Definisi dan pengertian homeschooling

Kemarin, Lala memberi tahu bahwa ada diskusi yang seru di status mbak Andini Rizky tentang homeschooling. Bahasannya tentang jawaban mas Hernowo Hasim atas pertanyaan mbak Melly Kiong di milis Dikbud. Thread milis itu ada di sini:

http://groups.yahoo.com/group/DIKBUD/message/5168

Karena pada saat bersamaan sedang ada pembahasan tentang pengertian homeschooling di milis SekolahRumah, saya ingin menuliskan catatan kecil; yang mudah-mudahan bisa menjadi diskursus kecil tentang homeschooling.

**

Catatan ini merepresentasikan pendapat pribadi saya sebagai seorang praktisi homeschooling. Jadi, kalau ada ketidaksetujuan terhadap pendapat ini, silakan disampaikan kepada saya; mohon tidak digeneralisir kepada seluruh praktisi homeschooling karena para praktisi homeschooling memiliki pandangan-pandangan yang beragam tentang hal ini.

Ada beberapa poin yang ingin saya buat dalam catatan mengenai pengertian homeschooling ini.

Secara pribadi, saya tidak kenal dengan mas Hernowo Hasim (walaupun sempat ketemu di acara launching buku homeschooling-nya Kak Seto). Saya mengenal mas Hernowo dari tulisan-tulisan beliau dan saya termasuk penikmat tulisan-tulisannya yang inspiratif, merefleksikan kecintaan dan dedikasinya yang mendalam pada dunia pendidikan.

Spirit penjelasan mas Hernowo tentang homeschooling di milis itu pun saya rasakan sangat apresiatif. Hanya saja, ada pandangan beliau mengenai homeschooling yang menurut saya sebagai praktisi homeschooling kurang tepat dan ingin saya beri catatan.

1. There’s no single and simple definition
Karena karakter dasar homeschooling adalah terdistribusi (pusat gagasan terletak pada keluarga), para keluarga menyelenggarakan homeschooling yang berbeda-beda bentuknya. Itulah sebabnya, tak ada definisi yang tunggal dan mudah mengenai homeschooling sebagaimana yang dikatakan Marsha Ransom, penulis buku “The Complete Idiot’s Guide to Homeschooling”. Kalau ditanyakan kepada 100 orang praktisi homeschooling tentang bentuk dan metode yang digunakan, kemungkinan besar akan ditemukan 100 bentuk homeschooling yang berbeda.

Walaupun tak mudah dan tak ada definisi tunggal tentang homeschooling, kita tetap memerlukan sebuah definisi. Mungkin tidak dalam pengertian yang sangat ketat seperti dalam dunia akademis, tetapi definisi itu kita perlukan untuk memperjelas gagasan homeschooling dan membuat distingsi (pembedaan) terhadap gagasan-gagasan yang lain.

Dalam konteks homeschooling, definisi itu terutama diperlukan untuk meletakkan gagasan homeschooling dalam perbandingannya dengan sekolah formal.

2. Antara homeschooling dan sekolah formal

Dalam penjelasan tentang homeschooling, mas Hernowo berusaha untuk tidak mempertentangkan antara homeschooling dan sekolah.

Sampai di sini, saya mengapresiasi pandangan mas Hernowo yang berusaha membangun sikap moderat dan mendorong agar orang tak menganggap homeschooling sebagai ancaman bagi sekolah. Menurut saya, itu spirit yang benar. Sebab, orientasi pandangan kita memang seharusnya tertuju pada kepentingan anak untuk meraih tujuan-tujuan pendidikan; bukan pada sikap konfrontatif-defensif pada sebuah model pendidikan tertentu.

Tetapi pada sisi lain, kita membutuhkan sebuah gambaran yang jelas tentang homeschooling dibandingkan dengan sekolah. Sebab, to some extent, homeschooling merupakan sebuah antitesis sekolah formal.Di Amerika Serikat, homeschooling adalah anak kandung dari kritik-kritik pada model sekolah formal yang terjadi pada era tahun 1960-1970-an yang melahirkan pemikiran-pemikiran Ivan Illich, Moore, John Holt, dan sebagainya.

