Catatan Proses Mentoring OASEksplorasi 2017 – 02

Menjadi mentor bagi para OASE Penggalang berarti aku perlu belajar beradaptasi dengan model komunikasi & ekspresi mereka di dunia digital. Contohnya melalui instagram stories ataupun vlogging. Aku perlu belajar melihat dari sisi mereka, memahami apa-apa yang sedang menjadi kesukaan mereka dan mencoba mendengar lebih banyak daripada mengarahkan. Ternyata hal-hal seperti itu tidak selalu mudah.

Serial catatan mentoring ini aku buat lebih banyak untuk refleksi diriku sendiri, dalam prosesku bertumbuh bersama mereka. Misalnya seperti cara komunikasi & ekspresi Alevko, salah satu OASE Penggalang di channel Youtubenya. Di sini terlihat bagaimana cara dia memandang kegiatan yang sedang dijalaninya. Memahami cara pandang mereka membantuku membangun empati terhadap proses berfikir mereka. Membuatku lebih sabar & mampu menahan diri dari mengintervensi proses yang sedang mereka jalani.

Dialektika Rapat WhatsApp ala remaja

Setelah rapat pembukaan di hari pertama pertemuan Klub Oase pasca libur Lebaran, diskusi OASE Penggalang dilakukan melalui online menggunakan aplikasi WhatsApp. Terus terang, diskusi ala WhatsApp ini tidak mudah.Orang dewasa saja masih banyak yang sulit melakukan rapat dan koordinasi tertulis melalui Whatsapp, apalagi anak-anak ABG yang notabene biasanya malas menulis.

Bayangkan menyimak diskusi one-liner (satu baris) para remaja di WhatsApp yang berputar-putar, membahas detil acara yang (menurutku) nggak penting seperti bentuk token, sementara konsep acaranya mau apa sama sekali tak tersentuh. Ratusan notif whatsapp dan sekian jam diskusi berlalu, namun tetap saja selalu ada yang tanya “maksudnya apa? ini lagi bahas apa sih?”

Rentang usia 11-16 tahun sepertinya membuat diskusi banyak dimonopoli “penggalang besar” sementara “penggalang kecil” lebih banyak menjadi silent reader, hanya read tanpa komen.

Akhirnya aku menyarankan mereka untuk menentukan “MEETING HOUR”, sebuah waktu yang memang dialokasikan untuk online bareng di WA supaya tak seharian hanya memandangi gadgetnya saja.  Anak-anak kemudian menyepakati waktu rapat antara jam 10-11 atau 20-21.

Aku juga meminta mereka untuk membuat “FOLDER KERJA” di Google Drive yang linknya dinamai ulang menggunakan bit.ly supaya namanya lebih mudah dibaca & dimengerti, kemudian membuka akses Google Drive tersebut ke semua anggota sehingga perubahan apapun bisa tetap diketahui oleh tim.

Pengayaan tentang Pengorganisasian Online

Aku kemudian berdiskusi dengan Shanty seputar metode diskusi anak-anak di WhatsApp. Kami lalu sepakat untuk memberi beberapa materi pengayaan bagi para OASE Penggalang di rapat ke-2, hari Rabu (26 Juli 2017). Materi pengayaan untuk anak-anak antara lain:

  • Teknik rapat online
  • Teknik kolaborasi menggunakan Google Drive
  • Teknik mengorganisir kelompok kecil
  • Teknik membuat pembagian tugas
  • Teknik adu ide menggunakan hasil riset
  • Teknik membuat kesepakatan & rencana kerja
  • Teknik membuat notulen rapat

***

Pertemuan Kedua dengan OASE Penggalang

suasana rapat

Untuk menggali bagaimana pendapat mereka tentang rapat online dan apa-apa yang menjadi kesulitan mereka, dua hari sebelum pertemuan kedua dilakukan kami meminta Oase Penggalang mengisi formulir online (disiapkan oleh Shanty) yang berisi refleksi proses rapat online yang mereka lakukan. Hasil formulir online itu menjadi salah satu landasan diskusi kami di pertemuan kedua dengan mereka.

Fokus Pertemuan Kedua adalah:

  • Rekap hasil rapat online
  • Pembagian Peran/Tim Kerja
  • Penentuan Acara
  • Penentuan Tanggal

Dalam pertemuan itu anak-anak mengakui bahwa rapat online mereka belum efisien bahkan sebagian besar dari mereka masih merasa bingung bagaimana proses rapat online.

Awalnya kami ingin memberikan pengayaan cara menggunakan Google Drive kepada mereka, tapi kemudian mereka sendiri yang memutuskan akan mencari tutorialnya di Youtube.

Kendala lain dari rapat online itu ternyata ada di anak-anak yang memang belum boleh memegang HP oleh orangtuanya atau mengalami kendala sulit akses internet. Untuk itu kami para mentor mengajarkan teknik meminjam gadget kepada orangtua dan memberikan template notulen supaya memudahkan bagi siapa saja yang tidak ikut rapat tetap bisa terupdate hasil rapat dari catatan rapat yang dibuat temannya.

