Anak dan Teknologi

Terinspirasi dari tulisan mas Bukik Pak Menteri Pendidikan, Anak-Anak Butuh Internet Cepat” di blog Takita membuatku tergerak untuk menuliskan pengalamanku memperkenalkan internet kepada anak-anak.

***

Quote-Boneka-Takita-84Sebagai orangtua yang mencari makan dari internet, aku dan mas Aar merasakan sekali manfaat internet dalam kehidupan keseharian kami. Berkat internet kami berdua tidak perlu pergi ke kantor dan hanya keluar rumah (tanpa anak) untuk bertemu klien/rapat/janji penting lainnya. Selebihnya waktu bisa kami curahkan untuk anak-anak.

Karena kami berdua akrab dengan teknologi, maka anak-anak pun tumbuh cukup akrab dengan teknologi sejak dini. Sejak Yudhis, Tata dan kemudian Duta belum bisa bicara, mereka sudah suka minta dipangku dan gebrak-gebrak keyboard. Waktu zaman Yudhis kecil ada software peek-a-boo dari seorang sahabat yang kami install di komputer dan disukai oleh Yudhis (ketika era Tata & Duta sudah ada banyak sekali online game untuk anak prasekolah).

Teknologi juga menjadi tempatku mencari beragam informasi yang terkait dengan pendidikan anak-anak seperti ide kegiatan, materi belajar sampai aneka tips parenting.

Ketika anak-anak mulai mandiri, teknologi bahkan meringankan bebanku dalam mengajari mereka. Dari mulai belajar matematika, bahasa Inggris, sains, pengetahuan umum, hingga ke keterampilan non akademis seperti prakarya, musik, menggambar, komputer, desain grafis, animasi, 3D, kolaborasi dll dipelajari anak-anak melalui internet. Ditambah lagi, aku adalah seorang pecinta game (gamers), maka aku pun sering menjadikan game-game sebagai sarana belajar mereka.

Bagaimana cara kami memperkenalkan teknologi kepada anak-anak?

Aku percaya “first love never dies” hehe… termasuk cinta pertama pada teknologi. Untuk itu aku dan mas Aar sepakat memperkenalkan cinta teknologi yang sehat kepada anak-anak. Kami percaya kalau pintu masuk awal pengenalan anak terhadap teknologi adalah dari “asyik & manfaatnya” maka itulah yang masuk ke dalam bawah sadar mereka. Sejak awal kami memperkenalkan teknologi sebagai “alat” yang mempermudah banyak hal. Kami berharap anak-anak tumbuh dengan melihat komputer sebagai alat kerja sekaligus alat hiburan.

Jadi, perkenalan awal anak-anak dengan teknologi itu berada dalam pengawasan kami. Kami tak membiarkan mereka mencari sendiri, tetapi kami memperkenalkan aturan main sejak mereka baru mengenal internet. Aturan main itu membuat mereka tak hanya main game atau mengakses internet sesuka hati mereka. Jika mereka mengakses materi yang menurut kami tidak bagus, kami akan meminta mereka untuk berganti dengan yang lain. Termasuk di dalam materi perkenalan itu adalah mengenalkan kegiatan belajar melalui internet dan kegiatan produktif lainnya.

Aku ingat waktu Yudhis pertama kali belajar software pengolah gambar ketika usia 6/7 tahun, saat itu aku kebetulan mendapat pekerjaan untuk mengolah ratusan foto. Cukup sederhana sih mengolahnya hanya jumlahnya saja yang banyak. Tiba-tiba Yudhis nyeletuk disampingku “Ini dikecilin aja ya?” Aku jawab ada beberapa proses, dikecilkan di auto-corect lalu disimpan dalam nama berbeda. Di luar dugaan Yudhis berkata “Wah aku sudah bisa, boleh coba?” Kebetulan saat itu Yudhis sudah bisa mengecilkan foto, jadi aku mengizinkannya untuk mencoba me-resize foto. Yudhis pun mencoba satu foto ok, dua foto ok, lama-lama dia keterusan mengerjakan banyak foto. Tambah semangat ketika aku bilang satu foto aku beri uang seratus rupiah (xixixi tega ya emaknya?). Yang mengharukan, Yudhis mengerjakan foto sehingga dia punya cukup uang untuk membelikanku, mas Aar, Tata dan dirinya sendiri susu segar yang lewat depan rumah.

