal jam 11-12 dan bangun cepat jam 4. Mungkin buat sebagian besar orang hal itu &#8220;biasa&#8221; tapi tidak  buatku. Sejak kuliah di Teknik Arsitektur sekian belas tahun yang lalu, aku jadi terbiasa ngalong + ngopi (entah berapa cangkir sehari).</p>
<p>Pak Jamil Azzaini bilang, kalau kebiasaan baru dilakukan secara rutin selama 90 hari, maka hasilnya akan jadi kebiasaan. Untuk menambah asupan tidur, pak Jamil mengajarkan kita untuk <a href="http://entertainment.kompas.com/read/2008/10/07/12032258/function.simplexml-load-file" target="_blank" rel="nofollow">tidur Teta</a>, tidur sesaat (sekitar 20 menit) kalau bisa dalam posisi separo duduk agar tidak terlalu pulas.</p>
<p>Setelah mencoba kebiasaan baru ini, ternyata aku merasa cocok dengan kebiasaan baru  ini.</p>
<p>Minggu pertama tentu saja berat, tapi begitu lewat seminggu pertama, badanku mulai terbiasa. Tanpa weker pun aku sudah mulai menggeliat di sekitar jam 4. Masih belum pas jam 4 sih, tapi sudah mulai geser lah yang penting. Namanya juga proses.</p>
<p>Doakan supaya aku betul-betul konsisten menjalaninya hingga hari ke 90 dan memampukanku mengolah waktu lebih baik lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://travelphotos.alittleadrift.com/Asia/Laos/Elephants/20428672_STSFWZ/1616706735_VTmV6DL#!i=1616706735&amp;k=VTmV6DL" rel="nofollow" target="_blank">Photo Rantai Gajah (c) A Little alldrift.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/rantai-gajah-pengalaman-dan-tips/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari kisah LKS Bang Maman</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/belajar-dari-kisah-lks-bang-maman</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/belajar-dari-kisah-lks-bang-maman#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 21:19:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[LKS]]></category>
		<category><![CDATA[SD]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6522</guid>
		<description><![CDATA[Kisah LKS Bang Maman dan istri simpanan sudah mulai reda di media massa. Menyedihkan melihat anak-anak kecil terekpos dengan materi pendidikan yang sangat buruk, juga pemerintah yang cenderung cuci tangan dan reaktif. Apalagi, kabarnya kasus LKS Bang Maman ini sebenarnya sudah lama ada, tetapi baru saat ini heboh karena dimunculkan oleh media. Juga, banyak lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6523" style="margin: 7px;" title="membaca-buku" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/04/membaca-buku.gif" alt="buku" width="200" height="220" />Kisah <a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/1762/1/lks.istri.simpanan." target="_blank">LKS Bang Maman dan istri simpanan</a> sudah mulai reda di media massa. Menyedihkan melihat anak-anak kecil terekpos dengan materi pendidikan yang sangat buruk, juga pemerintah yang cenderung cuci tangan dan reaktif. Apalagi, kabarnya <a href="http://groups.yahoo.com/group/sekolahrumah/message/15944" target="_blank">kasus LKS Bang Maman ini sebenarnya sudah lama ada</a>, tetapi baru saat ini heboh karena dimunculkan oleh media. Juga, banyak lagi cerita-cerita lain yang isinya kacau seperti &#8220;<a href="http://edukasi.kompas.com/read/2012/04/12/16075456/Ketika.Siswa.Dikenalkan.soal.Istri.Simpanan.Golok.dan.Seks" target="_blank">Pancing Aje dengan Perempuan</a>&#8220;.</p>
<p>Di Twitter, diskusi tentang kasus ini ramai. Cukup banyak yang membela dan menganggap hal ini adalah kasus biasa, yang sepantasnya diambil hikmahnya. Dan itu sejalan dengan <a href="http://www.beritasatu.com/mobile/megapolitan/42287-penerbit-lks-istri-simpanan-minta-maaf.html" target="_blank">sikap penerbit yang melihat masalah ini dengan dangkal, dan hanya minta maaf karena ada istilah &#8220;istri simpanan&#8221;</a>.</p>
<p><span id="more-6522"></span>Padahal menurutku masalah lebih subtansial daripada sekedar masuknya istilah &#8220;isteri simpanan&#8221;. Ada beberapa hal yang memprihatinkan dari fenomena buruknya penulisan materi pendidikan sejenis ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>1. Tak Seluruh Realitas Harus Ditampilkan kepada Anak</strong></span></p>
<p>Realitas itu sangat luas, sementara buku pelajaran hanyalah nukilan dari sebagian realitas yang ada di sekitar. Karena ruang media terbatas, maka pendidikan adalah soal memilih apa yang terbaik untuk disajikan kepada anak.</p>
<p>Balas dendam, bunuh-membunuh, perebutan warisan, premanisme bukanlah hal patut dipilih untuk disajikan kepada anak-anak yang masih belia. Masih banyak realitas dan tema lain di masyarakat yang lebih layak dan disajikan untuk anak-anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>2. Nilai Luhur Didahulukan daripada Contoh Buruk</strong></span></p>
<p>Jika kita ingin memberikan pendidikan yang baik kepada anak, maka hal pertama yang harus disajikan kepada anak adalah realitas luhur dan nilai-nilai luhur. Anak-anak SD adalah anak belia yang masih berfikir sederhana.</p>
