Dilema Moral dalam Pengambilan Keputusan

Ada satu cerita dari masa perkuliahan sekian puluh tahun yang lalu yang masih terkenang hingga kini. Dalam satu sesi kuliah “Etika Bisnis”, pak Anugerah Pekerti yang menjadi pengampu mata kuliah memberikan ilustrasi berupa cerita tentang dilema pengambilan keputusan.

Saya teringat terus cerita beliau karena cerita itu membantu saya menunjukkan kompleksitas pengambilan keputusan di lapangan. Ada dilema-dilema moral yang tak mudah dipecahkan dan itu mengkonfrontasi tentang nilai-nilai terpenting dalam diri kita.

Singkat ceritanya kurang lebih begini:

Suatu hari ada Anton, seorang sarjana Teknik Lingkungan. Setelah melamar pekerjaan kesana-kemari, akhirnya dia bekerja di sebuah pabrik milik seseorang yang masih saudara jauhnya.

Sesuai keahliannya, Anton bekerja di bagian pengolahan limbah di bawah supervisi senior yang telah lebih dulu bekerja di pabrik itu.

Setelah bekerja beberapa lama, Anton baru mengetahui bahwa ada yang tidak benar dalam perusahaan itu. Pengolahan limbah perusahaan itu tak sesuai dengan aturan yang seharusnya. Ada limbah berbahaya yang dibuang ke sungai dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun.

Para pegawai pemerintah yang mengawasi dan memeriksa mungkin tahu. Tapi perusahaan selalu menjamu para pegawai itu dengan baik sehingga lolos.

Anton sudah melaporkan kondisi itu ke atasannya, tapi dia disuruh diam dan bekerja saja. Anton juga sudah membicarakan kondisi itu kepada pemilik perusahaan, tapi pemilik perusahaan mengatakan bahwa biaya pembuatan instalasi itu sangat mahal dan perusahaan tak mampu mendanainya. Jika dipaksa, perusahaan akan bangkrut dan ratusan orang harus di PHK.

Sebagai seorang yang taat beragama dan baik, Anton sangat resah dengan kondisi itu. Dia ingin melakukan hal yang benar. Apalagi setelah membaca berita di koran bahwa banyak anak-anak alergi dan banyak ikan mengalami keracunan di sepanjang sungai. Anton merasa bahwa sangat mungkin salah satu penyebabnya adalah limbah di pabriknya.

***

Pertanyaannya, bagaimana jika Anda dalam posisi Anton. Keputusan apa yang akan Anda ambil?

  • Apakah Anda akan tetap bekerja di pabrik tersebut? Apakah Anda merasa usaha Anda melapor ke atasan sudah mencukupi?
  • Atau Anda berhenti dan pindah bekerja? Jika Anda memilih berpindah kerja, apakah itu cukup untuk membebaskan Anda dari rasa bersalah?
  • Apakah Anda akan menjadi pelapor (whistle blower) ke luar? Bagaimana jika pihak yang Anda lapori tidak peduli? Bagaimana kalau Anda yang diseret ke pengadilan sebagai salah satu penanggung jawab pengolahan limbah? Bagaimana kalau perusahaan menjadi bangkrut dan ratusan orang di-PHK gara-gara kasus itu terpapar ke publik? Jika Anda melapor, bisa dipastikan Anda akan dianggap sebagai pengkhianat dan tak setia kawan.

***

Cerita ini sering menjadi refleksi bagi saya, bagaimana bisa memandu anak-anak agar terampil mengambil keputusan dalam dilema moral seperti ini.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*