Belajar Profesi di Kidzania

Senin, 8 November 2010 dimulai dengan sangat gembira. Anak-anak excited karena mereka akan pergi ke Kidzania bersama teman-teman homeschooling. Ada mbak Andhini yang mengajak anak-anak HS di milis SekolahRumah untuk pergi ke Kidzania bersama. Pergi bersama dalam kelompok selain bisa saling mengenal juga bisa berarti penghematan karena harga asal 140.000/anak bisa terpangkas menjadi 90.000 (sudah termasuk makan siang).

Kami masuk Kidzania mulai pukul 11.00. Setiap dari kami diberi gelang pengenal berwarna merah dan tiap anak diberikan cek berisi 50 Kidzos (mata uang Kidzania). Melalui pintu masuk yang seperti gerbang pesawat terbang, anak-anak memasuki dunia impian profesi mereka.

Antri tiket sebelum masuk

Hal pertama yang mereka lakukan adalah menukar cek yang diberikan di depan gerbang dengan uang Kidzos di Bank. Setelah itu, aku membuat peraturan untuk Yudhis, Abby & Tata. Mereka harus selalu bersama agar kami bisa mengawasi mereka dengan mudah karena tempatnya sangat luas. Untuk memlih kegiatan, setiap anak bergiliran memutuskan akan pergi ke mana.

Abby mendapat giliran pertama dan dia memilih untuk menjadi pembalap. Ternyata untuk jadi pembalap mereka membutuhkan SIM. Untuk mendapatkan SIM mereka butuh tes kesehatan di rumah sakit. Jadilah mereka kemudian membuat SIM dulu. Mereka harus membayar 10 Kidzos untuk tes kesehatan dan membayar lagi 10 Kidzos untuk mendapatkan SIM-nya. Tempat untuk tes kesehatan dan mendapatkan SIM itu berbeda sehingga mereka harus pindah “gedung”.

Mereka kemudian langsung menuju arena balap. Ketika mereka mau main balap, mereka baru sadar bahwa uang mereka tinggal 20 Kidzos dan untuk ikut balapan mereka harus membayar 20 Kidzos. Itu menyadarkan mereka bahwa harusnya mereka kerja dulu baru bikin SIM dan bermain balap karena pilihan balap itu membuat mereka bangkrut.. (hehe)

**

Akhirnya anak-anak memutuskan untuk bekerja dan mencari uang dulu. Mereka bersemangat pun bekerja mencari uang.

Pekerjaan pertama mereka adalah menjadi detektif di CSI (Crime Scene Investigation). Kebetulan CSI adalah salah satu film kesukaan kami, jadi anak-anak relatif familiar dengan CSI. Di sini mereka diberi tugas memecahkan kasus kejahatan “pencurian data”. Mereka dibagi 2 tim. Tim merah mencari barang bukti, tim kuning mencari fakta. Dengan seragam CSInya lengkap dengan kalung tanda pengenal, sarung tangan, koper berisi alat-alat detektif serta kertas berisi daftar pertanyaan, mereka berusaha memecahkan misteri.

Mencari barang bukti

Untuk menyelesaikan kasusnya, mereka harus pergi ke sebuah café. Tim kuning mewawancarai saksi mata, sementara tim merah mengumpulkan barang bukti. Proses ini betul-betul dijalani, mirip seperti CSI, lengkap dengan kamera dan nomer2 tanda barang bukti, kantong plastik penyimpan barang bukti, dll.

Setelah itu mereka kembali ke markas, memproses data lalu pergi ke bandara dan menginvestigasi salah satu pramugari yang ada di sana. Dari pramugari itu mereka mendapatkan kotak berisi kertas rahasia yang ada kodenya. Dengan buku kode mereka berusaha memecahkan kode itu. Kode itu membawa mereka ke taman bacaan, di situ mereka mencari gambar yang berhubungan. Mereka menemukan foto dan flashdisk yang harus mereka periksa kembali di laboratorium.

Mengolah fakta dan bukti

Ternyata flashdisk itu berisi rahasia pembuatan Chitato. Jadi ternyata, pencuri ini ingin mencuri resep rahasia Chitato. Pada akhirnya, tim Investigasi berhasil mencari tahu siapa pelakunya. Mereka pun membuat berkas penyelidikan yang kemudian akan diserahkan dan diproses oleh Polisi.

