Apa alasan sebuah keluarga memilih homeschooling?

Homeschooling adalah “hal baru” di dunia pendidikan Indonesia. Wajar, banyak orang yang berasumsi dan ingin tahu. Dan termasuk di dalamnya adalah kesalahtahuan karena sudah ada prejudice, lebih banyak memperturutkan asumsi pribadi atau bacaannya tentang homeschooling kurang beragam.

Dalam kondisi seperti ini, tugas praktisi homeschooling semakin bertambah. Praktisi tak hanya harus memperkuat diri dalam proses mendidik anak-anak, tetapi juga mendidik masyarakat agar lebih memahami homeschooling “dengan benar”.

Salah satu hal misalnya mengenai alasan sebuah keluarga memilih homeschooling. Setiap keluarga praktisi homeschooling memiliki alasan yang berbeda-beda dan oleh karena itu tidak bisa digeneralisasi.

Homeschooling itu legal

Apapun alasan sebuah keluarga memilih homeschooling, hal pertama yang perlu dijadikan pijakan adalah bahwasanya homeschooling atau pendidikan berbasis keluarga itu legal.

Legal itu berarti diakui oleh negara. Legal itu berarti tidak melanggar hukum.

Karena homeschooling itu legal, maka seseorang yang memilih homeschooling itu sah-sah saja. Memilih homeschooling sama sahnya dengan memilih untuk mengirimkan anak ke sekolah.

Tiga Alasan Memilih Homeschooling

Di Amerika Serikat, pernah ada survey oleh National Center of Education Statistics (1999) mengenai alasan sebuah keluarga memilih homeschooling. Dari survey itu terpetakan alasan-alasan itu.

Tiga alasan tertinggi sebuah keluarga memilih homeschooling adalah:
1. Memberikan pendidikan yang lebih baik di rumah (48.9%)
2. Alasan agama/keyakinan (38.4%)
3. Lingkungan yang buruk di sekolah (25.6)

Alasan selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

AlasanHomeschool

Bagaimana di Indonesia?

Saat ini belum ada survey dan data mengenai alasan keluarga di Indonesia memilih homeschooling. Beberapa tayangan di TV memberitakan tentang alasan artis yang memilih homeschooling karena ingin mengembangkan karir. Tapi fenomena artis homeschooling hanya sebagian kecil dari realitas homeschooling karena sebagian besar praktisi homeschooling adalah keluarga-keluarga biasa.

Dari pengamatan selintas, ada beragam alasan keluarga Indonesia memilih homeschooling. Ada yang memilih homeschooling karena alasan praktis, misalnya: anak mogok sekolah, trauma karena bullying, orangtua berpindah-pindah kerja, dan sebagainya.

Ada keluarga lain yang memilih homeschooling karena alasan yang lebih filosofis/ideologis: mencari pendidikan yang lebih baik daripada sekolah, ingin mengembangkan sebuah model pendidikan tertentu (agama, keterampilan, profesi), dan sebagainya.

Tentu saja, banyak alasan lain yang mungkin belum tersebutkan. Dan sangat mungkin, alasan sebuah keluarga memilih homeschooling bisa lebih dari satu alasan.

***

Nah, itu tadi alasan yang serius mengapa sebuah keluarga memilih homeschooling.

Kalau mau yang lucu-lucuan dan santai, alasannya bisa terbaca dari gambar berikut ini:

Jika Anda seorang praktisi homeschooling, apa alasan Anda memilih homeschooling?

 

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Komentar

  1. syarifah rahmah says:

    Assalamualaikum mas aar. Saya ingin punya buku2 n menambah ilmu ttg homeschooling. Bisakah saya pesan langsung mas? Ato kalo di banda aceh dimana saya bisa dapatkan? Terima kasih mas

    • Saat ini buku yg masih ada hanya “Apa itu Homeschooling” yang akan terbit bulan ini. Kalau tertarik, silakan pesan pre-order mbak. 🙂

  2. Haduuhhh…kepingin banget bisa mengHS kan yang paling kecil saya bingung harus mulai dari mana ya mas mohon sarannya

  3. keinginan mengHSkan Farras (5 tahun) tidak bisa ditunda lagi. sebelumnya anak saya disekolah alam. keinginan saya mengHSkan anak agar lebih fokus pada passion dia. anak saya hobi benget menggambar dan art. dalam usia 4 tahun sudah bisa bikin gambar bercerita, desain macam macam lego. sebelum memutuskan Hs saya matangkan ilmu saya terlebih dahulu dalam bidang pengasuhan, komunikasi, belajar lagi mabnajemen rumah tangga, multiple intelligence, intinya saya perbaiki diri saya terlebih dahulu. untuk ukuran anak pra sekolah membatasi kegiatan dalam rentang pendek (terutama yang menjadi passionnya) akan menganggu keasyikannya bereksplorasi dan ini menganggu cara alami anak belajar. itulah yang terjadi di sekolah. masa pra sekolah adalah masa eksplorasi berbagai macam kecerdasan, dan ini (dengan kemampuan guru disekolah yang ngga sama) biasanya diabaikan. anak hanya diukur dari kesiapan motorik dan kognitifnya tapi tidak dilakukan pengamatan pada jenis kecerdasannya. saya lebih percaya minat dan bakat anak diamati dalam kejadian sehari-hari, bukan dari sebuah test yang validitasnya diragukan.

  4. Yanti suradijaya says:

    Sepertinya belajar di pkbm masih kurang memfasilitasi kebebasan belajar anak saya sehingga dia ingin HS seperti teman-temannya, apakah hal itu cukup menjadi alasan untuk berHS?

Tinggalkan komentar Anda

*