Ini adalah fakta dan menurut saya tidak apa-apa untuk dibuka sebagai proses pembelajaran kita. Oleh karena itu, pada tingkat gagasan tak ada salahnya untuk menyandingkan gagasan homeschooling dan sekolah, dengan tetap berusaha menjaga diri agar kita tidak bersikap ofensif-defensif.

Dari apa yang saya ketahui hingga saat ini, homeschooling selalu dipandang sebagai pendidikan alternatif selain sekolah. Saya tidak pernah membaca literatur bahwa homeschooling merupakan subordinat dari sekolah, yang ditempatkan sebagai suplemen kegiatan bersekolah.

Yang saya ketahui, pengertian homeschooling yang paling umum adalah ketika sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab dan menyelenggarakan sendiri pendidikan anaknya dan tidak mengirimkan anaknya ke sekolah.

Ada beberapa substansi dari definisi mengenai homeschooling:

  • homeschooling adalah pendidikan alternatif (bukan sekolah)
  • homeschooling diselenggarakan oleh keluarga (bukan lembaga)
  • homeschooling berbasis rumah (rumah menjadi titik awal dan sekaligus tempat kembali dalam proses belajar)

Dari titik berangkat ini, saya berpandangan adalah bahwa homeschooling sama dengan sekolah dalam artian keduanya adalah alat untuk menggapai tujuan pendidikan. Tetapi, keduanya juga perlu dibedakan (dalam pengertian netral, bukan lebih baik atau lebih buruk).

Homeschooling sendiri memiliki rentang model yang sangat lebar, mulai yang sangat tidak terstruktur dan sama sekali berbeda dari sekolah (model unschooling) hingga model yang sangat terstruktur yang mengadaptasi sekolah (model school-at-home). Diantara kedua titik ekstrem itu, ada bermacam model yang berada diantaranya.

Tetapi, dalam pandangan saya homeschooling tetaplah berbeda dari sekolah. Walaupun praktisi homeschooling menyelenggarakan homeschooling dengan menggunakan metode school-at-home yang notabene sangat mirip sekolah, tetap saja dia tidak bisa menyebut anak-anaknya pergi sekolah. Demikian pun, keluarga yang mengirimkan anaknya ke sekolah tidak bisa disebut praktisi homeschooling kendatipun dia memperkaya proses pendidikan anaknya dengan mengambil inspirasi dari praktek homeschooling. Mengambil inspirasi dari praktek homeschooling (dan dari manapun) adalah sebuah hal yang sah dan baik, tetapi tetap harus memakai istilah yang tepat.

Homeschooling adalah homeschooling. Sekolah adalah sekolah. Orangtua yang memilih homeschooling, berarti anaknya tidak sekolah. Orangtua yang anaknya sekolah berarti tidak sedang menjalankan homeschooling. Dan sebaiknya kita menghindari sebutan semi-homeschooling karena hanya akan menimbulkan ketidakjelasan dalam pemaknaannya.Toch, antara homeschooling dan sekolah tak ada yang lebih baik antara satu dengan lainnya.

**

Pengertian mengenai homeschooling ini menurut saya perlu diperjelas agar dapat memandu masyarakat. Sebab, gagasan homeschooling itu masih sangat baru di Indonesia dan sekarang adalah masa terjadinya kontestasi (perlombaan) untuk memaknai gagasan homeschooling. Ada sebagian kecenderungan homeschooling dijadikan nama untuk lembaga/institusi (dan saya termasuk di dalam barisan yg tidak setuju karena ini akan mencabut spirit HS yang paling mendasar yaitu pemberdayaan di tingkat keluarga).

Ada lagi sebagian kecenderungan memaknai HS dengan sangat ringan, sebagai proses pengayaan (enrichment) untuk proses pendidikan formal (dan saya juga tidak sepakat dengan pengertian ini karena ini akan membuat HS kehilangan makna dan menjadi sangat cair di dalam hegemoni sekolah sebagai satu-satunya model pendidikan yang diakui).

