Anak-anak Memang Sering Mengejutkan

Anak-anak seringkali mengejutkan. Begitulah karakter dasar mereka. Ketika mereka merasa nyaman dengan dirinya, mereka sering memberikan kejutan-kejutan kepada kita.

Beberapa bulan terakhir, kami mengalami kejutan itu dengan Tata. Kami memang menikmati karakter dasar Tata yang aktif, kreatif, dan senang berinisiatif. Kami sering memujinya sebagai pupuk dan siraman air untuk karakternya yang kami nilai baik itu.

Tapi ternyata Tata melampaui ekspektasi kami dengan inisiatifnya.

***

Ceritanya, sejak beberapa bulan terakhir ini Tata belajar membuat blog. Prosesnya dia lakukan secara mandiri/otodidak mengikuti panduan dalam Workshop Online Membuat Blog yang diselenggarakan oleh Digital Mommie.

Ternyata Tata keterusan dan menikmati proses membuat blog. Tata ngulik dan ngoprek blognya. Dia ganti-ganti background, ganti header blog, dan sebagainya. Semuanya dilakukan sendiri, sesuka Tata. Bahkan dia membuat blog baru lagi untuk mencoba-coba.

Sekarang ada 2 blog Tata di Blogspot yang murni buatan Tata sendiri, yaitu: Project Tata dan Tata Draw. Blog itu di luar “blog resminya” yaitu Dunia Tata. Di dua blog buatannya sendiri, Tata kemudian mengisinya dengan aneka gambar dan hasil karya sehari-harinya.

Sekarang Tata lebih suka mengisi Project Tata dan Tata Draw daripada Dunia Tata. Mungkin karena hasil karyanya sendiri dan dia merasa bangga dengan karyanya. Atau, mungkin juga ini bagian proses membangun identitas diri karena blog Dunia Tata itu adalah pemberian bapak-ibunya, hehehe…

Tata-Draw

Tata-Project

 

***

Kamisenang melihat Tata aktif dan kreatif. Beberapa hal yang kami pelajari dari Tata diantaranya:

a. Setiap Anak Ada Waktunya

Setiap anak unik. Setiap anak punya kekuatannya masing-masing. Ada yang langsung terlihat dan mudah keluar. Ada yang menunggu waktu untuk digali dan kemudian berbuah.

Sebagai orangtua, kita tidak pernah tahu kapan anak-anak kita mencuat potensinya. Bukan hanya perkara waktu, kita tak pernah tahu bidang apa yang menjadi minat perhatiannya.

Problemnya, kita tidak boleh terlalu berharap banyak. Semakin berharap dan menuntut, potensi itu biasanya justru semakin tenggelam dan seolah bersembunyi. Semakin keras kita menarik, semakin keras pula dia menyembunyikan dirinya.

Tetapi jika kita cukup santai dan tidak terlalu menekan anak, biasanya potensi itu malah justru mewujud dengan sendiri.

b. Anak Butuh Ruang Gerak & Alat

Yang bisa kita lakukan sebagai orangtua untuk anak-anak kita adalah memberikan ruang yang nyaman bagi anak untuk mengekspresikan dirinya. Ruang yang cukup itu penting, terutama untuk anak-anak yang aktif dan kreatif. Anak-anak semacam ini cenderung “tenggelam” jika ruangnya terlalu sempit karena terlalu banyak arahan dari orangtua.

Terkadang ruang saja tidak cukup. Terkadang kita juga perlu menyediakan alat yang nyaman bagi mereka untuk berkarya. Alat itu bisa berupa pensil, balok, komputer, atau apapun.

Dalam kasus Tata, salah satu trigger lompatan Tata saat ini adalah berupa kemampuan membuat blog yang diperolehnya dari workshop online yang kebetulan diselenggarakan sendiri oleh ibunya.

c. Apresiasi Menyuburkan

Ketika suasana nyaman sudah dirasakan anak dan kemudian dia mulai menunjukkan karyanya, salah satu PR besar bagi orangtua adalah memberikan apresiasi. Jangan mengkritik hasilnya (yang pasti belum sempurna), tetapi tanggapi yang dilakukannya dengan penuh perhatian. Berikan apresiasi pada inisiatifnya, apresiasi kerja kerasnya, apresiasi ketekunannya, apresiasi idenya, dan lain-lain.

Perhatian & apresiasi ini harus di depan dan tulus, bukan diletakkan di belakang sebagai tambahan kritik terhadap kualitas pekerjaan anak. Apresiasi akan dipandang anak sebagai sinyal penerimaan (acceptance signal) yang akan menyuburkan hal-hal baik pada dirinya.

Seberapapun kami sibuk, kami berusaha untuk mendatangi Tata saat dia memanggil dan ingin menunjukkan hasil karyanya. Seberapapun sederhana karyanya, kami akan memujinya. Tentu saja, pujian itu tak boleh berlebih-lebihan karena pujian yang berlebih-lebihan akan menghilangkan bobot pujian itu.

d. Over Response Menghambat Perkembangan

Walaupun apresiasi sangat penting, kita perlu menjaga tingkat kewajarannya agar tak terlalu heboh saat memberikan respons. Ibarat anak baru bisa melangkah satu langkah dan kemungkinan masih akan jatuh-bangun hingga menemukan kestabilannya, jangan terlalu heboh seolah-olah dia baru memenangkan kejuaran lari 100 meter.
Juga, sarana dan stimulus yang kita berikan perlu sesuai. Anak yang baru bisa berjalan belum membutuhkan sepeda atau sepatu roda. Dukungan dan investasi yang berlebihan bisa-bisa meningkatkan ekspektasi kita kepada anak dan justru membebani mereka.

Ibarat bercocok tanam, pupuk yang terlalu banyak dapat berakibat buruk bagi tanaman, air yang terlalu banyak akan membuat akar tanaman menjadi busuk.

 

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Trackbacks

  1. […] Salah satu contoh kesalahan dan kegagalan kami dalam parenting terjadai beberapa waktu yang lalu. Kesalahan ini berkaitan dengan over response atau over stimulus yang kami lakukan. […]

Tinggalkan komentar Anda

*