Belajar SecondLife

Sudah lama sesungguhnya mbak Ines memintaku untuk bergabung dengannya di SecondLife, sebuah dunia 3D virtual yang luar biasa. Sejak awal juga aku sudah tertarik dengan secondlife ini. Buatku dunia ini sepertinya asik.. but that’s it. Hanya beberapa kali online dan karena waktu itu komputerku spesifikasinya sederhana jadi beberapa kali crash dan.. ya sudahlah.

Bertahun-tahun kemudian, walaupun aku sudah mengganti komputerku dengan spesifikasi yang tinggi, namun aku tetap belum melirik SecondLife. Alasan pertama tentu saja kesibukan. Alasan kedua, meski konsepnya menarik, aku masih belum melihat apa untungnya “main” SecondLife selain kebahagiaan menikmati berselancar secara 3D di dunia virtual. Alasan terakhir, aku masih sedikit trauma dengan crash yang terjadi pada komputerku dulu.

Sampai… 10 hari yang lalu, ketika akhirnya aku ketemu lagi dengan mbak Ines setelah bertahun-tahun sempat putus kontak. Dalam pertemuan yang cukup singkat di akhir acara seminar Homeschooling, mbak Ines sempat “promosi” lagi tentang kecanggihan SecondLife dan apa-apa yang telah dia capai melalui SecondLife. Mbak Ines pun membukakan mataku akan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa di dunia pendidikan yang bisa dicapai melalui SecondLife.

Misalnya, untuk sebuah hal yang paling sederhana saja, melalui SecondLife kita bisa mengajak anak kita untuk pergi (fieldtrip) ke luar negeri, ke Tembok China, ke NASA, ke Korea dll hanya dengan teleport. Tempat-tempat tersebut dapat kita jelajahi dalam karena bentuknya yang visual dan detil, lengkap dengan catatan (notes) tentang benda-benda yang ada di tempat itu. Seperti never ending museum yang bisa diakses secara online dan hidup (dengan sound effect & pencahayaan yang real).

Hal berikutnya adalah peningkatan skill.
Dalam setahun terakhir, SecondLife telah mengembangkan SecondLife for Education. Banyak kelas-kelas yang dibuka di SecondLife yang diajarkan oleh Profesor2 betulan dari universitas2 ternama (betulan). Bahkan kata mbak Ines, ada sebuah Universitas di Amerika yang beberapa bulan lalu telah meluluskan satu angkatan pertama yang belajar (masuk kuliah) murni lewat SecondLife. Mbak Ines pun sekarang mengambil Kuliah lagi (sandwich program) melalui SecondLife.

Salah satu hal yang menarik misalnya adalah laboratorium yang menyediakan aneka cairan yang akan bereaksi mirip dengan aslinya. Sehingga siswa2 dapat mencoba reaksi-reaksi kimia dengan aman, jauh lebih aman daripada bila di Lab betulan. Nanti setelah cukup mahir melakukan praktikum secara virtual, mereka baru mencampur materi di lab betulan. Begitu juga dengan mahasiswa kedokteran yang latihan bedan di SecondLife sebelum akhirnya latihan bedah betulan di dunia nyata. Kelas-kelas ini pun diasuh oleh dosen-dosen betulan dari universitas betulan. Keren kan??

Contoh yang lain adalah NASA yang membangun banyak fasilitas belajar di SecondLife. Kita bukan hanya bisa belajar mengenai roket dan angkasa luar dengan mengunjungi museum NASA di SecondLife, tetapi juga dapat melakukan simulasi naik roket, bahkan berkomunikasi dengan para astronot (betulan) pada waktu-waktu tertentu.

Kemungkinan untuk bekerja di SecondLife
Kemungkinan untuk mencari uang pun terbuka luas di SecondLife. Mereka memiliki mata uang $L (linden dollar) dengan kurs (kalau tidak salah) 1US$ = 270$L. Pasar di SecondLife hidup dan perputaran uang di SecondLife juga lumayan tinggi. Total transaksi yang terjadi pada tahun 2009 lebih dari $1 milyar, dengan $50 juta per bulan merupakan transaksi dari user-ke-user.

