Belajar PKn dan Kebangsaan melalui Kampanye Capres

Sebagai warga negara yang baik aku ingin anakku bisa memahami apa yang sedang terjadi di negeri ini. Mungkin nggak harus “paham banget” tapi paling tidak aku ingin mereka (terutama Yudhis yang saat ini memasuki masa remaja) mulai peduli bahwa saat ini Indonesia sedang berada di ambang pergantian Presiden.

Memang sih, dari spanduk yang bertebaran sepanjang jalan, internet & media lain euforia pemilihan Capres sudah terasa. Tapi harus diakui kehidupan keluarga kami relatif steril dari urusan kampanye pilpres ini. Pembicaraan tentang Capres sesekali muncul di meja makan. Tapi biasanya kami tidak membicarakan tentang sosok Capres melainkan tentang pemilu itu sendiri atau sejarah presiden-presiden Indonesia sebelumnya. Terkadang Eyang Putri ikut bercerita tentang suasana pemilu waktu Eyang Putri masih muda dan sebagainya.

Sosok Capres hanya sesekali menjadi bahan pembicaraan. Itu pun biasanya dipicu dari materi komunikasi kreatif yang kami temukan di internet. Makanya waktu acara Debat Capres yang pertama, kami memutuskan untuk menontonnya bersama dengan anak-anak supaya mereka bisa menyimak langsung seperti apa calon presiden kita kelak. Sambil nonton debat, kami sambil ngobrol membahaskan tentang capres dan materi debat.

Setelah acara debat capres, apalagi begitu lagu parodinya muncul, isu tentang Capres semakin sering menjadi materi obrolan kami. Aku pun kemudian terdorong untuk mengajak Yudhis merasakan serunya pesta demokrasi.

Dari teman-teman di Facebook aku mendapat informasi bahwa hari Minggu, 22 Juni ada 2 kegiatan dari kedua Capres. Yang satu di Bunderan HI, satu lagi di Gelora Bung Karno. Kami kemudian memutuskan mengajak Yudhis ke sana. Demi kepraktisan (dan keamanan) diputuskan yang pergi hanya aku bersama Yudhis saja.

***

Rencananya kami akan berangkat dari rumah jam 5 pagi. Menurut informasi yang tersebar di Facebook, ada acara flashmob yang akan dilakukan dari pukul 5-7 pagi untuk Capres no 2 di Bunderan HI. Tapi berhubung malam sebelumnya ada acara ulang tahun adikku, kami tidur cukup larut. Aku dan Yudhis baru keluar rumah menjelang pukul 6.

Ternyata tidak mudah mendapatkan TAXI di hari Minggu, apalagi yang mau mengarah ke Bunderan HI. Supir TAXI bercerita bahwa semalam jalan seputar bunderan HI ditutup dalam rangka ulang tahun Jakarta dan macet parahnya menyebar sampai ke mana-mana. Tapi untung akhirnya kami tidak perlu jalan terlalu jauh, karena TAXI bisa merapat sampai Thamrin City.

Di perjalanan, supir TAXI bercerita tentang pengalamannya selama era pilpres ini. Dia sering mendapat uang dari kubu capres 1 & 2 untuk memastikan tanggal 9 memilih capres tertentu. “Kemarin bahkan saya dapet 10 kaos untuk dibagikan plus uang capeknya”, katanya sambil tertawa senang. Waktu aku tanya kenapa kok mau aja menerima uang begituan, katanya: “Ya mau aja lah bu, kan dikasih. Masalah saya pilih siapa nanti itu mah rahasia.. hehehe” =_=’

***

Memasuki wilayah Bunderan HI mulai suasana kampanye terasa. Sepanjang jalan Thamrin ada beberapa panggung yang dibuat oleh beragam  relawan Jokowi-JK. Semuanya menyetel musik dengan suara kencang, kami sampai bingung. Ini kok panggungnya ada banyak? Mana yang menyelenggarakan flashmob? Sempat terfikir, ini kok nggak terorganisir yah, seakan semua komunitas berlomba-lomba membuat panggung Jokowi-JKnya masing-masing. Lha terus kita disuruh ikutan panggung yang mana? Adakah panggung yang akan didatangi oleh Jokowi langsung? Di mana informasinya?

Tapi kelihatannya memang ini pendekatan kampanye Jokowi-JK yang mengandalkan inisiatif & partisipasi warga. Jadi ya memang dibiarkan saja sesuai kreativitas masing-masing relawan.

kampanye1

Kami pun memutuskan mulai menyusuri Thamrin sambil melihat-lihat panggung mana yang kira-kira mengadakan FlashMob. Hari masih pagi tapi suasana sudah sangat meriah di Bunderan HI. Ratusan (ribuan mungkin?) pejalan kaki, pesepeda, aneka tukang makanan & minuman tumplek di Bunderan HI.

