Catatan Pribadi tentang Pemilihan Presiden 2014

Berkali-kali mengikuti pemilu, baru kali ini aku merasa terharu-biru oleh pelaksanaan pemilihan umum.

Pemilihan presiden 2014 menurutku adalah pemilu paling menarik. Dinamika dan retorika sangat tajam di media sosial sering membuat hati dan pikiran terguncang-guncang. Pada saat bersamaan, pilpres 2014 ini memberikan daya tarik besar bagi masyarakat untuk berpartisipasi karena menganggap pilpres ini sangat penting untuk menentukan arah bangsa Indonesia ke depan.

Aku merasa, pilpres ini merupakan proses pendidikan yang mahal dan sekaligus berharga bagi seluruh warga negara dengan latar belakang apapun. Kami pun tak ingin melewatkan kesempatan belajar melalui pilpres 2014 ini. Lala (ibunya) membawa Yudhis untuk hadir pada kampanye kedua kubu, baik kampanye Jokowi-Jk di Bundaran HI maupun kampanye Prabowo-Hatta di Gelora Bung Karno. Dan aku belajar menyimak berita dan interaksi di social media tentang pilpres ini.

***

Ada beberapa catatan kecilku sebagai warga negara mengenai beberapa fenomena yang menurutku penting untuk bangsa ini:

Transparansi Membangun Partisipasi

Tak bisa dipungkiri, keberhasilan pelaksanaan pilpres 2014 adalah prestasi besar bangsa Indonesia. Memang belum sempurna (dan tak akan pernah sempurna), tetapi kita mengalami perkembangan yang lebih baik dalam hal budaya memilih pemimpin, check-and-balance, partisipasi publik dalam pengambilan keputusan.

Ketersediaan internet dan media sosial, serta kesediaan pengurus negara ini untuk membuka diri memberikan kesempatan luar biasa bagi warga negara untuk terlibat. Politik bukan hanya urusan para elit dan aktivis politik, tetapi juga menjadi urusan warga negara. Warga negara bukan hanya menjadi konsumen informasi, tapi bisa menjadi produsen. Kita bisa menyatakan opini tanpa harus merasa terancam.

Karena transparansi dibuka, aku melihat partisipasi publik yang luar biasa. Proses kampanye dikontrol oleh masyarakat sehingga ruang janji palsu, omong kosong, dan kebohongan-kebohongan yang biasanya dilakukan para politisi bisa dipersempit. Setiap kampanye dan perilaku politisi dibahaskan bukan hanya dibahaskan secara normatif, tapi bahkan dikuliti setajam silet, lengkap dengan pro dan kontranya.

Usai masa pencoblosan, rakyat beramai-ramai memotret dan mendokumentasikan rekap hasil pemilihan, bahkan mengunggahnya ke Internet. KPU juga membuka diri untuk diawasi publik saat proses penghitungan suara dengan membuka akses data perhitungan suara. Situs Kawal Pemilu, Bowo Harja, Universitas Muhammadiyah Malang.

Berdasarkan prinsip transparansi, siapapun yang tidak percaya dengan data KPU juga bisa membangun basis data sendiri yang tinggal disajikan ke masyarakat. Nanti data itu tinggal diadu dan saling dikritisi. Ini akan menjadi ruang uji sehingga siapapun tak bisa mengklaim punya data yang berbeda. Dengan demikian, masyarakat benar-benar mendapatkan hasil yang jujur, apapun dan siapapun yang menang.

Transparansi adalah hal yang basic dan memiliki dampak luar biasa dalam pengelolaan urusan publik. Transparansi menerangi ruang gelap yang biasanya sering menjadi transaksi liar para politisi dan birokrat busuk.

Dengan transparansi, semuanya bisa adu data. Diskusi dan perbincangan bisa didasarkan atas data, bukan hanya opini apalagi fitnah. Siapapun yang punya data, bisa membukanya ke publik. Lembaga apapun serta partai yang merasa memiliki data hasil pemilihan juga bisa mengunggahnya ke Internet. Kecurangan-kecurangan bisa didokumentasikan dan diunggah ke publik. Dalam proses yang transparan, masyarakat luas bisa mengetahui dan bisa membandingkan.