Mungkin karena brand-brand besar mulai “buka Toko” di SecondLife. Misalnya Amazon yang membuka Autlet di SecondLife, orang belanja secara 3D, membayar dengan $L dan kemudian bukunya akan diantar secara asli di dunia nyata. Perusahaan besar seperti Toyota juga katanya buka autlet di SecondLife. Dan kata mbak Ines, kita juga bisa beli betulan dan dikirim langsung ke rumah. Hmm… menarik sekali.

Interaksi awal dengan SecondLife
Kemungkinan yang paling mendorong minatku adalah peningkatan kualitas belajar anak. Semenjak Yudhis mengikuti sebuah kelas internasional di SecondLife, dia menjadi sangaaaaat semangat mempelajari banyak hal. Bahkan ketika hal2 tersebut sangat sulit. Seperti misalnya ketika dia harus belajar tentang gempa bumi, ms Ines Ogura memberinya eBook berbahasa Inggris yang harus dia pelajari tentang teori Bumi dan isinya. Walaupun materinya dalam bahasa Inggris dan isinya lumayan berat untuknya, (menurutku) tapi dia sangat semangat. Mungkin karena di kelas sebelumnya dia mendapatkan 10 $L karena menjadi salah satu anak yang paling cepat mengerjakan object membuat bola yang bisa ditendang.

Yudhis pun menjadi semangat mempelajari tentang roket ketika malam itu dia ada kelas di NASA. Tidak hanya berhenti di situ, ketika kelas sudah berakhir pun, dia masih semangat menuliskan nama-nama roket (yang jumlahnya puluhan) yang ada di NASA dan googling untuk mencari informasi tentang itu. Semua dilakukannya dengan suka cita dan bahagia dan semangat!!

Baru beberapa hari belajar SecondLife, tapi aku sudah melihat begitu banyak potensi yang bisa diajarkan ke anak.

Tentang Akun SecondLife
O ya, untuk SecondLife ini… Akunnya diperuntukkan untuk 18 tahun ke atas. Maka yang buka account adalah bapaknya Yudhis dan Yudhis pakai akun bapaknya. Kami mencoba untuk tidak membuat fake account untuk Yudhis. Nanti kalau umurnya sudah cukup dewasa baru dia punya account sendiri. Memiliki account bersama seperti ini juga memudahkan pengawasan kami terhadap Yudhis. Dunia SecondLife bukan dunia yang aman untuk anak-anak bila dieksplorasi sendirian. Karena dunia ini 3D dan sangat terbuka, maka ekspose kepada bentuk animasi yang vulgar pun sangat mungkin terjadi.

Saranku, sebelum memperkenalkan SecondLife pada anak, orangtuanya HARUS masuk dulu, terjun dulu, belajar dulu, rasakan dulu, mendapatkan manfaat dulu, baru setelah itu kita bisa memperkenalkannya pada anak.

Aku beruntung ada mbak Ines yang mau menjadi guide untuk Yudhistira. Tapi mbak Ines sendiri sesungguhnya sangat sibuk di dunia SecondLife karena dia juga ada kuliah dan jam2 mengajar yang resmi. Maka dari itu, aku pun akhirnya masuk ke SecondLife dan menceburkan diri ke dalamnya, ikut belajar dari bawah, berusaha untuk menggalinya dan menemukan sendiri manfaatnya sebelum akhirnya kubagi pada anak-anakku kelak.

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. aku juga mau coba mbak Lala, ntar kalo bingung bisa mt tolong mbak kan ? he he

  2. Siiip…. ^_^

  3. mantapzzzzz mbak mira, Sy tertarik juga dengan program yg satu ini……..
    tolong dong infonya lebih lanjut, langkah2nya bagaimana?
    thanks b4…. =) 😐

  4. Saya sudah buat beberapa Artikel tentang SecondLife, bagaimana memulainya dan tutorial dasar. Coba klik di sini: http://rumahinspirasi.com/homeschooling/category/secondlife

  5. wow game can improve student’s knowledge ! it’s really interesting 🙂
    can you share others experience for me? i need it for my assignment.. thx before 😀

Trackbacks

  1. […] lama setelah posting pertama tentang SecondLife & posting foto2 perjalanan di SecondLife di FB, pertanyaan mulai banyak masuk. Dari mulai yang […]

Tinggalkan komentar Anda

*