Belajar Membuat Jurnal Sains

Harus diakui, satu hal yang kurang pada keluarga kami adalah kegiatan seputar sains. Biasanya kami melakukan percobaan random sains, di dapur, di kamar mandi, di ruang keluarga, di mana-mana. Sebagai penunjuang kami membeli buku-buku sains sederhana dan paket-paket percobaan.

Semua itu rasanya cukup ketika Yudhis masih kecil. Sekarang Yudhis sudah mulai masuk tingkat SMP. Matematikanya sebentar lagi tamat kelas 8. Aku merasa mulai ada kebutuhan tambahan untuk materi sains Yudhis. Rasanya butuh lebih serius, lebih terstruktur dan “lebih susah”.

Dulu kami sempat langganan Sains AtoZ dan Evan Moor. Tapi karena bentuknya printable, jadi sepertinya kurang menarik minat anak-anak, plus effort dari sisi orangtua besar sekali. Kepengennya sih dapat kelas online seperti IXL, Mark Kistler atau Reading Eggs yang saat ini kami gunakan tapi khusus untuk sains.

Dari hasil browsing, akhirnya aku menemukan Science Learning Space. Kalau melihat kurikulum dan contoh videonya, kayaknya asyik. Kebetulan ada trialnya jadi kami putuskan untuk mencobanya.

***

Minggu ini Yudhis dan Tata mulai belajar dari Science Learning Space. So far asyik banget. Gaya belajarnya mirip DigitalMommie jadi aku merasa cukup nyaman. Anak-anak dibimbing “langsung” step-by-step via video dan teks. Cara berbicara Aurora (gurunya) cukup jelas hingga tidak sulit bagi Yudhis & Tata untuk memahami petunjuknya.

Yang paling aku suka adalah dia mengajarnya percobaan dulu, baru kemudian teori dan hand out materi. Anak-anak pun belajar membuat jurnal sains. Karena hampir 90% materi/proses belajar sudah disiapkan gurunya dapat secara online, maka tugasku sebagai orangtua kini bergeser menjadi bagian support materi dan teman dalam proses mereka.

jurnalsains

Satu hal lagi yang aku suka dari proses ini adalah terpicunya Tata untuk coba-coba di luar program sains yang dia pelajari. Misalnya waktu dia belajar tentang magnet, lalu dia iseng menjadikan magnet menjadi aneka permainan. Contohnya seperti penemuan barunya, paduan antara bando & anting2 yang dibuat dari pita & magnet. Tata cukup kagum bahwa medan magnet yang sangat kecil bisa menembus daun telinga yang menurutnya cukup tebal.

tata-magnet

Membuat jurnal sains ini mengajarkan anak untuk mendokumentasikan proses belajar mereka. Alih-alih bertumpu pada hasil, anak-anak belajar bahwa kegagalan yang mereka alami dalam proses itu pun tetap penting dan sebaiknya didokumentasikan sebagai bahan referensi perbaikan di kegiatan selanjutnya.

Membuat jurnal atau dokumentasi mungkin mudah. Yang susah adalah menjaga konsistensi untuk terus mendokumentasikan proses. Proses anak-anak ini pun kini memacuku untuk lebih sering mendokumentasikan percobaan-percobaan yang dilakukan oleh mereka. Semoga bisa konsisten terus. Semangaaaat! 😀

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. neng rini nurhayati says:

    saya seorang ibu dengan anak kelas 1 sd
    berminat mengikuti segala kegiatan di rumah inspirasi
    berminat mengikuti sains ini

    cara nya bagaimana?

  2. mba lala, sebaiknya sejak kapan ya homeschooling diterapkan. masih sangat awam dengan HS.anak saya 3,5 tahun, kira kira adakah yang bisa saya jadikan acuan dalam menerapkan homeschooling untuk anak saya..terima kasih mba

    • Tidak ada batasan umur kok untuk memulai homeschooling. Kami sendiri mulai memikirkan tentang homeschooling di awal pernikahan dan akhirnya ketiga anak-anak tidak ada yang sekolah sampai saat ini 😀

  3. sriwahjuningsih says:

    assalamualaikum wr wb …..mba, setelah saya diskusi dengan mba, akhirnya saya beranikan diri untuk membuka homeschooling di garut, yang bernama ‘creospora’.
    sebagai orangtua dan pengajarnya saya terus dan terus belajar. apapun yang ada di rumah jadi laboratorium dan alat bahannya. saat ini baru ada 6 orang anak setara kelas 1 sampai kelas 3. mengenai persiapan legalisasi ijazah, saya telah mengunjungi dinas pendidikan setempat tetapi sayangnya kepala dinasnya pun baru mendengar tentang homeschooling ini. apa yang harus dipersiapkan lagi agar homeschooling saya bisa diterima sebagai alternatif cara belajar informal. mohon bantuannya karena banyak orangtua ingin ikut hs tapi kuatir soal uijian nasionalnya.

    • Mbak Sri, saya tidak pernah merasa memberikan masukan kepada mbak (atau siapapun yang bertanya kepada saya) untuk “MEMBUKA HOMESCHOOLING”. Karena homeschooling itu BUKAN LEMBAGA. Jika ada sebuah lembaga kursus yang memfasilitasi belajar anak-anak (mau anak hs ataupun non hs) itu namanya tetap lembaga kursus, BUKAN Homeschooling. Silakan mbak Sri mendengarkan podcast yang saya buat tentang apa itu homeschooling: http://rumahinspirasi.com/podcast-homeschooling-gratis/

      Saya minta dengan amat sangat mbak Sri untuk mengganti istilahnya, kalau mau bisa dibuat dengan istilah rumah belajar Creospora yang bisa menjadi fasilitas belajar bagi siapa saja baik anak homeschooling maupun tidak homeschooling, agar tidak terjadi kerancuan pengertian masyarakat tentang homeschooling. Terus terang saya sangat kecewa 🙁

  4. hallo kalian,

    apa pedapat kalian semacam khanacademy.com ? kan web ini menuntun self guidance.
    thanks

  5. Pagi mbak Lala, wah inspirasinya keren-keren deh. Boleh tanya ga mbak, kalo sebelum memberkan homeschooling untuk anak, perlukah kita mengetahui bakat alami anak terlebih dahulu? Oya, satu lagi, anakku umur 5 tahun, ada ga ya materi homeschooling untuk anak seusianya?

    • Semuanya berproses mbak. Minat dan bakat anak terus distimulasi, diamati, dan difasilitasi. Ini proses yang berlangsung terus bertahun2 selama tumbuh kembang anak.. 🙂

Tinggalkan komentar Anda

*