Transparansi membantu akuntabilitas. Transparansi memberikan ruang besar bagi siapapun untuk beradu kredibilitas; siapa yang jujur, konsisten, mencla-mencle, semuanya tercatat dan bisa ditelusuri balik. Kejujuran akan membangun trust (kepercayaan). Ini akan membuat proses pendidikan politik yang baik bagi masyarakat sehingga masyarakat bisa belajar untuk beradu argumen dan berbeda pendapat dengan lebih beradab.

Pasca pilpres, transparansi juga dapat digunakan untuk mendokumentasikan janji-janji calon presiden untuk dikawal dan ditagih. Siapapun presiden yang menang, proses yang transparan akan memberikan keuntungan bagi masyarakat banyak.

Tentu saja ada dampak sampingan dari transparansi yang begitu terbuka di media sosial. Perang informasi, disinformasi, pertengkaran, dan perseteruan pun mendera masyarakat yang tergagap-gagap dengan deraan transparansi online ini. Tapi menurutku, efek positif transparansi jauh lebih besar dibandingkan dampak negatifnya.

Relawan yang terbeli hatinya

Fenomena baru pilpres 2014 adalah relawan, sekelompok masyarakat umum/awam yang mengorganisir diri untuk mendukung seorang calon yang mereka percayai. Mereka mencurahkan waktu dan uang dalam kegiatannya. Bahkan profesionalitas dan kredibilitasnya pun dibawa dalam proses menjadi relawan. Relawan ini bukan aktivis partai dan mereka tidak dibayar. Mereka adalah orang-orang yang “terbeli hatinya”.

Berbeda dari orang-orang politik dan bayaran yang mengharapkan kompensasi jabatan/proyek atas dukungannya, para relawan lebih menekankan pada kesamaan nilai, visi, dan harapan. Berbeda dari pendukung biasa, para relawan adalah orang-orang yang aktif bergerak. Setelah masa pilpres selesai, para relawan kembali menekuni pekerjaannya yang biasa dan dia menjadi pengawas terhadap presiden yang didukungya.

kill-the-dj

Menurutku relawan adalah simbol penting partisipasi publik dalam politik. Ini adalah angin segar bagi siapapun yang ingin melakukan kontribusi bagi masyarakat luas melalui jalur politik. Mereka bisa membangun basis dukungan dari masyarakat luas (non partai) jika bisa membeli kepercayaan masyarakat.

Jumlah basis relawan di luar partai dan kelompok kepentingan adalah salah satu ukuran nyata akseptibilitas seorang tokoh publik.

Nah, di sinilah pentingnya para politisi untuk membeli hati masyarakat. Buatku pesannya jelas. Jika Anda politisi atau pejabat publik, buatlah diri Anda dipercaya. Tunjukkan diri Anda memang berpihak pada kepentingan umum masyarakat melalui ucapan, aksi, dan kebijakan nyata. Komunikasikan dengan baik karya-karya nyata Anda untuk publik. Jika Anda bisa menunjukkan bahwa Anda bukan hanya membela kepentingan pribadi dan kelompok Anda, semakin luas basis dukungan yang bisa Anda terima.

 

Membangun kepercayaan untuk menyumbang

Salah satu problem demokrasi Indonesia yang masih muda (baru 3x melakukan pemilihan presiden langsung) adalah politik transaksional. Dengan alasan kebutuhan dana yang besar, para politikus mendapatkan dana-dana besar dari para cukong yang kemudian menagih “investasi” dengan konsesi proyek

Fenomena baru dalam pilpres ini adalah pengumpulan dana dari publik (micro funding). Walaupun wujudnya masih embrio dan mungkin masih banyak akal-akalan (mis: penyumbang adl timses sendiri), menurutku demokrasi kita bergerak ke arah yang benar.

Tentu saja sumbangan atau iuran untuk mendanai kampanye itu bukan sama sekali baru. Yang menjadi berbeda, sumbangan itu bukan hanya diperoleh dari para aktivis partai, tapi dari masyarakat luas.

Pembiayaan politik, menurutku, idealnya dibiayai oleh para pemegang manfaatnya yaitu publik (masyarakat). Kalau politik dibiayai negara, itu ibarat pebisnis yang semua produknya sudah dipastikan laku tanpa kejelasan kualitas produknya. Pebisnis semacam ini biasanya cenderung korup dan tak akan survive di dunia nyata.

