Belajar dengan gairah

Junior Masterchef

Malam ini kami menonton acara Grand Final – Junior Masterchef di Star World bersama anak-anak. Menonton acara ini adalah hiburan. Walaupun setiap hari kami selalu bersama mereka di rumah, tetap saja berkumpul dan menonton TV bersama di hari Minggu malam menjadi kegiatan yang membahagiakan dan mengasyikkan. Anak-anak sangat menikmati aktivitas ini.

Tentang tontonan itu, rasanya luar biasa sekali menyaksikan anak-anak yang sedang berlomba memasak. It’s sooo inspiring. Anak-anak yang menikmati kegiatannya, anak-anak yang bersikap baik dan pandai mengutarakan pendapatnya, dan tentu saja pengetahuan dan ketrampilan mereka yang menakjubkan pada usianya.

***

Kelihatannya aku jatuh hati dengan passion anak-anak yang mengikuti Junior Masterchef. Sambil menonton Junior Masterchef, aku sempat bertanya dalam hati: mungkinkah kita memiliki anak-anak yang bahagia, memiliki dan menikmati hobi yang terus mengembangkan pengetahuan & ketrampilannya? Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua?

Too some extent, aku percaya bahwa hal itu bisa kita lakukan. Ini bukan tentang menggegas anak agar menjadi anak-anak yg kompeten untuk memenuhi ambisi/kebanggaan para orangtuanya. Kalau mengkarbit anak, jelas aku tak setuju.

Tapi ini mengenai passionate learning, proses belajar anak yang dilakukan dengan penuh gairah, penuh kecintaan pada hobi/hal-hal yang disukainya sehingga mereka secara alami memperoleh pengetahuan dan mengembangkan ketrampilannya.

Ada beberapa aspek yang -menurutku- bisa kita lakukan untuk menumbuhkan passionate learning:

a. Menyediakan lingkungan yang antusias
Passionate learning berawal dari orangtua dan lingkungan yang menjalani kesehariannya dengan penuh antusiasme. Orangtua yang hidup penuh syukur, orangtua yang tak suka berkeluh-kesah, orangtua yang selau terlihat gigih mencari solusi permasalahan. Apapun yang dikerjakan, walaupun hal-hal yang terlihat sepele, dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh semangat. Mencuci baju, menyeterika, memasak, membersihkan rumah, mandi, mengurusi anak-anak, menerima telepon, dll; semuanya dilakukan dengan sukacita. Juga, senyuman dan ketulusan yang selalu dapat dirasakan anak. Aku percaya, semuanya antusiasme itu memberikan energi yang membuat anak-anak juga penuh energi.

b. Menyediakan lingkungan berkualitas
Dalam passionate learning, penting untuk menjadikan rumah (house) sebagai sarang (home). Sebab, rumah adalah lingkungan yang paling berpengaruh pada anak. Kalau ada masalah di lingkungan yang lebih luar, rumah yang berkualitas dapat menjadi lingkungan yang menetralisir. Rumah yang berkualitas adalah ketika seluruh penghuni merasa nyaman untuk tinggal di dalamnya. Rumah itu penuh cinta, semua orang betah di rumah, orangtua betah bersama anak dan anak pun menikmati kebersamaannya bersama orangtua. Itulah tugas besar kita sebagai orangtua.

c. Teladan minat/hobi
Passionate learning tumbuh ketika ada minat pada kehidupan. Minat anak tak hanya diarahkan pada mata pelajaran dan sekolah, tetapi pada hal-hal yang ada dalam kehidupan yang menarik baginya.

Untuk membangun minat pada hal-hal di luar pelajaran/sekolah, awalnya tentu adalah keteladanan orangtua. Agar anak memiliki hobi dan ketertarikan, hal pertama yang diperlukan adalah orangtua yang memiliki dan menekuni hobi. Apapun hobi yang dipilih orangtua (craft, memasak, membaca, menulis, olahraga, bengkel, dll), anak dapat merasakan bahwa orangtuanya sangat menikmati hal itu.

Tentang hobi itu, yang paling ideal adalah ketika orangtua memiliki hobi yang berhubungan dengan karya/berproduksi, bukan sekedar memiliki hobi mengkonsumsi. Dengan orangtua yang memiliki hobi untuk berkarya/berproduksi, anak pun akan terpicu untuk mengembangkan minat/ketertarikan. Awalnya mungkin terlibat bersama orangtua. Lama-lama, anak akan mengembangkan dan menemukan passion-nya sendiri.

d. Paparan kualitas
Selama proses tumbuh-kembang anak, standar kualitas perlu terus diperkenalkan kepada anak. Tontonan yang baik, bacaan yang baik, makanan yang baik, tempat bermain yang baik, bacaaan yang baik, karya-karya yang baik, musik yang baik, dan juga sikap yang baik. Anak diperkenalkan pada masterpiece dalam berbagai aspek kehidupan, itulah yang dapat kita lakukan sebagai orangtua.

Selain dengan paparan melalui panca indera, paparan mengenai kualitas ini dapat dibangun melalui percakapan-percakapan kecil yang terus berlangsung selama perkembangan anak. Cerita-cerita tentang perjuangan dan prestasi tokoh-tokoh dalam berbagai bidang adalah salah satu cara mengenalkan standar kualitas kepada anak.

e. Alat kerja yang baik
Alat kerja yang baik adalah sarana untuk menghasilkan karya yang berkualitas. Walaupun biasanya alat kerja yang baik membutuhkan biaya yang tak sedikit, “memaksa diri” untuk menyediakannya jauh lebih baik daripada memaksa diri menyediakan barang konsumsi. Jadi, alat kerja yang baik adalah investasi bukan expense. Tentu saja alat kerja itu harus dikuasai pemakaiannya.

Jika sejak kecil anak terbiasa menggunakan alat kerja yang baik, dia menjadi lebih mudah melakukan hal-hal yang ingin dilakukannya. Kemudahan itu membangun semangatnya untuk melakukannya lagi. Dan itu membuat anak semakin menguasai alat kerja dan terampil di dalam penggunaannya. Jadilah kegiatan itu menjadi spiral positif yang membangun anak menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Sama, Pak Aar. Yang paling saya kagumi dari anak-anak Junior Masterchef ini selain kemampuan mereka dalam memasak tentunya, sikap dan kata-kata yang mereka ucapkan untuk menyampaikan pendapat dan perasaan mereka.
    Saya ndak pernah lihat komentar mereka yang bernada menjelek-jelekan lawannya. Bahkan, ketika lawan mereka menang, mereka langsung/spontan memberi selamat, dan ketika lawannya kalah, mereka juga spontan memberi semangat baik dengan kata-kata maupun gesture seperti tepukan di bahu atau pelukan. Lebih sportif ketimbang Masterchef dewasa bahkan. Luar biasa!
    Sempat bertanya2, seperti apa orang tuanya mendidik mereka ya … eh … dapat hints dari Pak Aar nih. Terima kasih postingnya kali ini, Pak.

  2. Betul mbak, salah satu yg saya kagumi adalah sportivitas dan kemampuan mereka mengucapkannya secara verbal. Luar biasa sekali mereka saling memuji dan menguatkan saingannya, tetapi tetap menunjukkan sifat kompetitifnya. 🙂

  3. madaniyah isfandriati says:

    luar biasa pembelajarannya..semoga kita orang tua lebih bisa menerapkan hal2 seperti ini..terimakasih pak 😉

Tinggalkan komentar Anda

*