Duta, Puzzle, dan Tantrum

Wood Puzzle First Year

Kami bersyukur atas pemeliharaan dan pendidikan Tuhan yang selalu tercurah dalam hidup kami, termasuk yang disediakan-Nya untuk anak-anak. Tanpa diduga, kami mendapatkan hadiah iPad dan hal itu membuka peluang belajar yang luar biasa buat Yudhis, Tata, dan Duta.

Yang sangat terasa adalah perkembangan pada Duta. Kami merasakan perkembangan yang pesat pada Duta. Ketertarikannya pada TV sekarang tergantikan dengan iPad.

Daya tarik utama iPad adalah proses interaksinya yang sangat intuitif. Dengan menggunakan layar sentuh, Duta langsung bisa mengoperasikan iPad tanpa harus belajar secara khusus. Dia langsung bisa bermain puzzle. Bahkan, saat ini Duta sudah bisa mengoperasikan iPad mulai menyalakan iPad hingga memilih aplikasi yang ingin dimainkannya.

**

Dari interaksi Duta dengan iPad ini, kami melihat banyak proses pembelajaran yang dialami Duta. Bukan hanya dari sisi kognitif, tetapi juga merambah pada sisi emosi dan sikap. Keberadaan iPad mau tak mau membuat Duta harus belajar untuk berbagi.

Problemnya Duta masih berusia 2.5 tahun dan dia sangat suka dengan iPad-nya. Tak mudah membuat aturan untuknya yang terkadang terlihat mengerti apa yang kita katakan, tetapi terkadang terlihat “menggunakan kebayiannya untuk mendapatkan keinginannya”.

Sekarang kondisi Duta masih turun-naik. Terkadang Duta menurut, terkadang dia masih memaksa dengan merengek dan menjerit. Tapi so far dia mulai mengerti bahwa kalau aku sudah mengatakan selesai, maka itu berarti selesai. Rengekan dan tangisannya tak berpengaruh padaku.

Demikian pun, kalau ingin meminta main iPad dia harus melakukan dengan cara yang baik karena kalau menggunakan cara yang baik, maka permintaannya dipenuhi. Tetapi kalau caranya merengek atau memaksa, justru tidak dipenuhi.

**

Dari yang aku pelajari, konsistensi menegakkan aturan adalah proses yang penting dalam fase pendidikan anak. Sambil menegakkan aturan,  anak dijelaskan tentang aturan yang harus diikuti. Pada fase awal, anak biasanya berusaha menawar dan memberontak untuk mendapatkan keinginannya. Tapi respon anak selanjutnya akan mengikuti bagaimana orangtua menangani “pemberontakan” anak terhadap aturan yang diterapkan.

Kita tak perlu marah-marah atau menuruti begitu saja keinginan anak saat merajuk, merengek, atau marah-marah. Yang penting adalah konsistensi penegakan aturan dan penjelasan yang bisa diterima logika anak. Kalau fase ini berhasil dilalui, anak akan belajar mengenai koridor perilaku (apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan).

Kalau kita gagal di fase ini (tidak konsisten sehingga anak tetap bisa memaksakan kehendaknya), kemungkinan semakin besar anak akan semakin sulit dikendalikan emosinya. Jika anak tahu bahwa orangtuanya “lemah”, dia akan terbiasa menggunakan tantrum (mengamuk) sebagai senjata untuk memperoleh keinginan-keinginannya.

Semoga kami berhasil melewati fase ini dengan baik. Amin.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*