Catatan Proses Mentoring OASEksplorasi 2017 – 01

Di awal berdiri Klub Oase, sekitar 6 tahun yang lalu ketika sebagian besar anak-anak kami masih berusia balita dan awal sekolah dasar, kegiatan Klub Oase biasanya seputar aneka percobaan, membuat karya seni ataupun field trip ke museum dan pabrik. Saat anak-anak beranjak remaja, semakin mandiri proses belajar mereka dan semakin luas ruang yang mereka butuhkan untuk belajar.

OASEksplorasi 2016

Tahun lalu kami mencoba pendekatan yang berbeda. Kami menantang mereka untuk melakukan perjalanan mandiri (tanpa orangtua) selama beberapa hari keluar kota untuk belajar hal yang baru di tempat yang baru bersama orang-orang yang baru pula. Selama 4 bulan anak-anak #OASEPenggalang diberi tantangan mingguan untuk menyelesaikan beragam tugas yang berhubungan dengan persiapan proses perjalanan mereka. Petualangan belajar ini dinamakan #OASEksplorasi.

Dalam proses yang terjadi tahun lalu, kami menyadari bahwa walau mereka tumbuh bersama, sering main bersama dan terlihat “sama besar”, tapi kedewasaan & kemandirian anak-anak berbeda-beda. Sebagian anak sudah sangat siap untuk berpetualang jauh, sementara sebagian dari mereka masih membuat hati kebat-kebit.

Dari hasil refleksi bersama, tahun lalu anak-anak membagi diri menjadi 2 kelompok dan kemudian pergi ke 2 tempat berbeda dengan jumlah hari serta tingkat kesulitan perjalanan yang berbeda pula. Kisah perjalanan mereka bisa dilihat di sini.

Dokumentasi dalam bentuk video bisa dilihat di sini:

***

#OASEksplorasi 2017

Menyiapkan anak menjadi pembelajar mandiri merupakan salah satu tujuan dalam proses pendidikan anak-anak kami. Dari pengamatan kami sebagai orangtua, perjalanan #OASEksplorasi 2016 membuahkan lompatan kemandirian & kedewasaan pada mereka.

Itulah yang mendasari alasan kami menjadikan eksplorasi sebagai salah satu model belajar bagi anak-anak OASE remaja tahun ini. Untuk kali ini, kami mencoba sebuah pendekatan yang berbeda.

Dalam pertualangan belajar #OASEksplorasi tahun lalu, fokus pelatihan bagi mereka adalah menyiapkan mereka menjadi pembelajar yang mampu melakukan perjalanan mandiri. Tahun ini fokus kegiatan #OASEksplorasi adalah menyiapkan mereka agar bisa mencari uang untuk perjalanan mandiri yang akan mereka lakukan.

***

Proses Awal #OASEksplorasi 2017

Sebagai klub keluarga, seluruh kegiatan Klub OASE didukung dan dihidupkan oleh setiap keluarga yang terlibat. Itu berarti secara bergantian kami (orangtua) mengambil peran dalam proses pendidikan anak-anak di Klub Oase. Tahun lalu mentoring Eksplorasi dipegang oleh Shanty Syahril. Tahun ini, bersama Mella Fitriansyah & Ade Hady, aku mendaftarkan diri menjadi mentor yang akan menemani #OasePenggalang melakukan #OASEksplorasi.

Tim kami diperkuat oleh Muhammad Naufal, seorang mahasiswa tingkat akhir UI yang awalnya datang ke OASE untuk membuat skripsi, tapi kemudian memutuskan ikut magang menjadi kakak pembina bagi Oase Penggalang.

Beberapa hari sebelum pertemuan pertama Pramuka, kami meminta Oase Penggalang mengisi survey kecil-kecilan terkait dengan rencana perjalanan yang akan dilakukan Oase Penggalang. Ternyata hasilnya cukup menarik, 78% penggalang ingin pergi ke Pantai/Pulau. 39% ingin perjalanan dilakukan 3 hari 2 malam, sementara 30% lainnya ingin perjalanan dilakukan 4 hari 3 malam. Kami berusaha mendokumentasikan seapa adanya jawaban dari para remaja itu.

Menjelang pertemuan pertama pramuka, sebagian dari orangtua OASE bertemu untuk membahas rencana kegiatan Oase Penggalang sambil merefleksikan OASEksplorasi 2016 yang lalu. Dari pertemuan ini, kami kemudian menyusun konsep #OASEksplorasi yang berbeda dari tahun sebelumnya. Karena anak-anak menginginkan proses perjalanannya lebih banyak waktu main, fokus #OASEksplorasi 2017 berubah menjadi pembelajaran mencari dana. Jadi, anak-anak harus belajar mencari dana untuk membayai perjalanan #OASeksplorasi mereka. Anak-anak harus mengumpulkan dana dengan komposisi: 20% pribadi, 40% regu, 40% pasukan. Konsep ini kami tawarkan kepada #OASE Penggalang dan diterima oleh mereka.

Dalam survey menjelang pertemuan Pramuka, kami juga menggali ide dari mereka mengenai sumber pendanaan. Terkumpullah aneka ide kegiatan mulai berjualan kue, minuman, barang bekas, kaos, pernak-pernik bikinan sendiri, dan lain-lain.

Hari pertama pertemuan Klub Oase setelah libur Lebaran dibuka dengan Halal Bihalal dan rapat Oase (dari mulai Oase Siaga, Oase Penggalang sampai Oase Junior). Hari ini pula para mentor penggalang memperkenalkan diri dan menyampaikan program-program yang akan dilakukan bersama. Kami kemudian mengajak anak penggalang rapat di lapangan basket tak jauh dari RumahInspirasi untuk membahas rencana pencarian dana Eksplorasi.

