Belajar Melalui Travelling #OaseBackpackerFamily #TourDeTalent (1)

Semarang. 23 September 2015. Pukul 14.00.

Kereta api Tawang Jaya ekonomi tujuan Stasiun Senen Jakarta perlahan meninggalkan stasiun Poncol Semarang. Deritan roda kereta dan suara gerbong yang berguncang memastikan bahwa kereta mulai berjalan. Pemandangan stasiun kereta segera menghilang digantikan pemandangan perumahan dan jalan raya yang menegaskan kepada kami bahwa perjalanan #OaseBackpackerFamily alias #TourDeTalent yang kami jalani sudah berakhir.

Keberangkatan kereta itu menyisakan rasa yang bercampur aduk. Kelegaan yang bercampur kelelahan, kebahagiaan dan sukacita mendalam masih sangat terasa di lubuk hati. Dada terasa hangat, kenangan peristiwa demi peristiwa berkelebat dengan rasa yang masih terasa manis di lidah. Hati membuncah, pikiran penuh.

Ekstase perjalanan bersama sekitar 40 orang selama 7 hari 6 malam masih terasa di seluruh indera. Bahkan hingga kini, saat kami sudah sampai di Jakarta dan mulai menjalani kehidupan kami yang biasa.

Ada sebersit rasa enggan untuk mengakhirinya.

Tapi kami tahu. Setiap pesta selalu ada akhirnya. Matahari yang terbit pasti akan tenggelam pada waktunya. Itulah kehidupan.

Yang tersisa adalah kenangan dan rasa. Juga singkapan-singkapan yang membuka wawasan dan sudut pandang yang memperkaya dan memperindah kehidupan.

Keputusan Perjalanan Mendadak

Terus terang aku sangat terkejut dengan semua yang terjadi dalam perjalanan ini. Aku tak menyangka, kegiatan yang direncanakan secara mendadak itu ternyata berlimpah pengalaman yang mengguncang-guncang pikiran & hati.

Saat Ade, Wiwiet, Mella, dan Lala bertemu di rumah dan tiba-tiba memutuskan untuk melakukan perjalanan backpacker ke Salatiga dan sekitarnya, aku sebenarnya agak terkejut. Fesper (Festival Pendidikan Rumah) belum lagi satu bulan berakhir saat keputusan perjalanan yang kemudian diberi nama tidak resmi #OaseBackPackerFamily dan #TourDeTalent diambil.

Tapi semesta memang seolah membawa kami untuk melakukan perjalanan ini. Kebetulan beberapa waktu sebelumnya aku berbincang dengan mas Singgih melalui inbox tentang Contextual Education dan berencana untuk ketemu. Jadi saat Lala secara mendadak mengajak #TourDeTalent, aku seperti melihat pertanda Tuhan yang sedang memprasaranai pertemuan itu.

Semarang-Poncol

(c) Photo Pras Sarp

#TourDeTalent = Belajar dari Maestro

#TourDeTalent adalah lontaran gagasan yang dilemparkan oleh mbak Septi Peni Wulandani dalam salah perbincangan di FESPER. Wiwiet yang antusias dengan gagasan #TourDeTalent melempar dan mendorongnya di Klub Oase.

Inti dari gagasan #TourDeTalent adalah proses belajar yang dilakukan anak-anak kepada para ahli/maestro yang memiliki passion dan talenta di bidang tertentu. Proses belajar itu dilakukan melalui kunjungan dan pertemuan dengan sang maestro untuk menyerap pengetahuan, wawasan, sikap, dan kebijakan sang maestro. Prosesnya bisa terjadi berkali-kali dan dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi, belajar itu bukan hanya sekedar transfer dan menerima pengetahuan. Saat bertemu maestro, anak juga mendapatkan pertukaran energi dan belajar kebijakan dari sang ahli.

Kegiatan belajar dari maestro itu oleh mbak Septi diberi istilah “nyantrik”. Istilah lain yang kurang lebih setara adalah “Learn from the Expert” atau magang.

#OaseBackpackerFamily = Zero Complaint

Karena cukup banyak dana yang sudah terserap untuk kegiatan #FESPER2015, kegiatan perjalanan ini dirancang dalam bentuk backpacker alias ngebolang. Perjalanan dirancang dalam bentuk sangat sederhana, minim fasilitas, dan semurah mungkin. Yang penting pengalamannya. Kami juga berharap perjalanan ini bisa menjadi latihan bagi anak-anak untuk melenturkan diri dan belajar mengatasi kendala keterbatasan dan aneka ketidaknyamanan yang terjadi selama dalam perjalanan.

Jadi, jangan harapkan kenyamanan dari perjalanan ini. Walaupun ada rancangan itinerary yang disusun, tetapi semua peserta siap untuk melakukan adaptasi di lapangan. Dan satu lagi, sejak awal kegiatan ini dirancang dengan prinsip #ZeroComplaint.