Dengan pembiayaan oleh publik, peran para cukong dapat dikurangi karena para politikus memiliki hutangnya ke masyarakat, bukan kepada para cukong yang bisa dipastikan kepentingannya adalah pribadi dan kelompoknya.

Tapi tentu saja proses ini tak mudah, bahkan sangat sulit bagi politikus konvensional yang dikarbit oleh organisasi, bukan melalui kiprah riil di msyarakat. Tapi jika kesadaran menyumbang ini terpelihara, para politikus muda yang benar2 bekerja untuk rakyat banyak dan lintas kelompok bisa mendapatkan “dana murah” untuk idealisme politiknya.

 

Kampanye hitam hanya bisa dikalahkan dengan pendidikan

Dalam pilpres ini, aku dapat ilmu baru yaitu istilah kampanye negatif dan kampanye hitam. Kampanye negatif itu ada fakta awal, tetapi dimaknai/ditafsirkan sesuai kepentingan untuk menyerang lawan. Nah, kalau kampanye hitam adalah fitnah yang sebenarnya terlarang dalam kampanye.

Yang membuatku sempat terkaget-kaget, kampanye hitam ini ternyata sangat luar biasa banyaknya. Facebook feed tiba-tiba bermunculan link-link dengan judul provokatif, menyerang, dengan sumber dan cerita yang tidak masuk akal. Psikologi masyarakat ditohok dengan mempermainkan isu yang membangkitkan ketakutan di bawah sadar dan prasangka-prasangka yang ada di masyarakat.

Yang lebih mengejutkan, banyak anggota masyarakat yang terdidik atau kelihatannya baik, ternyata ikut berpartisipasi menyebarkannya di social media.

Setahuku, memang tak ada cara menghentikan kampanye hitam. Yang jelas-jelas wujudnya memang bisa ditangkap dan dibawa ke ranah pidana. Tapi sebagian besar kampanye hitam itu berasal dari kegelapan sesuai namanya.

Jalan satu-satunya untuk menetralkan kampanye hitam adalah pendidikan, terutama information literacy, baik mengenai cara menilai kualitas informasi di Internet hingga etika saat memproduksi dan berbagi informasi. Ini salah satu pekerjaan besar untuk bangsa kita yang sudah diserbu dengan fasilitas (internet) tapi masih tergagap-gagap dalam pemanfaatannya.

 

Pahlawan-pahlawan baru

Setiap zaman membutuhkan jenis-jenis inspirasi heroisme yang berbeda.  Pilpres 2014 ini melahirkan inspirasi tentang bagaimana masyarakat bisa berkontribusi dan menjadi “pahlawan” melalui aneka karya dan keahliannya.

Jika kepahlawanan adalah sebuah bentuk kontribusi untuk kebaikan masyarakat yang melintasi sekat-sekat kelompok, kita melihat banyak karya yang luar biasa.

Diantara contoh kepahlawanan baru itu seperti Ainun Najib dkk yang menggunakan keahliannya dalam bidang teknologi untuk mengawal proses perhitungan suara yang dilakukan KPU melalui pembuatan situs Kawal Pemilu. Yang dilakukan Kawalpemilu adalah memberikan pemaknaan riil terhadap makna transparansi proses perhitungan suara.

Termasuk diantara bentuk inspirasi inisiatif yang lain adalah video-video speech composing kreatif karya Eka Gustiwana yang menghibur dan cukup bermanfaat untuk memberikan penghiburan dalam suasana kampanye yang panas. Di luar dua sosok itu, tentu saja masih banyak contoh-contoh inisiatif kreatif dan kontribusi yang sudah dilakukan masyarakat pada pilpres 2014 ini.


***

Tahapan pilpres belum selesai.

Jumat, 25 Juli 2014 kubu Prabowo-Hatta mengajukan banding atas keputusan pemenang Pilpres ke Mahkamah Konstitusi. Apapun hasilnya nanti, ini adalah pembelajaran luar biasa untuk kita semua sebagai bangsa.

Mudah-mudahan kita semua bisa bersabar dalam proses pembelajaran demokrasi ini. Tanpa berusaha membuat pembenaran atas kecurangan, segala upaya perbaikan harus dipijakkan pada jalur hukum dan tanpa kekerasan (non-violence).

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*