09 Homeschooling Usia Dini vs. Usia Sekolah

Secara sederhana, ada 2 jenis homeschooling atau home-education, yaitu untuk anak-anak usia dini (pra-sekolah) dan untuk anak sekolah. Istilah schooling sendiri sebenarnya mengacu pada pembelajaran formal di usia sekolah (sekitar 7 tahun). Tapi karena saat ini anak-anak sudah “disekolahkan” sejak usia 3 tahun, bahkan sebelum itu, maka mulai ada istilah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Homeschooling Anak Usia Dini (HAUD) memiliki prinsip-prinsip yang berbeda dibandingkan model HS untuk anak usia sekolah. Tapi keduanya memiliki kesamaan, yaitu kesediaan orangtua untuk terlibat aktif dalam pendidikan anak-anaknya dan tidak mengirimkannya ke lembaga eksternal.

Praktek homeschooling atau home education untuk anak usia dini berbeda dengan anak-anak pada usia sekolah (SD, SMP, SMA). Anak-anak tidak belajar mata pelajaran dan duduk manis di kursinya mengerjakan tugas-tugas akademik dan berkutat dengan kertas (paper work).

Berikut ini beberapa pokok gagasan tentang homeschooling untuk anak usia dini:

a. Pola pengasuhan yang baik
Homeschooling atau Home Education (HS/HE) untuk anak-anak usia dini kurang lebih sama dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Intinya adalah dengan menjalankan pola pengasuhan yang baik (good parenting). Pola pengasuhan yang baik melibatkan keterlibatan emosi dan perhatian orangtua yang penuh dalam setiap proses bersama anak. Orangtua tak hanya memberi makan pada otak anak, tetapi memberi makan pada hati dan emosi anak.

b. Pembentukan karakter
Homeschooling anak pada usia dini yang dilakukan di rumah bukan menekankan pada pemberian materi-materi akademis, seperti membaca, menulis, matematika, dan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Proses HS/HE di rumah menekankan pada pemberian stimulus dan pendampingan untuk proses tumbuh-kembang anak. Orangtua memberikan stimulus untuk membangun karakter anak melalui contoh dan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Orangtua mendampingi perkembangan psikologi anak sehingga anak merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan dapat berinteraksi dengan sekitarnya dengan baik.

c. Belajar = bermain
Proses belajar dalam HS usia dini diintegrasikan dalam kegiatan bermain. Anak tidak berada dalam suasana formal yang kaku dalam suatu waktu khusus tertentu untuk belajar. Tetapi, proses belajar disatukan dalam kegiatan sehari-hari yang berkualitas, sejak bangun tidur, mandi, makan, bermain, hingga tidur kembali di malam hari.

d. Unstructured Learning
Pola kegiatan dalam HS/HE Usia Dini lebih mengikuti pola minat dan ketertarikan anak. Kegiatan yang digunakan seringkali berawal dari anak yang dioptimalkan kualitasnya oleh orangtua. Sementara itu, kegiatan-kegiatan yang diinisiatifkan orangtua dilakukan untuk memperkaya wawasan minat anak dan mengekspose anak pada hal-hal yang belum diketahuinya.

e. Mengintegrasikan materi akademis
Materi-materi akademis (membaca, matematika, menulis) bukan sebuah hal yang diharamkan dalam PAUD. Tetapi, orangtua perlu berhati-hati agar tidak menggunakan penguasaan akademis sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan anak. Sebab, PAUD memang bukan di sana penekanannya. Nanti, pada waktunya anak akan siap dan dapat belajar materi akademisnya.

Untuk itu, jika orangtua ingin memberikan materi-materi akademis, materinya perlu diintegrasikan dengan kegiatan bermain anak, tidak dibuat dalam sebuah kegiatan khusus. Dengan kegiatan bermain, anak tak merasa sedang belajar. Demikian pula, orangtua dapat menurunkan ekspektasinya kepada anak karena menganggap kegiatan itu adalah bermain, bukan belajar.

Semoga bermanfaat.

 

Salam,
Aar+Lala

Tulisan menarik lainnya

About Aar

Aar senang membaca, suka menulis, berbahagia saat berbagi dan bermain bersama anak-anak. Minat utama tentang pendidikan, anak, teknologi, spiritualitas, bisnis, dan apa saja yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Buku yang telah diterbitkan "Homeschooling Lompatan Cara Belajar" (Elex Media, 2007), "Warna-warni Homeschooling" (Elex Media, 2008).

Tinggalkan komentar Anda

*

Close