Belajar dari Keseharian

Di awal masa homeschooling kami ketika Yudhis masih kecil, aku mengalami masa “gundah kurikulum”. Mungkin karena biasa kalau di sekolah itu ada kurikulum pasti, yang HARUS diambil semua, jadi ketika berjumpa dengan homeschooling yang membebaskan kita untuk merancang sendiri kurikulum, menentukan sendiri apa yang harus dilakukan dalam keseharian, malah bingung dan panik. Bagaimana aku tahu kalau yang kulakukan sudah benar? Sudah sesuai dengan yang SEHARUSNYA? Bagaimana aku tahu aku tidak menelantarkan pendidikan anakku?

Akhirnya apa yang terjadi? Aku fokus pada mencari kurikulum terbaik, mencari materi belajar yang lengkap, mengumpulkan link-link yang jumlahnya banyak sekali di dunia maya, mengunduh banyak worksheet dan lain-lain. Akhirnya tanpa sadar aku terlalu fokus pada pelajaran itu sendiri dan melupakan yang terpenting, praktek bersama anak dalam keseharian.

Aku terlalu tegang untuk bersantai dengan Yudhis menikmati harinya yang “biasa-biasa saja”. Padahal waktu itu Yudhis mungkin baru berusia 2-3 tahun. Tapi aku saaaaaaangat takut kehilangan “Masa emas”nya hingga seakan berpacu dengan waktu ingin menstimulus sel-sel kelabunya sebelum terlambat. Aku begitu takut untuk gagal, gagal mendidik Yudhis sebagaimana yang aku harapkan.

Tak lama ketika Tata lahir, aku pun mengalami pasang surut keyakinan cukup tidaknya asupan pendidikan harian mereka. Adanya bayi di rumah, kondisi pekerjaan keseharian kadang menggiringku ke hari-hari panik “Ini beneran bisa nggak ya?”. Walau dalam sebagian besar waktu kami sangat yakin dengan pilihan homeschooling ini & sangat menikmati prosesnya, tapi keinginan untuk meyakinkan diri bahwa anak-anak “on track” itu kadang mengganggu.

Dalam pendidikan anak-anak, kami mengalami proses tarik ulur. Ada hari-hari “padat”, ada hari-hari “santai” dan ada hari-hari “super santai”. Sampai akhirnya aku mencapai pada sebuah titik bahwa belajar dari keseharian memang jalan paling cocok untuk keluarga kami. Dengan menyatukan kegiatan keseharian dengan kegiatan “belajar” anak-anak, aku tidak terlalu merasa tertekan. Kami menerapkan sistem menu kepada mereka dan sejauh ini model ini yang paling cocok.

Buatku kini, masa emas itu bukan masanya menjejal-jejalkan materi ke pikiran anak-anak, tapi masa emas mendekatkan hati kita dengan mereka. Masa eksplorasi, dan memperkenalkan keseharian sebagai guru terbaik mereka.

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. Terima kasih tulisannya,Bu Lala. Saya banyak belajar dari Rumah Inspirasi. Sudah sepakat homeschooling utk putri kecil kami, dan peran terbesar ada di saya sbg fulltime Mama, suami bekerja.
    Saya sempat keder membayangkan harus siap materi ini itu, ajari membaca, berhitung, huruf2, angka2… Aaaahhh. Membaca tulisan ini membuat saya tersadar. Kalau anak2 dipaksakan seperti itu, apa bedanya dgn pergi ke sekolah formal.

  2. dian kusumawardani says:

    Ini artikel yang menjawab kebimbangan saya.
    Saya baru akan memulai proses home education untuk anak pertama saya, chacha yang berusia 3,5 tahun.
    Saya membuat kurikulum hasil browsing sana-sini.
    Namun frustasi saat akan mengaplikasikannya dlm jadwal harian
    Chacha srg melanggar jadwal yang sy buat.
    Sempat saya uring-uring an .
    Namun setelah membaca artikel ini,sy menyadari bahwa anak bebas bereksplorasi
    Dia akan mampu belajar dari keseharian.

Tinggalkan komentar Anda

*