Bincang Pendidikan Indonesia

Wow.. akhirnya sempat lagi menulis di blog setelah tertimbun aneka kegiatan dan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya. Padahal banyak hal yang terjadi dan ingin dituliskan. Mudah-mudahan posting hari ini bisa mengawali untuk posting-posting selanjutnya.

Hari Minggu (18/5) yang lalu aku hadir dalam acara “Bincang Pendidikan Indonesia” yang diinisasi oleh Bincang Edukasi, sebuah gerakan masyarakat yang peduli dengan pendidikan. Acara berlangsung di auditorium Universitas Siswa Bangsa Internasional (USBI) di kawasan Pancoran Jakarta.

Acara Bincang Edukasi kali ini khusus karena berisi rangkaian acara penuh sejak pagi hingga sore. Biasanya acara Bined, demikian biasanya singkatan Bincang Edukasi, yang dikemas dalam bentuk presentasi singkat ala TED Talk selama beberapa 2-3 jam saja. “Ini acara spesial Bincang Edukasi,” kata mas Kreshna Aditya, inisiator Bincang Edukasi.

***

Seperti yang sudah kutuliskan, acara Bincang Pendidikan Indonesia ini sangat padat. Sesi pertama di pagi hari dimulai dengan pembahasan tentang kebijakan makro pendidikan. Tampil sebagai pembicara adalah: Suharti Ph.D (Bappenas), Nenny Soemawinata (Putra Sampoerna Foundation), dan Harry Santosa (Milennial Learning Center).

Sayangnya aku tak bisa menikmati sesi ini sepenuhnya karena harus menemani Duta berkegiatan di luar ruang.

Usai sesi kebijakan makro pendidikan, acara dilanjutkan dengan Suara Anak ke-2. Dihantarkan oleh mas Bukik Setiawan sebagai inisiator, 4 anak usia 7-12 tahun tampil bergantian mempresentasikan minat dan kegiatan yang ditekuninya.

Sesi pertama adalah Luffi yang menceritakan tentang kegiatannya menekuni drum. Disusul Satya yang menceritakan kesukaannya mengeksplorasi sejarah Perang Dunia kedua. Selanjutnya ada Ceca yang menceritakan dunia astronomi yang ditekuninya, ditutup dengan Tata yang berbagi cerita tentang dunia menggambar dan proses kesehariannya.

ceca-suara-anak

Tata-Suara-Anak

 

Bahagia melihat anak-anak yang menekuni hal-hal yang disukainya sejak dini. Mereka tak hanya melakukan kegiatan dan belajar sebagai sebuah kewajiban, tetapi bersuka cita menikmati kegiatan belajar pada bidang-bidang yang disukainya.

suara-anak-2

***

Usai acara break makan siang, Bincang Pendidikan Indonesia dilanjutkan dengan sesi Anyi (Karina Adistiana) beserta tim Gerakan Peduli Musik Anak. Mereka bukan hanya presentasi tentang penggunaan musik/lagu sebagai kegiatan pembelajaran anak, tetapi juga melakukan performance lagu-lagu yang menyegarkan suasana siang itu.

Mbak Ira (Monika Irawati) dari Erudio School of Art melanjutkan sesi dengan cerita sekolah demokratis yang sedang dirintisnya. Mengambil pelajaran dari Summerhill, sekolah setingkat SMK ini sedang mencoba mengembangkan model pendidikan yang berbasis proyek dan demokratis.

Presentasi selanjutnya adalah mas Riqo dari Kartunet Community (Karya Tuna Netra) yang berbagi tentang pengembangan aplikasi “text-to-speech” yang membantu para tunanetra untuk menggunakan teknologi komputer dan memudahkan proses belajar. Selanjutnya ada presentasi mbak Shei Latiefah dari Save Street Child tentang pengembangan pendidikan untuk anak-anak jalanan.

Pada sesi sore, presentasi dibuka dengan cerita mas Sigit Kurniawan tentang kegiatan school development outreach yang dilakukan Putra Sampoerna Foundation. Presentasi disusul dengan mbak Donna Kuswoyo dari Credo yang berbagi cerita tentang pendidikan literasi dan pra-literasi untuk anak-anak.

daniel-rosyid

Nah, yang berikutnya itu yang seru yaitu presentasi Prof Daniel Rosyid, guru besar ITS, yang membahaskan tentang agenda deschooling untuk Indonesia. Menurut pak Daniel Rosyid, seharusnya kebijakan pendidikan tidak bertumpu pada sekolah, tetapi pada keluarga. Disampaikan dengan gaya yang lugas, materi presentasi beliau menjadi provokasi gagasan pendidikan seperti yang dilakukan Ivan Illich dalam “Deschooling Society”. Gagasan-gagasan pak Daniel Rosyid dapat dibaca dalam ebook “Belajar, bukan Bersekolah” yang bisa diunduh di SINI

aar-sumardiono-homeschooling

Presentasi Prof. Daniel Rosyid mengenai deschooling menjadi berkah karunia besar buatku yang harus presentasi tentang homeschooling atau pendidikan berbasis keluarga sesudahnya. Semestinya jadwal pak Daniel itu pada sesi pertama. Tetapi karena pesawat dari Surabaya delay, jadwal presentasi beliau digeser tepat sebelumku. Dan itu menjadi pengantar pembahasanku, yang mencoba bercerita tentang sisi mikro (praktek) pendidikan berbasis keluarga yang kujalani bersama anak-anak di rumah.

Sebagai penutup, ada Pandji Pragiwaksono yang berbagi cerita dan inspirasi tentang pendidikan dengan gaya standup comedy yang menyegarkan. Satu hal yang kuingat dari Pandji adalah “jika kamu peduli dengan pendidikan, maka kamu harus menunjukkan kepedulianmu dengan aksi apapun yang bisa kamu lakukan.” Yup setuju!

pandji-pragiwaksono

***

Acara Bincang Pendidikan Indonesia ini mengenyangkan, baik secara hati, pikiran, maupun fisik. Energi positif berbagi dan semangat dari seluruh hadirin, mulai panitia hingga peserta sangat menyegarkan.

Terima kasih mas Kreshna beserta tim Bincang Edukasi yang sudah bekerja keras menginisiasi kegiatan ini. Semoga acaranya berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru Indonesia, memberi pencerahan bagi masyarakat dan para pengambil kebijakan pendidikan di Indonesia.

bincang-pendidikan-Indonesia-2014

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close