Bekerja Keras dan Belajar Berkomitmen

 

Yudhis baru menyelesaikan #OASEksplorasi bersama teman-temannya pada Desember yang lalu. Sebagai rangkaian akhir dari proses ini, Yudhis harus membuat laporan kegiatan.

Proses ini kami jadikan sebagai latihan bagi Yudhis untuk bekerja keras dan belajar menyelesaikan komitmen yang sudah dibuat. Proses ini merupakan bagian dari personal attitude yang perlu dilatih dan dikembangkan sebagai modal dan alat untuk menjalani kehidupan yang berkualitas.

Artikel ini merupakan bagian dari pekerjaan rumah dalam Kursus Jurnalisme Sastrawi.

2017-01-17 Bekerja Keras

 

***

Tenggat Yang Terlewat

Senin. Pukul 2.30 pagi. Malam telah usai.

Dengan sisa tenaga untuk menjaga matanya tetap terbuka, Yudhis menerbitkan tulisannya di blog, memberitahukan ke kak Shanty melalui Whatsapp tentang laporan terakhir yang seharusnya dikirimnya sebelum tengah malam, menutup laptopnya, dan akhirnya tidur terlelap tanpa tertahankan.

Posisi kerjanya di tempat tidur membuatnya tak harus berpindah tempat. Cukup dengan menggeser kepala, semua kesadaran langsung hilang.

Yudhis baru saja menyelesaikan tugas penulisan laporan perjalanan Eksplorasi yang seharusnya diselesaikan sebelum tengah malam.

Eksplorasi adalah kegiatan beberapa anak remaja homeschooling untuk melakukan petualangan selama 8 hari. Sembilan anak usia 12-15 tahun melakukan perjalanan keluar kota tanpa pendampingan orangtua, tanpa gadget, menginap di rumah penduduk, dan belajar melakukan riset tentang makanan lokal. Di akhir petualangan, mereka harus membuat laporan kepada kak Shanty yang memimpin kegiatan ini.

“Aku sedang membuat laporan sampai hari ke-5,” kata Yudhis di pagi hari menjelang tenggat waktu hari Minggu, pukul 23.59.

“Bisa selesai hari ini, Dhis?” tanyaku.

“Bisa. Aku tinggal sedikit lagi kok.”

“Jangan minta penambahan waktu ya?” aku mewanti-wanti kepadanya.

Aku mengingatkan hal ini karena Yudhis sempat mewacanakan pengunduran penulisan laporan Eksplorasi karena kesibukannya mengikuti kompetisi pemrograman beberapa minggu terakhir ini.

“Nggak. Aku bisa kok selesaikan tulisan hari ini.”

Perjalanan Eksplorasi itu sudah berlangsung pada pertengahan Desember. Sudah sebulan, tak ada yang bersegera menyelesaikan laporan.

Orang suka melakukan kegiatan. Tapi tak ada yang bersikukuh menuliskan cerita dan laporan.

Begitu tenggat menjelang, barulah geliat penulisan mulai muncul.
Sepanjang hari, Yudhis terus di depan laptopnya. Awalnya dia bekerja di meja makan. Kemudian dia berpindah lokasi ke ruang tamu. Saat sore dia menggeser tempat kerjanya ke tempat tidur di kamarnya. Dan saat jam makan malam, dia tak muncul di ruang makan.

“Kakak tidur di sebelah laptopnya,” kata Tata, adiknya, yang aku minta mencari kakaknya.

Aku tak tahu sejak pukul berapa Yudhis tertidur. Aku biarkan dia tidur hingga menjelang pukul sembilan malam.

“Tata, minta tolong bangunkan kakak Yudhis. Kita mau doa malam bersama.”

Pukul 21.00, kebiasaan di keluarga kami adalah berdoa bersama. Semua orang menghentikan sejenak pekerjaan yang dilakukan untuk berkumpul di kamar depan dan berdoa. Setelah doa dan mengobrol, setiap orang bebas melanjutkan kegiatannya masing-masing.

Yudhis masuk ke kamar dengan wajah basah usai mencuci muka.
“Aku bisa selesaikan tugasku malam ini, kok,” Yudhis membuka percakapan. Dia mungkin sudah merasa bahwa aku pasti akan menanyakan perkembangan pekerjaannya.

“OK,” jawabku merespon pernyataan Yudhis.

Anak itu sudah berusia 15 tahun. Di usianya yang menginjak remaja, dia bukan anak kecil yang bisa dipaksa. Dia juga menjalani pendidikan mandiri alias tidak bersekolah. Karena tak bersekolah, tak ada sistem eksternal yang memaksanya untuk melakukan sesuatu, termasuk menyelesaikan laporan perjalanan ini.

Adalah tugasku sebagai orangtua untuk memastikan bahwa dia belajar mengenal komitmen dan kerja keras untuk kebaikan hidupnya sendiri.
“Aku sudah sampai hari ke-6,” kata Yudhis.

“Oh my God. Dia baru menyelesaikan satu bagian seharian ini,” ratapku dalam hati. Ingin aku mengomel dan berkomentar, untunglah aku aku berhasil menahannya. Aku harus belajar percaya bahwa dia bisa menyelesaikan urusannya sendiri.

Usai makan malam, Yudhis kembali kamarnya. Aku masuk ke kamarnya sekilas, pura-pura mencari sesuatu, sebenarnya ingin melihat apa yang sedang dilakukannya. Dia tengkurap di tempat tidur sambil menghadapi laptopnya. Tentu saja, tak lupa sepasang earphone menempel di telinganya.

Pukul 23.30, usai menyelesaikan pekerjaanku, aku mampir kembali ke kamarnya. Ada sedikit rasa was-was kalau Yudhis tak berhasil memenuhi komitmen untuk menyelesaikan laporannya.

Ternyata Yudhis masih berjaga.

“Aku sudah sampai hari ke-7,” katanya sambil melepas salah satu earphone-nya.

“Bisa selesai hari ini?” tanyaku.

“Bisa, tinggal sedikit lagi.”

Sambil kembali ke kamar untuk tidur, aku merenung dalam hati. Semoga Yudhis belajar tentang komitmen dan kerja keras dari proses yang sedang dijalaninya hari ini.

***

Laporan #OASEksplorasi Yudhis

Berikut ini hasil laporan #OASEksplorasi yang dibuat oleh Yudhis:

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close