Anggota Crime Scene Investigation (CSI) Lab

Begitulah proses bekerja di CSI Lab. Setelah proses penyelidikan selesai, tiap anak mendapatkan 20 Kidzos. Aah, uang pertama.

**

Bersiap masuk pabrik coklat

Berikutnya adalah giliran Tata yang memilih profesi. Tata memilih membuat coklat. Mereka pun pergi ke pabrik Coklat Silverqueen. Di sana mereka didandani layaknya pekerja pabrik coklat. Mereka diberi pengetahuan dasar tentang tanaman coklat dan proses pembuatan coklat dari mulai biji sampai jadi coklat bungkusan. Setelah itu, mereka diajak berkeliling pabrik dan melihat proses pembuatannya. Mereka kemudian berlatih membungkus coklat seperti layaknya pekerja pabrik coklat.

Belajar mengolah coklat

Anak-anak jadi tahu bahwa coklat yang mereka nikmati itu membutuhkan proses panjang di pabrik sebelum bisa langsung dibeli di toko dan dimakan. Bahkan sampai coklat itu jadi, pengemasannya pun juga cukup lama.

Dari hasil bekerja di pabrik coklat, anak-anak pulang membawa coklat hasil bungkusan mereka & gaji sebesar 10 Kidzos.

**

Jam makan siang pukul 12.00.

Kami semua berkumpul di townsquare untuk mengambil jatah makan siang. Anak-anak makan dengan lahap dan menutupnya dengan coklat hasil kerja mereka di pabrik. Setelah beres-beres, mereka melanjutkan kegiatan.

Mereka mengawali kegiatan dengan pergi ke Bank dan membuat kartu ATM serta memasukkan semua uang hasil kerja mereka ke Bank. Jadi, merekat tak harus membawa lembaran uang. Tapi, sekarang yang mereka bawa adalah kartu ATM.

**

Kali ini giliran Abby yang memilih profesi. Abby memilih menjadi ilmuwan, dan mereka pun belajar meneliti bakteri baik dan bakteri jahat di Yakult Science Lab.

Melihat bakteri dengan mikroskop

Anak-anak diberi baju lab, diperkenalkan dengan aneka bakteri dalam tubuh dan mereka diberi tahu bahwa bakteri itu tidak kasat mata dan hanya bisa dilihat di bawah mikroskop. Mereka pun dibagikan kotak kaca berisi bakteri yang harus mereka pelajari di bawah mikroskop. Mereka harus menggambar bentuk bakteri yang terlihat dan menjawab pertanyaan yang ada di dalam kertas, seperti kegunaan bakteri jenis itu untuk apa. Apakah bakteri baik atau bakteri jahat.

Setelah itu tiap anak maju ke depan untuk mempresentasikan hasil penelitannya. Bakteri apa yang mereka lihat, apa namanya, kegunaannya, baik/jahat.

Presentasi tentang bakteri

Penelitian ditutup dengan pembagian Yakult dan sertifikat menjadi ilmuwan cilik. Mereka mendapat 20 Kidzos.

**

Selanjutnya adalah giliran Yudhis. Yudhis memilih untuk menjadi penyulih suara (dubber). Mereka masuk ke studio dubbing Indovision. Cukup lama mereka berada di dalam. Mereka ganti baju seperti layaknya petugas studio dan diberi ilmu cara menjadi penyulih suara yang baik. Kemudian mereka disuruh menonton film yang akan di dubbing, setelah menonton, mereka diberi pembagian karakter. Yudhis menjadi pemeran utama (Pingu), Abby menjadi Mama, Tata menjadi Pinga (adik Pingu), dan ada seorang anak lain yang menjadi Papa.

Sulih suara film "Pingu"

Setelah berlatih mereka pun mulai rekaman. Hasilnya lumayan juga ternyata. Dengan membayar Rp. 25 ribu, kami bisa membawa pulang DVD hasil sulih suara mereka. Dari proses ini, setiap anak mendapatkan voucher gratis langganan Indovision seluruh channel selama 1 bulan dan gaji sebesar 10 Kidzos. Woow, lumayan sekali ^_^

**

Saatnya bersenang-senang. Uang yang terkumpul sudah banyak, Anak-anak pun sudah tidak sabar menjadi pembalap. Anak-anak pergi ke sirkuit balap, menyerahkan SIM mereka dan membayar 20 Kidzos untuk main balap mobil. Mereka berganti baju, memakai helm dan setelah diberi pelajaran tentang menjadi pembalap yang baik mereka pun berlari memilih mobil dan mulai balapan.

