Belajar melakukan pengamatan dan merancang wawancara

Seperti yang pernah dibahaskan, saat ini anak-anak homeschooling remaja di Klub Oase sedang menyiapkan diri untuk kegiatan Eksplorasi. #OASEksplorasi adalah kegiatan riset di luar kota selama 1 minggu tanpa didampingi orangtua.

Nah, dalam rangkaian kegiatan akhir menjelang keberangkatan OASEkplorasi, hari Rabu yang lalu anak-anak mendapatkan pembekalan tambahan dari Kak Irma Nugraha. Temanya adalah melakukan pengamatan dan merancang wawancara.

Kegiatan ini diperlukan karena mereka nanti betul-betul melakukan proses riset sendiri, bukan atas perintah para guru. Ada fasilitator yang mendampingi mereka, tapi fungsinya untuk memastikan keamanan saja. Semua proses pengambilan keputusan dan riset harus dilakukan sendiri oleh anak-anak, termasuk menentukan jenis output dari risetnya.

kunyit-01

Pergi ke Pasar Ciplak

Untuk pembekalan ini, anak-anak diminta melakukan pengamatan ke Pasar Ciplak. Mereka dibagi menjadi 4 kelompok dan dibagi 4 area utama yang harus diamati, yaitu tempat parkir, penjual bumbu pasar, penjual sayur, dan penjual beras.

Anak-anak yang berjumlah 8 orang ini harus melakukan pengorganisasian diri, termasuk menentukan bagaimana cara menuju Pasar Ciplak yang jaraknya sekitar 2 km dari rumah.

Tugas yang diberikan kepada mereka adalah melakukan pengamatan dan membuat daftar pertanyaan yang kira-kira akan mereka ajukan dalam riset.

Untuk proses pembekalan ini, anak-anak dibekali dengan potongan kertas-kertas kecil untuk menuliskan pertanyaan mereka.

Mengolah hasil pengamatan

kunyit-02

Hasil pelaksanaan kegiatan di Pasar Ciplak itu langsung dibahas bersama untuk menjadi pembelajaran. Prosesnya dipandu kak Irma Nugraha dibantu kak Shanty Syahril yang memimpin semua persiapan dan kegiatan Eksplorasi.

Dalam tahap pertama, anak-anak belajar mengelompokkan pertanyaan menjadi 3 jenis: Subyek, Proses, Produk. Anak-anak menempelkan daftar pertanyaan yang sudah mereka buat ke dinding sesuai kategori tersebut.

Dalam tahap kedua, anak-anak mencoba mengelompokkan kembali pertanyaan-pertanyaan mereka ke dalam 3 hal berkaitan dengan relevansi pertanyaan dengan jawaban. Apakah jawaban dari pertanyaan tersebut diperoleh dari Pengamatan, Informasi luar/Internet, atau melalui Wawancara.

Dari proses ini, anak-anak belajar merefleksikan sebuah proses riset yang akan mereka lakukan. Mereka belajar menggali kedalaman dan relevansi pertanyaan dengan tujuan yang ingin mereka peroleh.

Ada hal-hal yang tak perlu ditanyakan karena jawabannya sudah bisa diperoleh melalui Internet atau dari pengamatan. Ada hal-hal yang perlu diamati agar tidak mengajukan pertanyaan yang dangkal. Juga, kesadaran bahwa tak semua informasi bisa diperoleh dari pengamatan dan Internet; oleh karena itu tetap butuh proses wawancara dengan narasumber yang relevan.

***

Menarik melihat proses kak Irma dan kak Shanty memandu proses belajar riset pada anak-anak remaja. Walaupun mereka tak bersekolah dan tak semua orangtua memiliki kemampuan riset, berkat adanya komunitas dan peran orangtua yang saling memberi, proses pembelajaran anak-anak homeschooling bisa menjadi lebih kaya dan beragam.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Apakah ada klub serupa dg klub oase di surabaya?

Tinggalkan komentar Anda

*

Close