Sebuah pengalaman sederhana yang cukup membekas di hatiku (dan semoga hati Yudhis) bahwa teknologi bisa menjadi sumber penghasilan. Karena sambil Yudhis mengerjakan foto-foto tersebut kami mengobrol banyak tentang bagaimana bapak-ibunya bekerja dengan bantuan teknologi, bahwa teknologi itu seperti pisau tajam yang bisa jadi alat sangat berguna tapi juga bisa jadi alat yang mengerikan bahkan mampu membunuh orang.

Jadi begitulah kami memperkenalkan teknologi kepada anak-anak. Kami memang memperkenalkan teknologi sejak dini, tapi kami temani prosesnya, kami ajak ngobrol, kami bangun logika produsen dalam kepala mereka sehingga mereka melihat teknologi tidak hanya sebagai pengguna tapi bagaimana caranya bisa menjadikan teknologi sebagai alat untuk membuat sesuatu, untuk berkarya, syukur-syukur untuk mendatangkan penghasilan.

Apakah kami punya aturan main khusus tentang teknologi?

Tentu kami punya.

Pertama, semua gadget & alat teknologi di rumah statusnya adalah milik kami (orang tua). Anak-anak hanya punya hak pakai, statusnya meminjam. Komputer yang dipakai Yudhis kami letakkan bersebelahan dengan komputer kerja bapak Aar. Tata & Duta sementara ini masih meminjam komputerku, bapak Aar atau eyang putri. Begitu pula dengan gadget. Anak-anak tidak punya gadget. Yudhis (13tahun) hanya dipinjamkan HP kalau harus pergi terpisah dari kami. HP yang dibawanya pun adalah HP yang hanya punya fasilitas telpon & SMS.

Kedua, komputer & gadget adalah “alat untuk berkarya”. Mereka tidak boleh menggunakannya untuk bermain games atau nonton Youtube di hari Senin-Jumat kecuali ada perjanjian khusus misalnya sedang libur sekolah dan para sepupu menginap di hari itu maka mereka jadi ikutan “libur”. Tapi itu pun biasanya ada hitungannya. Seperti Duta (5th) yang hanya boleh main iPad di hari Rabu-Sabtu-Minggu ternyata kedatangan sahabatnya Ali di hari Selasa. Duta & Ali sama-sama suka Minecraft dan mau “ketemuan” bikin rumah di Minecraft. Maka yang terjadi kemudian adalah negosiasi dan membuat kesepakatan baru. Kami mengizinkan Duta untuk bermain iPad di hari Selasa tapi itu berarti tidak ada iPad di hari Rabu (besoknya) karena jatahnya sudah diambil hari sebelumnya. Perubahan itu kami tandai pada jadwal Duta. Ternyata Duta bisa melewati hari Rabu tanpa iPad dengan penuh kesadaran dan bahwa jatah mainnya sudah dia pakai hari Selasa, and it’s ok.

Ketiga, teknologi bukan segalanya. Kami berusaha mencari keseimbangan antara screen time dan physical activities dengan cara mengekspose anak-anak pada banyak kegiatan fisik di luar rumah. Dulu kami memaksa diri untuk rutin jalan sore atau jalan pagi ke jogging track dekat rumah sambil ngobrol dan melepaskan anak-anak dari komputer. Anak-anak juga sempat ikut klub renang 3 kali seminggu. Sekarang kami beruntung ada klub olahraga dekat rumah yang bisa memfasilitasi anak-anak dengan aneka olahraga. Sehingga mereka makin banyak teman sebaya & semakin banyak kegiatan nonkomputer. Dalam seminggu, mereka tiga kali keluar rumah untuk kegiatan gymnastics, tenis, basket, taekwondo, dan sebagainya.