One, two, three... GO!!

Waah, asik sekali melihat anak-anak balap mobil. Aku tak menyangka kalau Tata begitu mahir mengendalikan mobil. Kalau Yudhis & Abby rasanya sudah biasa, tapi Tata betul-betul mengagumkan dan luar biasa. Melihat gayanya, jangan-jangan di masa depan anak gadisku tersayang bercita-cita menjadi pembalap… o w ow….

Sang Pembalap

**

Sekarang giliran Tata. Tata memilih menjadi builder. Mereka pergi ke HOlCIM dan menjadi pekerja bangunan. Dengan helm dan baju seragam mereka menumpuk bata membuat dinding. Mereka belajar bahwa mereka harus menumpuk bata secara selang seling supaya dindingnya kuat. Di sini mereka dibayar 10 Kidzos.

Giliran kembali ke Abby. Abby memilih menjadi pembuat burger, tapi sedang ada anak lain. Jadilah mereka pergi menjadi pemadam kebakaran. Ternyata di sana asyik sekali. Dengan jaket kuning pemadam kebakaran, anak-anak diberikan pengetahuan cara pemadaman api besar dan kecil, cara-cara supaya selamat dari api dan apa tugas pemadam kebakaran. Mereka pun diajak olahraga dan saat sedang berolahraga, tiba-tiba ada berita bahwa ada kebakaran di Hotel Lasegar.

Olahraga sebelum memadamkan api

Mereka pun naik mobil pemadam kebakaran menuju Hotel Lasegar dan segera memadamkan api dengan selang air. Api padam, mereka senang. Tapi ternyata api muncul lagi dan mereka pun harus berjuang sekali lagi untuk memadamkan api. Setelah api betul-betul padam, mereka kembali ke markas dengan gembira dan mendapatkan 1 Kidzos.

Semprot-semprot sampai apinya padam

**

Kidzania sangat menyenangkan, banyak sekali profesi yang bisa dipelajari di sana. Rasanya kurang sekali waktu 5 jam untuk menikmati semuanya. Anak-anak sedih karena waktu mereka sudah habis. Walau masih setengah jam lagi, tapi mereka sudah tidak bisa bermain apapun juga.

Mereka kemudian berkeliling untuk menukar Kidzos. Tapi ternyata tukarannya kurang menarik. Mereka pun akhirnya sepakat untuk menyimpan Kidzos mereka di Bank dan memakainya di waktu lain kalau ada kesempatan ke Kidzania lagi.

Menjelang pulang, ternyata masih ada satu tempat yang mengizinkan mereka bermain, yaitu menjadi pembuat kopi. Wah beruntungnya. Mereka masih punya satu kesempatan bermain. Di sini mereka diajari bagaimana cara membuat kopi tradisional. Mereka menghancurkan biji kopi dalam penggilingan, memasukkannnya dalam botol dengan corong, memasukkan krim+gula, ditutup dan diaduk.

Mengolah biji kopi

Mereka juga belajar membuat kopi cara modern yang digiling pakai mesin dan dicampur dengan mesin pula. Terakhir mereka mendapatkan sebungkus kopi krim yang mereka berikan kepada lek Gana, supir kesayangan mereka.

**

16.00

Ting tong ting tong, saatnya pulang. Tidak bisa ditawar lagi.

Kami berkumpul sebentar dengan teman-teman HS di sirkuit balap, berfoto-foto dan kemudian betul-betul harus berpisah.

Foto bersama sebelum pulang

Anak-anak senang dan sedih secara bersamaan. Sepanjang jalan mereka makan burger yang dibeli menjelang pulang, lalu tidur sambil bermimpi kalau masih di Kidzania.. hehehehe..

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. wow…wow…keren abis….pasti bukan anak2ku aja yg pengen ni mbak…emaknya jg pengen….jakarta ya?pengen kesana…

Tinggalkan komentar Anda

*

Close