Belajar Berenang di Usia Lanjut

Aku takut air. Setiap kali berada di dekat air atau di dalam air, aku merasa sangat tidak nyaman. Jantung berdegup kencang, dada sesak, panic attack mode langsung menyergap.

Itu adalah fakta tentang diriku.

Tapi, aku tak ingin berhenti dan menganggap fakta itu sebagai diriku. Aku merasa tidak nyaman dengan kondisi ini dan ingin mengubahnya.

Tapi seperti yang kita ketahui semua, antara keinginan dan realitas dipisahkan oleh jurang imajiner yang sangat dalam. Seringkali kita tak mampu melintasinya sehingga posisi kita tak kunjung menyeberangi jurang itu. Demikian pun yang kualami, keinginan untuk menaklukkan ketakutan terhadap air itu bertahun-tahun tak beranjak menjadi langkah nyata.

Renang-Kokas1a
Mengkonfrontasi Diri dan Menghalau Rasa Malu

Di usia menjelang 50 ini, aku masih memendam keinginan untuk belajar berenang. Berkali-kali mengantar Duta belajar berenang di Klub Bina Taruna dan bermain air di Rockstar Gym Kota Kasablanka membuat keinginan itu kembali meletup-letup.

Tapi baru di akhir 2015 keinginan meletup-letup itu akhirnya berubah menjadi langkah aksi. Langkah dimulai dengan membeli celana renang. Dan kemudian ikut bermain air bersama Duta di kolam renang.

Kolam renang di Kota Kasablanka itu bersih dan bagus. Walaupun kolamnya dangkal, 1.2 meter, pemandangan dari atap mal Jakarta itu sangat indah.

Saat pertama kali masuk ke kolam renang, hal pertama yang terasa membebani dan mengusik hati adalah rasa malu. Aku malu tidak bisa berenang. Sebagai orangtua rasanya malu bermain-main air di kolam dangkal. Apalagi kalau pas di dalam kolam terus tertelan air atau melakukan gerakan-gerakan “aneh” yang menunjukkan bahwa tidak bisa berenang. Begitulah, hehehe…

Dan rasa malu itulah yang pertama kali harus aku atasi.

***

Maju Terus untuk Melangkah

Di kolam renang Kota Kasablanka, salah satu target pertamaku adalah menghilangkan kepanikan saat berada di dalam air. Aku tahu sih bahwa aku tidak akan tenggelam di kolam 1.2 meter. Tapi tetap saja panik itu tak mudah dihilangkan.

Minggu demi minggu berlalu. Pokoknya aku masuk air, sesekali memasukkan kepala ke dalam air, meluncur, dan bermain bersama Duta. Setahap demi setahap, walaupun sedikit, selalu ada kemajuan. Kepanikan mulai reda walaupun air masih terus tertelan saat kepala masuk ke air, hehehe..

ProsesĀ ini benar-benar perjuangan, bukan untuk orang lain, tapi perjuangan buat diriku sendiri. Setiap akan pergi berenang perut terasa mual, tapi aku berusaha mengabaikannya. Kalau pas tertelan air kadang terpikir,”Kok anak-anak itu kelihatan mudah sekali keluar masuk kolam sementara aku susah sekali?”

Bulan November, aku menceritakan kepada Lala keinginanku untuk belajar berenang. Lala mendukung, bahkan menyatakan keinginannya untuk belajar bersama.

Jadilah kami kemudian kursus berenang bersama pak Pani, salah seorang instruktur renang di Bina Taruna. Seminggu sekali kami belajar berenang di kolam renang Bojana Tirta.

Tanpa terasa sudah 2 bulan aku belajar berenang di Bojana Tirta. Walaupun badan masih berat dan belum lancar, setidaknya aku sudah tidak panik lagi saat berada di air. Aku sudah mulai bisa berenang dengan gaya bebas sepanjang 15 meter. Teknik berenangnya belum sempurna dan nafasku masih pendek, tapi setidaknya aku bisa merasakan perkembangan nyata dari waktu ke waktu.

Sambil menjalani proses belajar berenang ini, aku selalu bercerita kepada anak-anak. Mereka senang mendengar Bapaknya belajar berenang dan mengalahkan diri sendiri. Mereka tertawa saat mendengar cerita air yang tertelan saat berenang. Mereka ikut terbawa bersama kegagalan dan keberhasilan yang dialami Bapaknya.

Harapan kecilku, semoga anak-anak makin meresapi bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar apapun.

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. Bravo Aar!
    Mengalahkan diri sendiri adalah hal yg paling berat, dan kamu sudah melakukannya. Langkah2 berikutnya pasti akan lebih mudah. Sukses ya, untuk langkah2 selanjutnya.

    • Thank you Ratna!
      Mudah-mudahan berhasil sampai tuntas sehingga juga menjadi pembuka “jalan mental” untuk hal-hal lain šŸ™‚

Tinggalkan komentar Anda

*