Aku senang karena flashmob belum dimulai, masih nyanyi-nyanyi dan orasi ringan. Asyik juga berada di tengah massa kampanye seperti ini.

Yang seru, tiba-tiba datang massa pendukung Prabowo-Hatta datang membelah lautan pendukung Jokowi-JK dengan Marching Band-nya. Wiii seru… walau sempat adu yell-yell tapi untungnya nggak sampai berantem. Terus terang, kampanye seperti ini aku suka. Masing-masing mendendangkan nama capres yang diusungnya tanpa menjelekkan capres lawan. Dan setiap pihak menjaga diri supaya tidak terjadi bentrok dan kekerasan.

kampanye2

pendukung capres 1 melewati tempat kampanye capres 2

Demi merasakan sensasi ikut kampanye, kami benar-benar meleburkan diri dalam lautan massa. Kami bahkan ikutan berusaha mendekat ke panggung ketika pak Jokowi melakukan orasi memberi semangat para pendukungnya. Wuaa kampanye beneran nih, asik. Hehehe…

kampanye3 kampanye4

Tak berapa lama setelah pak Jokowi orasi, flashmob pun dimulai. Begitu flashmob dimulai, aku jadi galau. Mau ikutan flashmob atau mengabadikan momen ya? Kan nggak mungkin joget sambil videoin? hehe.. Akhirnya kami memilih untuk menikmati saja momen flashmob yang dilakukan oleh pendukung Jokowi.

Kampanye masih berlanjut tapi kami merasa sudah cukup menikmati momen kampanye Capres 2. Kami pun bergerak ke tujuan selanjutnya, yaitu Gelora Bung Karno.

***

kampanye9Sekarang saatnya ikut kampanye Capres 1. Yudhis yang sudah berpeluh dan kepanasan mulai mengeluh kakinya sakit bin pegel. Alasannya kemarin habis pertandingan basket di klub, jadi pahanya memang pegal-pegal. Untungnya halte busway di Thamrin ada liftnya. Jadi kami tidak perlu naik tangga untuk menuju halte busway.

Di sana kami baru tahu kalau hari itu TransJakarta GRATIS dalam rangka ulang tahun Jakarta. Wuaaa kebayang dong penuh & antrinya. Untungnya waktu giliran kami masuk ke TransJakarta pas dapet tempat duduk, lumayan dapat istirahat, dingin pula. Rejeki memang nggak kemana 😀

Turun di Gelora Bung Karno, kami dihadapkan dengan gerbang yang tertutup. Padahal umbul-umbul bergambar Prabowo-Hatta ramai di depan gerbang. Ternyata sedang ada acara salah satu bank. Waaaaa, terpaksa masuk lewat pintu gerbang berikutnya yang kalau naik mobil sih deket, tapi kalau jalan kaki dalam panas terik seperti kemarin lumayan mateng juga rasanya.

Mendekati stadion Gelora Bung Karno, mulai terasa hawa kampanye dari capres no 1. Jujur rasanya bedaaaa banget waktu di Bundaran HI. Kalau tadi rasanya tidak terorganisir, banyak spontanitas, lebih mirip pesta rakyat. Di GBK terasa amat sangat terorganisir. Banyak sekali bis-bis berbaris, lengkap dengan nomer urut & asal serta bendera partai yang terkait. Kegiatan dan massa yang datang dikoordinir oleh partai-partai dan kelompok pendukung Prtabowo-Hatta.

Di pintu gerbang, kami dibagikan poster besar Prabowo-Hatta. Aku dan Yudhis sempat salah jurusan, karena main ikut arus barisan orang-orang saja, berfikir mereka pasti menuju ke dalam stadion. Ternyata mereka sedang dibriefing di taman. Sebenarnya pengin ikutan briefing dan mendengarkan pesan mereka, tapi nggak enak karena beda kostum .. hehe.

Sampai pintu masuk stadion GBK, aku  kembali bingung karena di tiap pintu jelas tertulis “Pintu massa XYZ” atau “Pintu partai ABC”. Waa gimana ini? Sempet bingung cari pintu yang tulisannya “Pintu masyarakat non partai” tapi nggak ada.