Keempat, kami membuat kesepakatan dengan anak-anak tentang jenis game yang boleh mereka mainkan mana yang tidak. Tak ada game perang dan fighting di rumah, tapi kalau mereka bermain di rumah sepupunya saat acara keluarga kami tak melarangnya. Di rumah, kami memberikan apresiasi besar jika mereka bermain game simulasi. Kami juga hanya membelikan game time management/simulasi/puzzle untuk gadget yang mereka boleh pakai (lebih lengkap tentang cara menjadi Game sebagai Alat Belajar bisa dibaca di sini).

Hal paling penting dalam pembuatan aturan adalah menegakkan keempat peraturan ini dengan tegas. Tidak perlu pakai marah, tapi tegas. Kalau tidak ya tidak. Kalau melanggar ada konsekwensinya. Konsekwensinya pun hasil kesepakatan dengan mereka.

Bagaimana jika anak kecanduan game?

Well, itu adalah resiko. Sebagaimana ketika kita memasukkan anak pada olahraga beladiri ada resiko anak luka karena kena pukul atau jatuh terjerembab. Apakah ketika anak kita terluka atau terkilir kita akan menghentikannya dari olaharaga itu? Atau kita menjadikan proses jatuhnya anak menjadi bahan belajar agar besok dia lebih kuat lagi?

Tentu kami mengalami masa pasang-surut keberhasilan sekaligus kegagalan dalam menghantarkan anak-anak mengarungi lautan digital ini.  Kami pun mengalami beragam dilema rasa, dan ketika itu terjadi maka tak ada cara lain selain menjadikan setiap kejadian sebagai cara belajar, “when life gives you lemon, make lemonade”. Salah satu dilema besar adalah ketika kami mendapati anak mulai tergantung pada komputer & gadget.

Aku dan mas Aar sepakat bahwa ukuran dalam penggunaan teknologi pada anak-anak adalah stabilitas emosi dan produktivitas. Jika anak menjadi emosinya labil, kehilangan fokus pada kegiatan non-teknologi dan produktivitasnya menurun, maka itu adalah lampu kuning pertanda awal ketergantungan pada teknologi. Jika kondisinya seperti itu, maka kami melakukan pengaturan kesepakatan ulang tentang penggunaan gadget & internet. Kami sempat melakukan beberapa kali “Unwired Session” dengan anak-anak dengan cara melepaskan penggunaan internet & gadget sama sekali dalam sebuah jangka waktu, memastikan anak kembali tak tergantung dengan komputer/gadget sebelum akhirnya mengembalikan sedikit demi sedikit akses mereka terhadap teknologi.

Teknologi untuk kegiatan belajar

Selain mengenalkan pada Internet & gadgetpada hal-hal yang asyik dan produktif, kami menggunakannya secara ekstensif dalam kegiatan anak-anak. Setiap hari anak-anak selalu memiliki menu belajar yang menggunakan Internet & gadget, misalnya belajar matematika (IXL Math), belajar bahasa Inggris (Reading A to Z, Raz Kids, Starfall, Reading Eggs), sains, dan lain-lain.

Anak-anak pun sejak dini belajar untuk menggunakan tutorial dalam kegiatan mereka. Sebagai contoh, Duta sudah mulai berkenalan dengan salah satu fungsi Youtube untuk mencari cara membuat kue yang diinginkannya, juga cara membuat rumah di Minecraft. Yudhis sejak dini belajar Photoshop menggunakan aneka tutorial di Internet. Tata pun belajar menggambar menggunakan panduan tutorial Drago Art dan menggunakan aplikasi-aplikasi menggambar seperti Adobe Ideas. Selain untuk mencari resep kesukaannya, mencari aneka papercraft, Tata juga menggunakan internet dalam prosesnya belajar menjahit. Bahkan, untuk belajar gitar pun Yudhis belajar menggunakan tutorial dari Songsterr

Satu hal lagi, kami memperkenalkan anak-anak dengan kegiatan blogging sebagai sarana mereka mencatat proses belajar sekaligus mengumpulkan portofolio karyanya. Proses belajar itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan masih berjalan hingga kini. Yudhis melakukan kegiatan blogging di Dunia Yudhis, sementara Tata melakukan kegiatan blogging di Dunia Tata.