Dalam pertemuan itu, kami menggali pengalaman yang sudah dimiliki anak-anak dalam mencari dana. Ternyata separuh dari Oase Penggalang sudah punya pengalaman mencari uang sendiri. Ada yang mendapatkan uang dari menggambar WPAP, membuat desain, magang di sebuah kegiatan, mengisi suara iklan, menjadi bintang iklan, mengajar, membuat kelas online, banyak juga yang dari berjualan rupa-rupa makanan, es timun, Thai tea, kartu ucapan sampai aneka pernak-pernik buatan mereka sendiri.

Sesi pertama ini bersifat curah pendapat, menggali ide dan pengalaman anak-anak, mengeksplorasi gagasan-gagasan awal yang ada di benak mereka. Proses ini sekaligus menjadi pemanasan dalam dinamika kelompok diantara anak-anak yang akan belajar mengorganisir diri untuk meraih tujuan bersama. Biaya OASEksplorasi ini akan menjadi kumpulan antara dana pribadi + dana regu + dana pasukan (kegiatan bersama).

M = Mentor, P = Penggalang (dalam bentuk percakapan yang disederhanakan bahasanya tanpa menghilangkan esensi)

M: Berapa target kalian?
P: Berapa ya Kak?

M: Kalian sudah survey belum kira-kira berapa habisnya perjalanan yang kalian butuhkan?
Para penggalang kemudian berdiskusi cukup lama. Di antara percakapan muncul hitung-hitungan kasar kalau ke Pulau Seribu semalam sekitar 350.000, maka kalau tiga malam kurang labih 750.000. Ditambah ini itu dan yang lain, mereka akhirnya menjawab kalau kebutuhan setiap anak kurang lebih 1 juta rupiah.

M: Kalau per anak 1juta, berarti satu pasukan kalian butuh berapa?
P: 25 juta kak.

M: Kalau 40% dari sumber dana merupakan usaha pasukan. Berarti kalian butuh kegiatan yang menghasilkan uang berapa?
P: 10 juta kak.

M: Berarti kegiatan apa yang perlu kalian lakukan secara pasukan untuk bisa dapat untung 10 juta?
P: Jualan kak

M: Ok, sekarang kakak ingin kalian hitung. Berapa kira-kira untung rata-rata produk yang kalian jual, lalu perlu berapa banyak produk terjual untuk bisa sampai pada jumlah uang yang kalian butuhkan? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjual produk tersebut? Setelah itu hitung berapa modal kalian dan bagaimana kalian bisa mendapatkan modal tersebut.

Kami memberi waktu 15 menit untuk mereka berdiskusi.

Penggalang pun kemudian ramai berdiskusi. Mereka belajar menghitung. Jika satu produk untung 10.000 ribu saja butuh laku 1000 produk. Sedangkan produk mereka rata-rata tidak sampai 10.000 untungnya. Belum lagi modal yang dibutuhkan untuk memproduksi 1000 produk, juga waktu yang mereka butuhkan untuk menjual 1000 produk. Diskusi bergulir hingga akhirnya setelah 2 kali meminta tambahan waktu, mereka mengkristalkan ide bahwa cara cepat mendapatan uang yang jumlahnya terasa adalah dengan membuat event.

P: Dari hasil diskusi sepertinya salah satu cara efektif mencari uang dengan jumlah besar adalah membuat event. Kami akan membuat festival, mungkin beberapa hari. Di dalamnya ada talkshow, workshop, bazaar atau drama musikal.

M: Drama musikal? Memang siapa yang mau main drama musikal?
P: Ya kami semua kak.
M: Kalian punya scriptnya?
P: Gampang lah itu kak scriptnya. Atau kita bikin pentas seni, kita undang para artis supaya ramai.
M: Kalau workshop sudah kebayang workshopnya?
P: Sudah kak. Kayaknya sih.. hehehe.
M: Siapa yang mengisi workshopnya?
P: Ya kami-kami ini kak. Kan ada yang suka fotografi, jadi bikin workshop fotografi, ada yang suka gambar, jadi bikin workshop gambar.

Pembicaraan pun mengalir dengan aneka ide yang makin lama makin membuat para mentor pening. Emang dikata gampang bikin drama musikal? Apalagi ngundang artis buat pentas seni? Trus kalau mau bikin workshop memang ada yang mau mengeluarkan uang untuk “diajari” oleh anak-anak yang sedang dalam proses belajar? Siapa marketnya? Anak-anak ini nggak mikir teknisnya apa?

Tapi ini adalah bagian dari proses belajar anak-anak. Salah satu “aturan main” yang kami jaga dalam proses ini adalah bahwa sebagai mentor, tugas kami hanyalah menjadi fasilitator dan teman diskusi mereka. Kami berusaha seminimal mungkin mengintervensi proses mereka, sepasif mungkin dalam proses diskusi, sekeras-kerasnya menahan diri dan terutama bibir untuk langsung berkomentar dan memberi arahan kepada mereka.

M: Oke, kalian silakan berdiskusi selama yang kalian mau. Kalau sudah lapar atau capek, silakan melanjutkan diskusi secara online melalui Whatsapp. Target minggu ini adalah menentukan acara apa yang ingin kalian buat, apa saja rencananya. Minggu depan kita ketemu lagi untuk rapat detil teknis & pembagian tugas di antara kalian.

Dan para mentor pun kembali ke RumahInspirasi, membiarkan mereka saling bergesekan dan berproses bersama waktu. (bersambung)

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Tinggalkan komentar Anda

*

Close