Akhirnya kami memberanikan diri untuk masuk ke pintu massa Rhoma Irama. Eh ternyata mas-masnya baik kok. Walau bukan massa Rhoma Irama, kami tetap boleh masuk. Di dalam, kami juga menerima pembagian roti, air mineral serta pin bergambar Prabowo-Hatta seperti massa Rhoma Irama lainnya.

kampanye7

kampanye8

Suasana di dalam stadion mulai ramai ketika kami datang. Bendera partai meramaikan suasana kampanye di GBK. Ada panggung besar di tengah lapangan. Di seberangnya ada panggung yang diperuntukkan untuk wartawan. Beberapa mobil stasiun TV swasta juga berbaris rapi di pinggir panggung. Semuanya serba rapi & teratur.

Tidak lama ada seorang ibu-ibu yang datang membawa kertas ke area kami dan terlihat menghitung barisan kami sambil bertanya, “yang lain kemana?”. Aku sempet dag dig dug juga, waduh diabsen euy. Jangan-jangan aku salah ngedudukin kursi orang. Berasa jadi seperti nonton pertunjukan musik yang harus duduk sesuai karcis.

Kampanye Capres 1 di GBK dibuka dengan lagu dan kemudian orasi. Suasana kampanye capres 1 meriah dengan orasi dan teriakan para peserta kampanye menyambut ucapan para orator. Bendera-bendera partai juga berkibar-kibar.

Sama seperti di tempat kampanye Capres 2 kami tidak ikut kampanye sampai selesai. Setelah merasa puas menikmati asyiknya momen kampanye di GBK, kami pun pulang.

***

Aku bukan swing voter. Tapi aku menjunjung tinggi sportivitas dan menghargai setiap pilihan dari setiap orang, bahkan kepada anakku sendiri. Aku ingin mengajarkan anak-anak untuk bertindak adil dan mengambil keputusan yang didukung fakta, bukan hanya like-dislike semata.

Aku membawa Yudhis ke kampanye kedua capres untuk merasakan menjadi bagian dari anak negeri yang sedang memilih dari 2 kandidat terbaik negeri ini. Momen pemilihan Presiden memang kami jadikan saat terbaik untuk belajar lebih dalam tentang negara ini, tentang bagaimana proses lahirnya seorang pemimpin di negara ini.

Bagi kami, pilpres dan masa kampanye adalah sarana belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang kontekstual dan keren. Anak-anak bukan hanya belajar dengan cara menghafal, tetapi mereka melihat, mendengar, mengamati, dan merasakan pelajaran yang menjadi pengalaman hidup mereka.

Selama petualangan kami mengikuti kedua kampanye, aku mencoba menahan diri dari kecondongan terhadap satu kandidat tertentu. Aku ingin Yudhis merasakan sendiri & mendapatkan sendiri apa-apa yang dia sukai dari apa yang dia saksikan saat kampanye Capres.

Perjalanan melihat kampanye bersama Yudhis itu menyenangkan. Walau begitu, sesampai rumah aku langsung ambruk karena kepanasan. Bahkan hidungku meler dan rasanya masih teler sampai dua hari.

Tapi hatiku puas karena sudah mengeraskan diri sendiri untuk mengajak Yudhis menyaksikan meriahnya pesta demokrasi langsung dari tempat kejadian. Aku bahagia karena berhasil menahan diri untuk tidak memprovokasi Yudhis dari pandanganku terhadap salah satu capres dan membiarkannya dengan pendapatnya sendiri berdasarkan apa yang dia baca di media sosial, dia lihat dari debat capres, dia rasakan pada saat mengikuti kampanye.

Yudhis memang belum akan memilih saat ini karena usianya masih 13 tahun. Tapi dia akan menjadi pemilih dalam pilpres yang akan datang. Aku berharap, pada saat dia mendapat kesempatan untuk memilih, dia bisa memilih dengan segenap hati dan akal sehatnya, dan mampu menjadi pemilih yang dewasa, yang tidak akan merendahkan dirinya dan  kehormatannya dengan ikut menyebarkan (apalagi dengan sengaja membuat) Black Campaign terhadap capres tandingan.

Karena bagaimanapun juga kedua capres yang ada saat ini pastilah dua orang pemimpin terbaik yang dimiliki bangsa ini. Karena dari sekian juga penduduk bangsa merekalah yang menjadi calon presiden dan wakil presiden kita. Jadi PASTI mereka punya kelebihan dan kehebatan yang membawa mereka sampai di titik ini.

Hidup kampanye positif!

Dan.. sekarang silakan untuk tepuk tangan…. hehehe

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. waaaaa seruuuuu….
    ada ya, pintu khusus fans Rhoma Irama? ada ada saja….

    hidup kampanye positif!

Tinggalkan komentar Anda

*

Close