3. Mengapa perlu dibahas
Apa perlunya definisi dan pengertian homeschooling itu dibahas?

Menurut saya, sebagai sebuah gerakan sosial, ada idealitas dan tujuan-tujuan dalam praktek homeschooling yang bermanfaat untuk dunia pendidikan. Idealitas itu baru kelihatan kalau kita memperjelas gagasan tentang homeschooling dan menjadikannya sebagai sebuah hal yang praktis (bisa dilakukan). Dengan demikian, homeschooling memiliki daya gesek untuk realitas pendidikan yang ada di hadapan kita.

Beberapa dampak sosial yang bisa kita harapkan dari homeschooling menurut saya adalah:

a.Pemberdayaan keluarga
Keluarga (bukan lembaga) adalah yang menjadi fokus dalam homeschooling. Keluarga didorong untuk mengenali haknya dalam menyelenggarakan pendidikan mandiri dan diteguhkan bahwa mereka mampu mengambil keputusan terbaik untuk anak-anak dalam bidang pendidikan sehingga bisa terhindar dari rasa tak berdaya dengan adanya satu model pendidikan di sekolah yang menurut mereka tak dapat memenuhi idealitas yang dicita-citakan. Pada titik ini, homeschooling memberikan kontribusi dan alternatif (pilihan-pilihan) kepada keluarga atas ketidakpuasan terhadap sekolah.

b. Penghormatan keragaman anak
Homeschooling dengan model pendidikan yang terkustomisasi, one-on-one, memberikan peluang besar untuk pengembangan Kecerdasan Majemuk (Howard Gardner) dan berfokus pada kreativitas/passion (Sir Ken Robinson). Dengan modelnya yang kecil/organik dan non-institusional, homeschooling memiliki peluang untuk pengembangan berbagai model pendidikan yang bisa menjadi inspirasi bagi keluarga maupun pendidikan formal. Tradisi penghormatan terhadap keragaman anak ini diharapkan bisa mengimbas ke dalam model pendidikan formal.

c. Membuka Sudut Pandang Monolitik
Dengan memposisikan homeschooling sebagai model yang berbeda dari sekolah akan membuka ruang bagi pandangan-pandangan tentang pendidikan yang berbeda dari sekolah. Pendidikan tak lagi disamakan dengan sekolah karena banyak sudut pandang dan metode yang dapat digunakan untuk melihat pendidikan.

Dengan membuka ruang untuk model yang berbeda dari sekolah, kita bisa memiliki kesempatan yang sangat luas dan pilihan-pilihan yang sangat lebar tentang pendidikan. Diantaranya, kita dapat memasuki esensi-esensi pendidikan dan tidak dibatasi oleh berbagai “keharusan” yang sebenarnya tak esensial. Secara sederhana, anak bisa belajar apa saja yang diminati, belajar di mana saja yang disukai, belajar kapan saja diinginkan, belajar dari siapa saja yang mencerahkan. Karena belajar itu hak bukan kewajiban, belajar itu menyenangkan bukan membebani.

**

Demikian catatan singkat saya tentang homeschooling (yang ternyata menjadi panjang). Semoga ada manfaatnya untuk perkembangan homeschooling di Indonesia dan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya.

Hanya satu yang kita inginkan bersama: untuk pendidikan yang lebih baik, untuk Indonesia yang lebih baik.

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Catatan singkat yang panjang ini sangat berguna bagi saya, terima kasih Pak Aar yang meluangkan waktu berbagi ilmunya.

    Tentang ofensif-defensif, saya merasa disentil, hehehe. Kami berhenti HS karena itu bos di rumah yang menentukan jalannya HS di keluarga kami beranggapan HS itu banyak kekurangannya bagi anak-anak. Karena itu tulisan saya jadi seperti propaganda HS, menunjukkan hal-hal yang tidak ideal pada sekolah dan hal-hal baik pada HS. Bukan seperti lagi, malah memang propaganda yang saya tujukan pada suami, dan termasuk orang-orang lain yang sepikiran dengan suami saya.

