Belajar Menjadi Praktisi Zero Waste

Banyak jalan untuk berjuang. Berjuang tak harus mengangkat senjata bertaruh nyawa. Berjuang tak harus mengubah sistem dan menjadi pejabat.

Perjuangan bisa dilakukan dengan menjadikan diri kita inspirasi kebaikan bagi sekitar kita. Kita menjadi sosok yang menjalani nilai-nilai kebaikan yang kita yakini dan sekaligus bermanfaat bagi sesama.

Dan kebaikan itu bisa apa saja. Salah satu contohnya adalah yang dilakukan Lauren Singer, seorang gadis yang tinggal di New York dan memutuskan menjalani kehidupan sadar lingkungan “zero waste”. Lauren mengubah gaya hidupnya, mengganti benda-benda yang digunakannya sehari-hari. Selama 2 tahun, sampah yang dihasilkan Lauren Singer hanya sejumlah 2 botol kecil.

karen-singer1

Dia tidak mencaci orang yang hidup dengan menyampah. Dia tidak berusaha mengubah orang agar seperti dirinya. Dia hanya menunjukkan dirinya sebagai etalase nilai-nilai yang diyakininya.

“I don’t try to convert people. But the people who know me, I think sometimes they start thinking about their trash, being around me. I have friends that have started using Mason jars or eating more organic or started composting. But that’s never something I’ve told them to do. They just started doing it.”

Cerita selengkapnya: http://nymag.com/daily/intelligencer/2014/12/all-my-trash-fits-in-a-single-mason-jar.html

***

Di Amerika Serikat ada Lauren Singer, di Indonesia ada Shanty Syahril yang menjalani kehidupan dengan nilai-nilai yang kurang lebih serupa. Dia mempromosikan kesadaran lingkungan dan berusaha mempraktekkan “zero waste” dalam kesehariannya.

Setiap pergi, Shanty membawa botol minum dan wadah makan sendiri untuk mengurangi sampah. Dia tidak membeli air minum dalam kemasan dan snack berplastik. Shanty juga menggunakan kain sebagai pengganti tisu, bahan baku tas, dan lainnya. Shanty berbelanja ke pasar menggunakan wadah sendiri untuk mengurangi plastik.

Yang menyenangkan dari sosok Shanty, dia tidak merasa tinggi hati dan tidak pernah menceramahi kami. Ketika kami tertarik dan ingin tahu tentang gaya hidupnya, dia baru menjawabnya. Dia menjadi inspirasi yang tidak mengintimidasi.

Berkat inspirasi dari Shanty, keluarga kami sekarang berusaha mengurangi plastik. Setiap berbelanja ke minimarket, kami berusaha membawa tas bawaan sebagai pengganti tas kresek. Bahkan Andit berbelanja ke pasar menggunakan kotak-kotak isi ulang.

Demikian juga saat Klub Oase mengadakan kegiatan Bincang Edukasi, Shanty memandu prosesnya agar kegiatan itu minim sampah. Perencanaan hingga implementasi kegiatan dikawal agar betul-betul minim sampah. Bahkan ada evaluasi pasca kegiatan: http://jirowes.weebly.com/jurnal/nol-sampah-di-bincang-seru-homeschooling

(c) Armely Meiviana

(c) Armely Meiviana

Bahkan, kami bereksperimen dalam kegiatan camping keluarga FESPER (Festival Pendidikan Rumah) yang dihadiri sekitar 500 orang agar minim sampah. Hasilnya ternyata menjadi pengalaman luar biasa bagi kami semua. Camping selama 3 hari itu, walaupun belum ideal, ternyata bisa minim sampah. Strategi, tools dan evaluasi zero waste yang dibuat Shanty menjadi pembelajaran untuk semua: http://jirowes.weebly.com/jurnal/fesper2015

***

Semua orang bisa menjadi inspirasi dengan menjadikan dirinya bukti kebaikan yang diyakininya.
Dalam hal kesadaran lingkungan, aku banyak belajar dan sangat terinspirasi oleh Karen Singer dan Shanty Syahril.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close