#ZeroComplaint artinya tidak boleh ada peserta yang mengeluh. Semua berjalan seapa-adanya dan mengandalkan fleksibilitas, kekompakan dan kelapangan hati seluruh peserta. Kalau yang tidak siap melakukan perjalanan ini, tidak usah ikut. Panitia tidak menjanjikan apapun untuk perjalanan #OaseBackpackerFamily ini.

Walaupun aturan main #OaseBackpackerFamily ini “kejam”, tapi begitu kabarnya tersebar diantara anggota Klub Oase, pendaftar yang mau ikut tetap saja bersusulan. Satu hari dibuka, pendaftaran langsung ditutup dan dibatasi 40 orang.

Terbukti, aturan main #ZeroComplaint berhasil mencegah “drama” dan gesekan selama perjalanan walaupun perjalanan naik mobil berdempet-dempetan, menu makanan mungkin tidak cocok di lidah, tidur beralaskan karpet di lantai, bahkan menunggu antrian kamar mandi yang hanya 1 buah saat menginap di rumah Ade. Betul-betul semua peserta menahan diri dan saling menjaga sehingga perjalanan berlangsung dengan menyenangkan untuk semuanya.

Menyusuri Semarang – Yogyakarta – Temanggung – Salatiga

Perjalanan #OaseBackpackerFamily dan #TourDeTalent selama 7 hari 6 malam berlangsung padat sekali. Kami bergerak dari satu lokasi menuju lokasi lain, dari satu kota menuju kota lain dengan jadwal yang cukup ketat. Perjalanan diawali dengan kereta ekonomi Tawang Jaya jurusan Jakarta (Senen) – Semarang (Poncol) yang biayanya Rp 65 ribu/orang.

Proses belajar terjadi Semarang bersama mas Ilik Sas (Jaringan Rumah Usaha), disusul perjalanan ke Yogyakarta/Kaliurang bersama mbak Dominika Oktavira Arumdati beserta Jaringan Pangan Lokal, kegiatan Jelajah Malioboro, kunjungan ke Joglo Ndeso di Muntilan, berguru dari mas Singgih (Radio Magno, Spedagi) di Temanggung, belajar bersama mas Aris Prasetyo (Xanov) dan mas Iyok (Sapu Upcycle). Tak lupa, selama di Salatiga kami belajar membangun mimpi bersama Aa Dodik Mardiyanto, mengunjungi benih Dusun Oase, serta bersenang-senang dalam kegiatan susur Sungai Muncul.

***

Sungguh #OaseBackpackerFamily dan #TourDeTalent ini menjadi pengalaman berharga bagi kami.

Perjalanan ini bukan hanya melibatkan sensasi keindahan dan travelling yang biasa. Kegiatan ini bukan sekedar perjalanan wisata, bukan hanya menambah pengetahuan dan memberikan sensasi kepuasan inderawi. Tapi perjalanan ini menjadi seperti perjalanan ziarah spiritual yang memperkaya hati & rasa. Setidaknya itulah yang aku rasakan dalam perjalanan ini.

Terima kasih Tuhan atas pengalaman yang luar biasa yang telah Engkau hadirkan kepada kami melalui perjalanan ini. Terima kasih kepada mbak Septi, mas Dodik & keluarga besar Jarimatika, mas Ilik, mbak Ririn & keluarga besar JRU, mbak Ira & mas Yanuar, Ella & teman-teman homeschooling di Jogya, mas Singgih, mbak Tri & keluarga besar Magno-Spedagi Temanggung, mbak Ira, mbak Aan, teman-teman yang terikut dalam perjalanan.

Terima kasih terkhusus untuk host kami tercinta yang luar biasa, Ade & mas Reza untuk kelapangannya menerima 40 orang ini menginap di rumahnya yang mungil. Semoga Allah melipatgandakan semua keikhlasan dan kelapangan menjadi rezeki & berkah yang melimpah..

Tentu saja, terima kasih kepada teman-teman yang mempersiapkan dan bersama-sama menjalani #OaseBackpackerFamily dan #TourDeTalent.

Foto-TourDeTalent

Selengkapnya:

  1. Belajar Melalui Travelling #OaseBackpackerFamily #TourDeTalent
  2. Berguru kepada mas Ilik SAs di JRU Semarang
  3. Berguru Pangan Lokal di Ndalem Tomat
  4. Jelajah Malioboro bersama Jaladwara #TourDeTalent #OaseBackpackerFamily
  5. Desa adalah Masa Depan Kita #TourDeTalent #OaseBackpackeFamily
  6. Video Dokumentasi #TourDeTalent oleh Tata
  7. Video Dokumentasi #TourDeTalent oleh Yudhis

 

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close