Resource Kegiatan Belajar di Internet

Untuk teman-teman yang mungkin tidak sempat gugling mencari materi belajar, ada sebuah eBook yang pernah dikompilasi bersama oleh teman-teman dari KlubOase berisi materi belajar dari beragam sumber di internet. Siapa tahu bisa membantu. Silakan klik gambar di bawah untuk mengunduh eBooknya.

ebook-situs-pendidikan

 

 

 

Tulisan menarik lainnya

About Lala

Lala suka main musik, main game, main sama anak-anak, bikin-bikin, baca buku, nonton film yang seru, jalan-jalan, internetan dan masak-masak. Salah satu mimpi besarnya adalah menjadikan virtual distance learning bisa dinikmati anak-anak Indonesia sampai ke seluruh plosok tanah air. Lebih lengkap tentang Lala bisa dilihat di sini :D

Komentar

  1. veronica widianti says:

    Terima kasih sharingnya mba Lala, sangat inspiratif ❤

  2. Trimakasih mbak Lala, bukan cm untuk sharing yg sekarang, tp banyak hal. Saya sebetulnya blm punya anak, menikah belum 1 thn, tapi pengen mempersiapkan diri dari sekarang untuk mereka, lewat rumah inspirasi saya merasa banyak terbantu. Trimakasih 🙂

    • Sama-sama mbak, kami juga waktu memulai ingin homeschooling sebelum punya anak, jadi lumayan punya waktu banyak untuk riset & cari tahu sebelum praktek langsung. Hehe 😀

  3. thanks share nya mak..anakku suka banget main gadget..

  4. <3

  5. nita lesmana says:

    halo mba lala dan keluarga,.. trimakasi ya untuk smua sharingnya,. aku baca blognya sebanyak banyaknya,, jga blognya dunia yudis., menginspirasi bgt,. skarang anakku 6 bulan,. menurut mba kapan baiknya mengenalkan dunia internet ya?

    • Mbak Nita,
      Pemakaian Internet tergantung pola kegiatan keluarga. Internet dan gadget bisa ditunda tak apa-apa, yg penting attitude dan kebiasaan baik. Juga, titik masuknya sebaiknya jangan game, tapi kegiatan belajar yg asyik.

  6. makasih mbak lala atas sharingnya 🙂

  7. Terimakasih Mbak Lala dan Mas Aar, saya seorang ibu dari anak laki-laki usia 8 tahun. Memang masalah pengenalan teknologi dan keseimbangan pengasuhan pada anak ini sedang dan selalu kami temukan bersama suami. Tapi saya senang, ini bukan kerisauan kami pribadi tetapi menjadi perhatian dari banyak orangtua lainnya. Apa yang telah dilakukan mbak Lala dan mas Aar sangat luarbiasa. Terimakasih.

  8. sangat insiratif,,,,lanjutkan

  9. Hai mbak Lala dan Mas Aar. Terima kasih sdh berbagi. Terus terang saya mendapat pembelajaran yg sangat baik dr artikel ini. Maklum saya sedang resah dengan tumbuhkembangnya sabda yang menurut saya mengkhawatirkan. Saya akan mencoba cara yg kalian terapkan, dengan beberapa pengembangan dan penyesuaian sesuai kebutuhan sabda.

    Sekali lagi terima kasih 😊

Leave a Reply to Lala Cancel reply

*

Close