    Lagipula, orang biasanya malas memikirkan ulang pilihannya yang sudah “tetap”. Seperti orang yang sudah suka merek obat sakit kepala tertentu, tidak akan pikir dua kali untuk membeli merek tersebut lain kali. Merek lain ya tidak akan ditoleh-toleh lagi. Kecuali sampai ada merek lain yang mengatakan, bahwa merek dia “tidak menyebabkan rasa kantuk”, baru akan terpikir tentang kekurangan obat sakit kepala yang biasa dipilihnya, baru dia akan berubah pilihan.

    Orang yang sudah pilih sekolah juga malas memikirkan lagi kenapa mesti mengubah pilihan menjadi homeschooling. Kan sekolah itu sudah “benar”? Karena itu saya pikir perlu memperlihatkan sisi-sisi gelapnya sistem persekolahan konvensional.

    Sekolah dan homeschooling seperti memilih Pepsi dan Coca Cola. Sama-sama tidak perlu dipermasalahkan. Tetapi Pepsi tidak akan laku kalau mengatakan Coca Cola juga sama enaknya seperti Pepsi. Karena saya ingin menyebarkan gagasan homeschooling, saya pikir perlu juga gagasan membandingkan homeschooling dan sekolah yang tegas dan barangkali terlihat ofensif-defensif. Ada banyak jalan menuju Roma. Kita sama-sama ingin HS diakui sebagai pilihan yang valid di Indonesia.

  2. Impresif mbak, saya 100% setuju….!!

  3. Setuju mas Aar, memang tdk bisa pengertian satu diaduk dengan pengertian yang lain., nanti bikin bingung semua aturan…termasuk bikin bingung pembuat aturan…ujungnya bikin kita sendiri kebingungan.

    Apalagi sekarang istilah HS sdh dipakai lembaga bimbel atau sekolah formal…tambah bikin pusing.
    Kalau mau memberi pelajaran tambahan ya katakan saja…”saya menambahkan materi ini itu di rumah buat anak2 saya”

    Mb Andini, kalau suami saya mengungkapkan keragu2an tentang pendidikan anak2nya, memang harus kita buktikan bahwa apa yg kita beri itu lebih baik dan mumpuni.
    Suami saya juga dulu begitu….setuju HS tapi sering meragukan juga….akhirnya saya mengajak anak2 kerjasama menjawab keraguan ayahnya…yang memang terbukti setelah anak2 lulus pada levelnya masing2.
    Ditambah, saya rajin promosi kemajuan anak2 kepada suami saya, walaupun hal sederhana…..misalnya mereka selalu melarikan kecemasannya dalam doa….dll
    Sekarang tidak pernah terdengar keraguan lagi dari suami. Dan itu yg penting..soalnya dia yg hidup sama kita terus tiap hari….panas juga kalau tiap saat ditanya2 kemajuan anak2 kan…

    Maka dalam hal ini mb Lala n mas Aar yg paling enak…tidak perlu promosi HS pada pasangan…malah kompak menjawab setiap pertanyaan HS.

  4. Mba Andini,

    Menarik juga perumpamaan Pepsi dan Coca cola atau obat batuk. Selama ini, aku lihat banyak sekali teman-teman yang ter”provokasi” oleh tulisan-tulisan Mba Andini yang “berani” :)

    Kalau menurutku, mengkritisi sekolah itu penting, tapi kalau yang mengkritik praktisi HSer, biasanya jadi sensitif. Bukannya fokus pada “pendidikan” yang memang sedang dikritik, tapi malah jadi defensif dan jatuhnya lebih sering saling menjatuhkan.

    Justru menurutku, mengkritisi institusi pendidikan mestinya harus semakin rajin dilakukan juga oleh para orangtua yang anaknya sekolah, selain oleh para guru dan praktisi pendidikan yang lain. Mereka juga perlu disemangati untuk terus memperbaiki dan menuntut perubahan.