<p>LKS Maman dan sejenisnya itu sangat membingungkan karena penuh dengan cerita intrik orang dewasa, mengejar kekuasaan, menggunakan cara apapun untuk menang, menghalalkan penipuan, dan sebagainya.</p>
<p>Oleh karena itu, penting untuk memikirkan sudut pandang dan nilai-nilai yang ingin diangkat dalam cerita. Tak ada salahnya menceritakan tentang dunia pendekar seperti Bang Maman. Tetapi, nilai-nilai dan cerita yang diangkat bisa lebih edukatif; misalnya: keberanian mengusir perampok, keberanian mendamaikan dua kelompok yang bertikai, keberanian menentang pemimpin korup, dan sebagainya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>3. Narasi Perlu Disesuaikan dengan Perkembangan Psikologis Anak</strong></span></p>
<p>Semua penulis dan pendidik pasti tahu bahwa semua anak memiliki perkembangan psikologis. Sesuai dengan perkembangan psikologisnya, berkembang pula penalaran, sudut pandang, dan nilai-nilainya.</p>
<p>Oleh karena itu, penulisan buku untuk anak-anak perlu mempertimbangkan hal ini agar buku dan cerita anak memberikan dampak positif bagi perkembangan jiwa mereka, dan bukan justru merusak dan berdampak buruk pada anak-anak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #800000;"><strong>4. Komitmen Masa Depan Anak Melebihi Kebutuhan Uang</strong></span></p>
<p>Komitmen kita terhadap pendidikan adalah kebaikan anak-anak kita dan pertumbuhan generasi penerus yang kuat. Itulah komitmen bersama yang harus dimiliki oleh pendidik, pengurus Yayasan, pemerintah, serta masyarakat. Komitmen itu tak boleh dikalahkan dengan kebutuhan mencari proyek dan uang komisi buku, yang mengakibatkan rusaknya kualitas buku anak sebagaimana yang sedang terjadi pada saat ini.</p>
<p>Tanpa komitmen itu, berarti kita memang membiarkan negeri kita untuk semakin memburuk kualitasnya; sebagus apapun argumentasi pembelaan diri kita untuk mengkamuflase dan membuat pembenarannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/belajar-dari-kisah-lks-bang-maman/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liputan Homeschooling di Trans TV</title>
		<link>http://rumahinspirasi.com/liputan-homeschooling-di-trans-tv-1</link>
		<comments>http://rumahinspirasi.com/liputan-homeschooling-di-trans-tv-1#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 00:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Lala</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resource]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Sore]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[liputan]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[Trans TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahinspirasi.com/?p=6490</guid>
		<description><![CDATA[Liputan Homeschooling beberapa hari terakhir ini cukup seru. Banyak media, baik media cetak, radio, maupun televisi, yang membuat liputan khusus tentang homeschooling. Salah satunya adalah efek dari pemberitaan tentang LKS (Lembar Kerja Siswa) kelas 2 SD yang memuat cerita tentang isteri simpanan.  Dalam pembahasan tentang pendidikan sekolah, salah satu hal yang kemudian dibahaskan juga adalah mengenai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6491" style="margin: 7px;" title="Liputan-Homeschooling-di-Trans-TV" src="http://rumahinspirasi.com/wp-content/uploads/2012/04/Liputan-Homeschooling-di-Trans-TV.png" alt="Liputan Homeschooling di Trans TV" width="250" height="187" /><strong>Liputan Homeschooling</strong> beberapa hari terakhir ini cukup seru. Banyak media, baik media cetak, radio, maupun televisi, yang membuat liputan khusus tentang homeschooling.</p>
<p>Salah satunya adalah efek dari pemberitaan tentang <a href="http://news.detik.com/read/2012/04/12/154210/1891004/10/mendikbud-bentuk-tim-telusuri-buku-kisah-bang-maman" rel="nofollow" target="_blank">LKS (Lembar Kerja Siswa) kelas 2 SD yang memuat cerita tentang isteri simpanan</a>.  Dalam pembahasan tentang pendidikan sekolah, salah satu hal yang kemudian dibahaskan juga adalah mengenai pendidikan alternatif melalui homeschooling.</p>
<p>Berikut ini rekaman dari liputan tentang homeschooling yang ditayankan dalam salah satu segmen Berita Sore Trans TV pada Jumat, 13 April 2012.</p>
<p><span id="more-6490"></span></p>
<p><object width="600" height="437" classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/sxfUrzC7qGU?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed width="600" height="437" type="application/x-shockwave-flash" src="http://www.youtube.com/v/sxfUrzC7qGU?version=3&amp;hl=en_US&amp;rel=0" allowFullScreen="true" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" /></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahinspirasi.com/liputan-homeschooling-di-trans-tv-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