Dalam diskusi pun didapatkan fakta bahwa ternyata Penggalang muda merasa segan untuk ikut berkomentar karena takut salah. Tapi waktu kami tanya apakah mereka mengerti apa yang dibahas di rapat online, sebagian mengaku mengerti, sebagian mengaku masih bingung.

Rapat pun bergulir untuk mencari kesepakatan bentuk acara yang akan dilakukan anak-anak. Setelah melalui diskusi yang cukup alot (bahkan melalui voting saking alotnya) mereka akhirnya memutuskan akan membuat sebuah rangkaian acara yang terdiri dari Family games yang bisa diakses secara online dan seminar (yang di dalamnya ada mini workshop dan pertunjukan ringan) di pertengahan September.

Untuk itu anak-anak membagi diri menjadi 3 tim besar. Tim Acara, Tim Logistik & Tim Promosi dengan 2-3 koordinator bidang di tiap-tiap tim besar.

Mereka juga membuat rencana tindak lanjut (apa, siapa, kapan) untuk persiapan

sebagian catatan rapat kedua

Tindak Lanjut (apa, siapa, kapan)

  • Tim acara – G (Games): Mendesign games
  • Tim acara – SP (Seminar Pertunjukan): Menyusun acara
  • Tim logistik: Mengikuti rapat acara untuk mengetahui kebutuhan
  • Tim promosi – D (Dokumentasi): Mengenal elemen dokumentasi
  • Tim promosi – P (Promosi): Menentukan model promosi

***

Membuka Kerjasama dengan Pihak Luar

Dalam proses diskusi di antara mereka, ternyata ada pak Rudy -salah seorang orangtua Penggalang- yang aktif di Komunitas Organik Indonesia (KOI) dan menawarkan membuka jalan bertemu dengan Christopher Emille founder KOI. Jadilah siang itu sebagian adik-adik penggalang meneruskan rapat bersama om Emil di Goethe Institut.

KOI sebagai komunias organik dengan anggota yang sangat besar saat ini sedang melakukan pameran rutin hampir setiap minggu di mall-mall besar di Jakarta. Sebagai bentuk dukungan KOI terhadap para pembelajar muda yang sedang mencari dana perjalanan mandiri mereka, om Emil menawarkan meja & booth gratis jika adik-adik mau menjual produk-produk buatan mereka sendiri. Bahkan om Emil menawarkan panggung jika adik-adik ingin menarik perhatian pengunjung lebih banyak lagi.

Pembicaraan dengan om Emil tambah seru ketika ngobrol tentang ragam makanan lokal yang sebenarnya lebih sehat karena bebas pengawet tapi sudah kalah pamor dengan makanan kemasan yang banyak mengandung zat pengawet, perasa, pemanis, pewarna dan penyedap rasa. Sekilas adik-adik bercerita tentang pengalaman perjalanan mereka berkenalan dengan mie lethek & sorgum dalam perjalanan mandiri mereka di OASEksplorasi tahun lalu.

Intinya, KOI mendukung program-program positif yang dilakukan oleh masyarakat. Apalagi kalau masyarakat tersebut adalah anak-anak dan untuk pendidikan. Om Emil menekankan pentingnya adik-adik mengkomunikasikan nilai-nilai (value) yang ingin dicapai dalam proyek ini. Karena inti dari penggalangan dana adalah mengkomunikasikan kepada orang lain mengapa mereka perlu mendukung, apa kebaikan yang akan dicapai, seberapa bermanfaat bagi orang banyak dll.

***

Belajar Mengorganisir Diri

Salah satu buah manis dari proses kemandirian yang sedang mereka jalani adalah seperti ketika meminta mereka untuk mengatur teknis kepergian ke rapat bersama KOI ini. Karena tidak ada mobil yang bisa mengantar mereka ke Goethe Institut, mereka membuat kesepakatan sendiri untuk membagi menjadi 3 kelompok dan memesan taksi online menuju Goethe Institut. Aku melihat secara otomatis para penggalang besar membagi diri mereka masing-masing untuk menemani penggalang kecil supaya formasi dalam mobil aman. Sementara kami para mentor justru naik mobil terpisah dari mereka.

Menjadi mentor yang menemani OASE Penggalang mencari dana bagi perjalanan mandiri mereka ternyata betul-betul bukan hal yang mudah. Godaan terbesar tentu saja ada di menahan kegemasan dan keinginan untuk “memberi tahu” mereka dan memberi arahan sejelas mungkin, merasa lebih tahu dan kusut melihat proses mereka yang (dirasa) berputar-putar. Hehehe…

Aku tahu bahwa teorinya harus memberi mereka ruang sebesar-besarnya untuk berekspresi dan berproses. Tapi juga ada kecemasan yang harus dikelola karena waktu terus bergulir dan keputusan-keputusan penting perlu segera dibuat.

Mari kita lihat seberapa cepat anak-anak ini berlari, seberapa kompak mereka merajut proyek ini, dan seberapa mampu para mentor membimbing sekaligus menahan diri (bersambung).

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Tinggalkan komentar Anda

*

Close