    Yang terjadi saat ini, orangtua yang anaknya sekolah kebanyakan lebih banyak “diam”, pasrah, dan mengeluh, tapi begitu ada pilihan homeschooling, malah sibuk membela diri.

    perbaikan institusi pendidikan dan sistemnya tetap tidak terjadi.

  5. Naning Sriwulan says:

    Terima kasih pencerahannya Mas Aar, saya sharing ya.

  6. Terima kasih teman-teman atas komentarnya. Mohon maaf baru sekarang sempat membalas komentar. :)

  7. ummu_maryam says:

    Membaca penjelasan Mas Aar ini rasanya adeeeem banget & mencerahkan…karena mas Aar yg pakar Homeschool ini bisa menjelaskannya dengan terbuka, dan luas sehingga bisa diterima & dimengerti dengan baik oleh pembaca dgn latar belakang yg beragam dgn berbagai konsep pendidikan yang diyakininya, tidak digiring untuk menstigmatisasi konsep pembelajaran lain seperti sekolah formal atau yg lainnya… ternyata istilah ‘Homeschool’ ini tidak sekaku yang saya bayangkan…saya adalah praktisi pendidikan yang netral terhadap metode pembelajaran baik itu sekolah, homeschool ataupun unschool…motto saya hampir serupa dengan Mas Aar yaitu mencerdaskan bangsa kalau saya apapun konsep atau metodenya,…(kalau mas Aar pastilah mencerdaskan dengan homeschool … :) ) saya merasakan secara langsung bagaimana proses belajar di sekolah formal yang lumayan jauh dari ideal dilihat dari segi kurikulum, fasilitas, metode dsb…saya sebagai guru hanya bisa berupaya untuk mengajarkan materi dengan baik, belum mampu mengubah sistem yang sudah mengakar …jika masyarakat kita sudah faham pentingnya pendidikan mungkin akan banyak siswa yang belajar di rumah dengan bimbingan orangtuanya…tetapi kebanyakan orangtua menyerahkan begitu saja pendidikan anaknya ke sekolah, dengan alasan kesibukan dan keterbatasan ilmu, tapi itulah realitanya…masih banyak pe-er kita untuk mencerdaskan bangsa ya mas… :smile:

    • Ummu Maryam, terima kasih apresiasinya. Mari bersama-sama menjadikan dunia pendidikan Indonesia menjadi lebih baik, dengan apapun yg bisa kita lakukan. :)

  8. Yang paling penting ketika memutuskan anak untuk homeschooling adalah orangtua tidak hanya berpikir soal pendidikan saja, tapi juga soal sosialnya anak tersebut. Ketika seorang anak diHSkan, otomatis anak itu akan kehilangan ‘teman bermain’ seperti layaknya anak2 yang bermain di sekolah. Disinilah pentingnya orangtua tetap mencarikan wadah anak untuk tetap bersosialisasi dan anak tetap punya teman bermain, bukan hanya sekedar kenal tapi jadi akrab juga, misal anak diikutkan sanggar rutin, anak diajak ke taman bermain dekat rumah, anak diikutkan tempat kursus. Intinya jangan sampai anak merasa kesepian karena HS. Sekali lagi, teman dunia maya (facebook, chat, bbman) itu bukanlah teman. Anak butuh teman di dunia nyata yang bisa intensif menjadi sahabat baginya

Trackbacks

  1. [...] Kita menghormati pilihan masing-masing, yuk. Tapi jangan sampai salah kaprah ini meluas. Tulisan Mas Aar yang ini menarik untuk dibaca. [...]

  2. [...] sesudah pulang anak belajar di rumah. Menurut artikel yang pernah kami baca, ( artikel lengkap bisa klik disini ) salah satu substansi Homeschooling adalah bahwa Homeschooling adalah pendidikan alternatif ( [...]

Tinggalkan komentar Anda

*